Kamis, 09 Agustus 2012

Waiting to hold you - cerpen


Prolog
“Walau matamu tak mampu memandangku, ingatlah bahwa mata hatimu akan menemukan cahaya dimana kau akan melihatku. Walau kita terpisah, yakinlah bahwa naluri akan mempersatukan kita di keabadian”
Hidup adalah sebuah perjalanan, dan kita tau jalan itu berliku dan tak selalu searah. Ada kalanya aku dan dia selalu bersama, dan kini saat nya aku dan panca melangkah di jalan yang berbeda.
Jarak memang memisahkan aku dan dia, tapi satu keyakinanku! Dia akan datang padaku!
“aku akan menemui mu di danau ini, aku berjanji! Tunggulah aku disini!”
Janji itu terucap darinya saat dia akan meninggalkanku. Dia akan pindah bersama keluarganya ke perth.
“dalam hidup tak ada yang abadi, begitupun pertemuan kita. Karena semua yang di pertemukan pasti akan di pisahkan. Aku akan menunggumu disini, selalu!”
Aku pun turut mengucapkan janji, janji yang akan selalu aku pegang. Ya, walau matahari tak mampu bersinar lagi, aku akan selalu menunggu nya disini.
Tak terasa, janji itu tlah aku ucapkan 3 tahun yang lalu. Dan akan aku tepati janji itu.
Kala senja menyapa, aku menunggunya datang di danau ini. Tak perduli sentuhan dingin angin senja yang salalu membelaiku.
Harapan yang selalu ku tanamkan jauh dalam hati ini selama 3 tahun, harapan bahwa panca akan datang kembali membawa bunga eidelweiss, bunga yang selalu ia berikan kepadaku, bunga perpisahan antara aku dan panca.
Sepi yang selalu menemaniku disini, sendiri menanti sampai senja berakhir dan bulan mulai bersinar. Cahaya bulan yang memantul di air danaupun menyadarkanku. Waktunya aku untuk kembali ke rumah dan bersiap untuk menanti panca kembali senja esok.
Putus asa! Kadang aku putus asa. Meragukan apakah panca akan benar-benar datang padaku. 3 tahun tlah kulewati untuk menunggunya kembali. Tapi kemana datangnya panca saat senja bahkan tlah berganti malam?
Dan apa kalian pikir aku akan menyerah setelah putus asa? Tidak! Aku tak mungkin menyerah, aku masih mempunyai sejuta alasan untuk bertahan jika beribu sakit memojokkan ku. Karena aku akan selalu pegang janjiku, janji untuk selalu menunggunya!
“di alam semesta ini Cuma ada satu matahari, begitupun hatiku, hanya punya satu matahari, yaitu kamu. Kamu yang selalu menerangi dan mewarnai hidupku dan aku tak akan pernah melepasmu”
Kata panca sambil membelai rambutku. Aku pun mendekapnya erat, aku tak ingin sedetik pun kehilangannya.
Namun itu dulu, sebelum panca pergi. Dan kini yang ia tinggalkan hanya harapan dan luka. Kenapa kau biarkan aku menunggu dan berharap sampai selama ini panca? Aku lelah, aku sakit, aku terluka, namun rasa cintaku ini masih ingin bertahan menantimu.
Aku merindukannya, sangat! Tuhan, petemukan aku dengan panca!
Sungguh aku merindukan semua hal yang ada padanya. Belaian tangannya yang lembut, dekapan nya saat menenangkan ku, genggaman tangannya yang hangat, tawa dan candanya yang membuat dunia tersenyum. Kapan semua itu kembali tuhan?
Hari berganti, ku lalui hariku di tepi danau ini. Begitu pun senja hari ini, aku duduk sendiri menanti panca. Ku raba kursi kayu yang ku duduki, tampak sudah di tumbuhi tumbuhan lumut dan mulai terlihat rapuh, padahal kursi ini baru di buat waktu panca masih disini.
Selama itukah aku menantinya? Sampai-sampai kursi kayu ini telah rapuh. Selama itukah aku menyapa senja di tepi danau? Namun kenapa belum kulihat juga tanda ia akan kembali?
“hai, sendiri aja?”
Ku dengar suara seseorang di samping ku, aku pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang cowok telah duduk tepat di sampingku, aku pun kembali memalingkan wajahku dan menatap danau.
“kamu lagi nunggu siapa sih?” Tanya nya lagi, namun aku tetap diam.
“aku lazu. Nama kamu siapa?”
Kata nya lagi sambil mengulurkan tangan. Aku melihat sejenak ke arahnya lalu kembali memalingkan wajahku ke arah danau tanpa membalas jabatan tangannya.
“utami” jawabku singkat tanpa menoleh kearahnya.
“nama yang bagus” katanya lagi.
Namun lagi-lagi aku hanya diam tanpa menatapnya. Dia lalu berusaha mengajakku berbicara namun aku tetap diam dan terus menatap danau.
Tanpa sadar, senja tlah kembali tiba. Aku menghela nafasku berat, rasa kecewa yang lagi-lagi ku rasakan.
“dia ga dateng hari ini ya?” desahku pelan. Namun lazu yang sedari tadi masih di sampingku mendengarnya. Namun dia urung berbicara.
Aku lalu berdiri dan beranjak pergi.
“kamu mau kemana?” Tanya lazu sambil mencegah tanganku
“pulang” kataku sambil menepis tangannya.
“tapi kan yang kamu tunggu belum datang?” dia bertanya lagi.
“dia tak datang hari ini”
“bagaimana kamu bisa yakin dia tak datang hari ini? Mungkin saja dia sebentar lagi akan datang”
“kamu tak tahu apa-apa!” jawabku sambil menatapnya tajam. Lazu terdiam.
Lalu aku melangkahkan kaki ku dan meninggalkan lazu yang masih mematung di tempatnya menatap kepergianku.
Mulai hari itu, lazu selalu datang ke danau dan menemaniku. Walaupun aku lebih sering diam dan tak berbicara padanya, namun ia tetap saja bersamaku dan enggan untuk pergi.
Lama kelamaan, aku mulai merasa nyaman dengannya. Aku menjadi lebih sering berbincang-bincang dengannya.
Dan setiap senja berakhir, dia selalu menanyakan satu pertanyaan yang sama.
“siapakah orang yang kamu tunggu?”
Dan aku selalu tak menjawab pertanyaannya.
Seperti biasa, hari ini aku menunggunya di danau. Walau hati ini lelah, tapi aku yakin dia pasti datang dan menepati janjinya. Tanpa ku sadari, lazu tlah berada disampingku dan menatapku dengan tatapan miris. Mungkin dia membaca gurat kesedihan di wajahku.
“aku masih mengajukan pertanyaan yang sama, siapakah orang yang kamu tunggu?” katanya dengan hati-hati, mungkin ia takut menyinggung perasaanku.
Aku terdiam, tak ada sepatah katapun yang ku ucapkan.
”dari awal aku melihatmu, aku tlah merasakan ada sesuatu yang harus aku ungkap darimu, ada sesuatu yang membuatku tertarik padamu, ada sesuatu hal yang menarik perhatianku….”
“aku tlah bertanya pada orang-orang tentangmu. Dan mereka bilang, kau tlah berada di danau ini setiap senja sejak 3 tahun lalu. Kau tau, aku sangat terkejut mendengar itu. Tak ku kira kau melakukan hal itu selama itu. Dan aku……” katanya terputus dan hati-hati
“aku ingin tau, siapakah yang kamu tunggu? Begitu berartikah dia hingga membatmu menunggu selama itu?” kata-katanya pun berakhir.
Aku tertunduk, cairan bening mulai menetes di pipiku. Dia yang melihatku menangis menjadi cemas.
“maaf, jika pertanyaan ku membuat menangis. Maafkan aku, aku tak akan lagi menanyakan hal itu” katanya penuh penyesalan.
“lama aku menantinya……”
Aku mulai berbicara
“letih, aku akui aku sangat letih. Menantinya datang. Namun aku selalu menaruh keyakinan bahwa ia pasti datang. Namun rasa kecewa selalu menghampiriku saat senja tlah berakhir dan aku tau, dia tak datang”
Lazu terdiam dan menyimak ceritaku.
“panca… dia adalah lelaki yang sangat aku cintai. Namun ia pergi, meninggalkan aku. Dia berjanji akan menemuiku disini, di danau ini, saat senja tiba. Saat dimana dia meninggalkanku, disaat senja”
Tangisku mulai memecah, semua ingatan tentang panca membuat aku rapuh, membuat aku tak sanggup menahan air mata ini, menahan semua rasa sakit karena penantian ini.
“sejak saat itu, aku selalu menunggunya kala senja datang. Karena aku yakin, dia akan menepati janjinya, janji untuk menemuiku di danau ini. Namun telah 3 tahun aku menantinya, 3 tahun aku menunggunya, 3 tahun aku berharap, ia belum juga datang”
“Apa menurut kamu aku bodoh? Apa menurut kamu aku terlalu tolol karena melakukan semua ini?” kataku setengah berteriak. Semua emosi yang selama ini terpendam meluap begitu saja.
Lazu memelukku lembut, sementara aku terus terisak dalam dekapannya. Dekap nya yang hangat membuat aku merasa lebih tenang.
“kamu sama sekali ga bodoh ut, itulah yang dinamakan cinta sejati. Justru dialah yang bodoh karena membiarkanmu menunggu”
Kata lazu, ia pasti berusaha menenangkan aku, dan nyatanya aku memang menjadi lebih tenang dalam peluknya. Aku lalu melepaskan pelukan lazu dan menatapnya lembut.
“makasih ya, kamu udah mau dengerin cerita aku dan tenangin aku” katau mencoba tersenyum.
Ia lalu tersenyum manis lalu mengangguk
“aku akan selalu ada buat kamu” katanya lembut sambil menatap mataku.
Aku kembali merasakan ketenangan saat ia menatapku, tatapan matanya mampu sedikit banyak mengobati rasa letih dan kecewaku karena menunggu panca.
Suatu senja, saat aku masih menunggu panca di danau, aku merasakan hal yang aneh pada diriku. Timbul bercak-bercak merah di tubuhku. Bercak nya memang tak tampak jelas, namun aku bingung apa mungkin aku terkena campak? Tubuhku terasa lemas dan tak bisa bergerak. Semua organ tubuhku terasa begitu sakit. Tuhan… ada apa ini?
Sekuat tenaga aku berusaha menahan rasa sakitnya dan berusaha pulang ke rumah. Kebetulan lazu belum datang, dan aku juga tak ingin dia mengetahui kondisiku yang sekarang.
Keesokan harinya, aku putuskan untuk check up ke dokter. Aneh, dokter menyarankan aku untuk di scan. Apakah penyakitku separah itu? Hatiku mulai berkecamuk.
“kami belum bisa mendeteksi sakit yang anda derita, makanya kami sarankan untuk melakukan scan. Bila perlu sekarang juga” kata dokter syifa. Dokter yang memeriksaku.
Karena cemas, aku pun menurutinya dan melakukan scan saat itu juga. Hasil dari scan itu bisa di ambil besok. Aku pun segera keluar dari rumah sakit dan menuju danau. Sekarang pukul 17.00, aku harus segera berada di danau. Aku tak mau jika melewatkan sehari tanpa menunggunya.
Dengan tergesa, aku segera menuju danau. Dan tak lama aku pun sampai disana. Ku lihat lazu sudah berada di tempat biasa aku duduk. Aku pun duduk di sampingnya.
“tumben kamu telat datang?” Tanya lazu heran.
Ya, aku memang biasanya datang tepat pukul 16.00.  Baru kali ini aku datang terlambat sampai 1 jam, dan ternyata lazu telah hafal jadwal kedatanganku.
“aku ada keperluan tadi” kataku mengelak. Aku tak ingin memberitahukannya bahwa aku check up ke dokter sebelum kesini.
Tiba-tiba, tubuhku kembali terasa lemah, semua anggota tubuhku seperti mati rasa. Tuhan, ada apa lagi ini? Tahan ut, kamu harus kuat. Kamu ga boleh nunjukin rasa sakit ini di depan lazu.
“aaarrgggghh………” rintihku pelan sambil menahan sakit yang teramat sangat
Lazu mendengar rintihan ku, dia menatapku dengan cemas.
“kamu kenapa?” tanyanya panik dan penuh kekhawatiran.
“aku ga kenapa-napa” jawabku berbohong
“bener?” Tanya nya lagi
“iya, aku Cuma sedikit kurang enak badan” kataku berusaha mengelabuinya.
“kita pulang ya…” kata lazu hendak memapahku. Namun aku segera menolak.
“aku akan tetap disini, sampai senja berakhir!” tegasku
“tapi kamu sakit ut” kata lazu dengan penuh kekhawatiran. Dia terlihat begitu cemas
“aku gak akan pergi” aku memberi penekanan pada kata-kataku.
Lazu pun mengalah, dan membiarkan aku menunggu senja sambil terus menemaniku. Akhirnya senja pun berakhir, aku hendak beranjak pergi namun lazu mencegah tanganku.
“biarin aku anterin kamu pulang…” katanya cemas.
Karena lemas, aku hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lazu lalu memapahku dan mengantarkanku pulang ke rumah.
Keesokan harinya, saat aku tengah menyisir rambutku. Aku menemukan banyak sekali rambutku yang terbawa sisir. Rambutku rontok, namun banyak sekali. Kenapa lagi ini? Rambutku tak pernah rontok separah ini?
Aku pun teringat sesuatu, hari ini aku harus mengambil hasil dari city scan yang aku lakukan kemarin.
Setelah sampai di rumah sakit, aku langsung menuju ke ruangan Dr. syifa. Aku memasuki ruangannya dengan perlahan, aku takut hasil yang aku dapatkan tidak terlalu baik.
Dr. syifa memberikanku sebuah map yang di dalamnya terdapat hasil scan. Aku membukanya dan mencoba memahami isinya. Aku mengernyitkan dahiku tanda aku bingung dan tak mengerti.
“Arthithis Rheumatoid…” kataku dengan penuh kebingungan. Aku menemukan kata-kata itu di result pemeriksaan ku. Namun aku tak mengerti artinya.
“iya… kamu trekena arthithis rheumatoid” kata dokter syifa menjawab tanyaku. Aku semakin bingung dan terdiam.
“saya harap kamu bisa tenang mendengarkan penjelasan saya” kata dokter syifa yang seolah mengerti bahwa aku tengah kebingungan.
“arthithis rheumatoid atau yang biasa disebut lupus adalah suatu penyakit yang sampai saat ini belum diketahui sebabnya. Dalam kasus ini, penderita mengalami gangguan autoimun. Yaitu, imun yang seharusnya menjaga organ-organ tubuh malah mendeteksi organ-organ tubuh sebagai musuh. Sehingga imun justru menyerangnya”
Aku menelan ludahku mendengar penjelasan dokter syifa, aku belum mampu memberikan sanggahan atau pertanyaan.
“lama-kelamaan, organ tubuh akan menjadi rusak dan tak berfungsi. Sampai saat ini belum ada yang berhasil menemui obatnya. Kami para dokter hanya mampu mengurangi rasa sakit yang di alami. Dan penyakit ini, bisa menyebabkan kematian…” dokter syifa mengakhiri penjelasannya
Jantungku bagaikan berhenti berdetak. Bagaimana mungkin aku bisa mengidap penyakit yang mengerikan ini? Aku tak tau lagi apa yang harus aku katakana. Air mataku menetes begitu saja.
“lalu apa yang harus saya lakukan dok?” akhirnya aku membuka mulut
“kamu harus menjalani terapi. Namun terapi ini tidak bisa mnyembuhkan, tapi untuk meredam rasa sakit yang kamu rasakan dan terapi ini juga untuk memperlambat imun yang menyerang organ tubuh”
Aku hanya mampu menunduk lalu mengangguk lemah. Dengan sisa tenaga yang aku miliki aku meninggalkan rumah sakit dan menuju danau.
Aku menangis sejadi-jadinya di danau. Ku benamkan mataku di kedua telapak tanganku. Ku lihat kembali map yang ku bawa dari rumah sakit.
Dengan tatapan tak percaya aku menaruh map itu di atas kursi. Tuhan… apakah ini nyata? Apa aku benar-benar mengidap penyakit mematikan itu? Kenapa ini semua harus terjadi padaku?
Aku terus menangis. Tak ku kira senja sebentar lagi akan datang. Ingatanku langsung tertuju pada panca.
Tuhan, kenapa dia tak juga datang? Apakah dia tau bahwa aku mungkin tak mampu lagi menunggunya? Apakah dia akan datang sebelum aku pergi?
“aaarrghh……” rasa sakit itu kembali datang.
Kenapa sakit ini selalu datang? Tuhan, hentikan semua ini. Ku mohon…
Rintihku dalam hati, tiba-tiba saja pandanganku memudar. Kepalaku terasa begitu sakit. Dan tak lama, semuanya menjagi gelap. Dan aku tak merasakan apa-apa lagi.
Aku membuka mataku perlahan, dengan samar aku melihat di sekelilingku. Aku kaget mendapati lazu yang tengah duduk di samping tempat tidur ku. Aku pun mengamati betul-betul tempat ini.
Ternyata aku telah berada di kamarku. Bagaimana aku bisa sampai disini? Seingatku, aku berada di taman saat pingsan. Apakah lazu yang membawaku pulang?
Lazu yang mengetahui aku tlah siuman menatapku, namun kali ini ia menatapku tajam. Seolah aku mempunyai kesalahan besar padanya. Aku menatapnya bingung.
“kenapa kamu ga cerita ke aku ut?” Tanya nya. Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.
“kenapa kamu menutupi hal ini?” Tanya nya lagi. Aku semakin tak mengerti.
“maksud kamu apa zu?” tanyaku bingung.
“apa maksud dari ini ut?” kata lazu sambil menunjukkan sebuah map.
Aku tersentak, bukankah itu adalah map yang berisi hasil scan ku. Jadi lazu sudah mengetahui semuanya. Aku pun menghela nafas panjang.
“bahkan aku sendiri gak ngerti apa maksud dari hasil scan itu? Aku sendiri gak ngerti kenapa penyakit mengerikan ini bisa bersarang di tubuhku? Kenapa semua ini terjadi padaku?” kataku tertahan.
Aku menangis terisak, lazu mulai menyeka air mataku dan menatapku lembut.
“apapun yang terjadi, kamu harus kuat. Kamu harus bertahan, kamu harus bisa ngelawan penyakit itu. Aku akan selalu ada untuk kamu” kata lazu lembut
Aku tersenyum, disaat aku lemah seperti ini, aku bersyukur masih ada orang yang tulus membantuku dan menemaniku, seperti lazu.
2 bulan telah berlalu semenjak kejadian aku pingsan di taman itu. Lazu selalu menjagaku dan menemani aku terapi. Namun, walaupun aku tengah sakit, aku tak pernah berhenti menunggu panca di danau.
Aku takut, aku takut saat aku tak menunggunya, dia datang dan aku tak sempat menemuinya. Untuk itu, aku tak pernah berhenti menunggunya, walaupun aku tau keadaanku tak mendukung semua yang ku lakukan.
Senja datang kembali, sejenak ku lihat lazu yang dengan setia menemaniku menunggu di danau ini. Ya, senja kembali berakhir. Namun panca masih belum kembali, aku tak akan jera menunggu sampai kau kembali!
“dia belum juga datang…” kataku lirih dengan penuh kekecewaan
“mungkin esok hari…” kata lazu berusaha memberiku harapan.
Aku menghela nafas panjang, aku harus lebih sabar lagi menunggunya.
Tiba-tiba aku merasa nafasku sesak, nyeri sekali. Aku mencoba mengambil nafas dalam-dalam, namun itu membuat dada ku semakin sesak. Tuhan, apakah ini karena sakit yang ku derita?
“kamu kenapa?” Tanya lazu yang melihatku kesakitan
“nafasku sesak…” kataku pelan
Semakin lama aku semakin sulit untuk bernafas. Lazu yang cemas langsung membawaku ke rumah sakit.
“keadaan nya semakin memburuk, paru-parunya telah di serang dan ini yang membuat dia sesak nafas. Akibatnya, fungsi paru-parunya semakin memburuk”
aku menghela nafasku mendengar perkataan dokter. Lazu menggenggam tanganku erat dan berusaha menguatkanku.
“lalu, apa yang harus saya lakukan dok.?”
“maaf, saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyembuhkan kamu karena lupus itu belum ada obatnya. Saya hanya bisa menyarankan kamu agar terus melakukan terapi agar keadaan mu tidak semakin parah”
Ku benamkan wajahku di telapak tanganku. Air mataku menyapu wajahku yang pucat. Separah itukah aku? Tak bisakah aku sembuh? Mungkinkah aku dapat bertemu dengan panca sebelum waktuku habis?
Berbagai pertanyaan dan kegelisahan terus menerus hinggap dalam fikiranku. Aku bukannya takut untuk mati, aku hanya takut mati sebelum bertemu dengan panca.
Hari-hariku terasa begitu berat, segala harapan dan penantian ku selama ini menguap memberikan sebuah tekanan yang teramat sangat besar. Tekanan yang membuat penyakit ini semakin hari semakin parah.
Kali ini ginjalku yang dirusaknya. Tak puaskah ia merusak paru-paruku hingga aku sulit untuk bernafas? Sekarang dengan kejamnya ia merusak ginjalku dan membuat aku terus-menerus merasakan kesakitan di bagian perutku.
Sungguh aku lelah, rasanya aku lebih baik mati saja dari pada harus merasakan ini semua. Tapi aku tak boleh mati terlebih dahulu, aku belum bertemu panca, aku harus bertemu dengannya!
Bangku taman senja ini begitu lengang, hanya beberapa orang yang tampak disekitar danau, yang bisa ku dengar hanya semilir angin dan gemercik angin yang menggelitik hatiku. Hembusan angin terasa begitu dingin, tapi aku tak bergeming dari tempat duduk ku.
“kamu kedinginan ya, sini aku peluk!!”
Tiba-tiba saja aku mendengar suara panca, aku menoleh ke samping dengan tergesa dan mendapati siluet panca duduk disampingku. Dia membuka tangan nya dan hendak merengkuh ku. Aku pun mendekat kearahnya dan ingin memeluknya. Tapi… aku hanya memeluk udara bebas. Panca tak ada disana, ini semua hanya hayalanku.
Rasanya seperti jatuh dari ketinggian, semua harapan yang ku buat dan ku jaga hancur berkeping-keping. Rasa sakit dan sesak menjalari seluruh tubuhku, dan menyiksaku. Lalu, bayangan-bayangan tentang panca terlintas di retina mataku.
**
“kamu tau gak, apa yang aku selalu nantikan setiap hari?” Tanya panca sambil menatap matahari senja dan merengkuhku.
Aku menatap wajahnya bingung, “memangnya apa?”
“aku selalu menanti saat-saat dimana aku bersamamu, saat diamana aku dapat menatap wajahmu, saat dimana aku dapat melindungimu dari rasa dingin dalam rengkuhanku. Saat dimana aku dapat menatap matamu yang teduh”
Hatiku terasa dibanjiri oleh berbagai rasa, bahagia, haru, tersanjung dan lainnya. Aku mempererat pelukanku dan seketika rasa hangat menjalari seluruh tubuhku. Inilah alasan mengapa aku sangat nyaman berada dalam pelukan panca, pelukannya terasa begitu hangat, aku pun memejamkan mataku.
Sesuatu yang lembut terasa menyentuh dahi ku, lalu bergerak turun dari pangkal hidung ku, lalu berhenti tepat di bibirku. Aku membuka mataku, dan hal pertama yang aku lihat adalah mata panca yang tengah menatapku seakan berbicara. Bibirnya kini terpaut di bibirku.
**
Aku tersadar dari lamunanku saat lazu datang dan duduk di sampingku. Tuhan, ingatan tentang panca membuat aku semakin merindukannya. Aku rindu pelukannya, genggaman tangannya dan… ciumannya. Sampai kapan aku harus menunggumu panca? Aku takut… aku takut wakttu ku tak cukup untuk menunggumu datang.
“kamu pernah mikirin sesuatu ga??” Tanya lazu memecah keheningan
“apa?” tanyaku
“bagaimana jika panca tak akan pernah kembali? Bagaimana jika semua penantianmu dan harapan kamu sia-sia? Bagaimana jika panca tak menepati janjinya?”
Aku meoleh kea rah lazu dan mentapnya tajam “panca pasti datang!!”
Lazu tak bergeming melihat reaksiku yang tegang. Semua rasa bercampur aduk di hatiku. Bagaimana mungkin lazu mempertanyakan pertanyaan yang aku sendiri tlah kubur dalam-dalam dari ingatanku. Kenapa dia menanyakan hal, yang aku sendiri sering takut jika membayangkan itu terjadi?
Hening kemudian… tak ada yang bersuara di antara kami. Aku masih larut dalam ketakutan-ketakutan yang diciptakan olehnya.
“aku sayang kamu ut…” kata lzu seraya meraih tanganku
Aku terkejut dan menoleh kearahnya, menatapnya tak percaya
“aku bersungguh-sungguh, aku mencintai kamu ut!!” katanya menatapku tajam
Aku langsung melepaskan genggaman tangannya dan mengalihkan pandangan.
“di hatiku, hanya ada panca!!” kataku tegas. Aku tak ingin memberi sedikitpun harapan pada lazu. Aku tak ingin membuat dia berharap.
“aku tau itu, dan aku tak meminta kamu untuk melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Aku hanya ingin, kamu izinkan aku untuk menjagamu, dan terus bersamamu”
Aku menatap nya, dari sorot matanya, aku tau dia berkata tulus. Aku pun mengangguk dan tersenyum simpul. Terlihat sorot kelegaan dari mata lazu.
Tes, cairan pekat menetes di tangan ku. Uhh, aku benci hal ini. Aku segera meraba hidungku, dan benar saja, cairan pekat itu sudah mengotori hidungku dan sebagian kecil wajahku. Lazu yang melihat aku kembali mimisan langsung terlihat panic dan mengambil tissue.
“kita pulang yah!!” katanya panic
Aku menggeleng pelan sementara lazu mencoba menghentikan darah yang terus menetes dari hidungku. “Cuma mimisan kok!!” kata ku berusaha membuatnya tenang. Aku tak apa-apa lazu!
Tapi semuanya gak seperti yang ku harapkan, keadaan tubuhku semakin parah, nafasku tiba-tiba terasa sesak. Dengan susah payah aku berusaha mengatur nafasku. Namun gagal!
Kepalaku tiba-tiba terasa sangat berat, aku menggapai lengan lazu dan berusaha menyeimbangkan diri agar tak terjatuh. Tuhan, kenapa ini terjadi lagi??
“kita pulang ya, please!!” lazu mulai terlihat panic karena keadaan ku.
Aku menggeleng pelan, “aku mau tetep nunggu panca!” kata ku tegas.
“tapi keadaan kamu gak memungkinkan. Please, kita pulang!” lazu kembali membujukku. Namun aku menggeleng pasti, aku tak akan beranjak dari danau ini.
Namun tiba-tiba perutku terasa begitu sakit, dan menanmbah penderitaan ku saat ini. Tuhan, aku rela jika kau mengambilku saat ini. Tapi aku mohon, sebelum itu terjadi pertemukan aku terlebih dahulu dengan panca!!
“kita harus pulang!!” lazu hendak membopong tubuhku, tapi aku segera memberontak.
“ENGGA!!!” kataku setengah berteriak, lalu lazu menatapku dengan tatapan kemarahan.
“percuma kamu nungguin panca ut, dia gak akan pernah datang. Dia gak akan pernah tepatin janjinya ke kamu!!!” kata lazu dengan luapan emosi
Aku terhenyak, dari mana lazu mendapatkan argument itu? Tak tahukah dia, aku sangat membenci argument itu!
“panca akan datang! Dia akan menepati janjinya! Kamu jangan sok tahu! Tahu apa kamu tentang panca?” emosi ku pun ikut meluap
“aku tahu segalanya. Aku tahu segala sesuatu yang bahkan kamu gak tahu! Please, kita pulang!!” nada suaranya merendah, aku tau, dia hanya ingin menjaga kembali emosiku.
“aku akan tetap disini!!” aku kembali menegaskan. Namun rupanya perkataan ku membuat emosinya kembali meluap.
“Panca gak akan dateng ut, dia gak akan pernah dateng, karena dia udah meninggal!”
Emosi ku memuncak, tanpa sadar aku menampar lazu dan menatapnya penuh kemarahan. “apa maksud kamu?”
“ya, aku tak berbohong ut. Percuma kamu menunggunya, karena… karena dia sudah meninggal..!” kata lzu terbata
“kamu bohong. Bagaimana kamu bisa mengatakan panca sudah meninggal sementara kamu tidak mengenalnya!” aku masih mencoba menyangkal. Tidak… ini tidak benar!!
“aku mengenalnya ut, jauh sebelum kamu mengenalnya. Karena aku, adik panca”
“apa lagi ini? Kebohongan apa lagi yang akan kamu katakana?” aku terus mencoba menyangkal. Aku tak mengerti apa maksud dari semua perkataan lazu.
“aku tak berbohong, sungguh. Dialah yang memintaku untuk menjagamu, menemanimu, dan mencintaimu sebelum dia meninggal. Dia telah pergi…”
“tolong jelaskan semua ini, aku tak mengerti!”
“panca sakit ut, kanker otak. Dia divonis dokter tidak bisa hidup lama. Dan itu benar. 5 bulan setelah vonis dokter, dia pergi. Dan satu-satunya yang dia khawatirkan sebelum pergi adalah, kamu. Dia takut, tak ada yang menjagamu setelah dia pergi. Untuk itu, dia mengirim aku, untukmu. Percayalah, dia ingin kamu bahagia, walau tanpanya…”
Air mataku tumpah. Tuhan, mengapa ini semua terjadi padaku.!
Panca, mengapa tak kau tepati janjimu? Mengapa kau tega meninggalkan aku? Mengapa kau tega membuat aku menunggu terlalu lama untuk ke sia-siaan? Mengapa? Mengapa kau membiarkan aku sendiri dengan penyakit ini? Aku hanya ingin bersamamu, sebelum lupus ini membuatku pergi. Tapi nyatanya, kau telah pergi mendahului aku.
Tiba-tiba saja kepalaku terasa begitu berat, pandangan mataku memudar, rasa sakit langsung menjalari seluruh tubuhku, nafasku sesak dan berat. Tuhan, inikah akhir dari penantianku.
“ut, kamu kenapa? Bertahanlah.”
Dengan pendengaranku yang mulai tak tajam aku mendengar suara lazu dan tangisannya, dan akhirnya, semuanya gelap.
Aku terjaga dari tidur panjangku, rasanya begitu lama aku tertidur. Aku melihat sekelilingku, dan aku terkejut. Ku lihat panca telah duduk disampingku dengan baju putih bersihnya dan menatapku dengan mata teduh nya. Aku langsung menghambur kedalam pelukkannya.
“aku kangen banget sama kamu!” ucapku
“aku juga” kata panca seraya membalas memelukku
“kita pergi ya, ini bukan tempat kita lagi” lanjut panca
Aku melepas pelukkannya dan menatapnya bingung, “pergi??”
“iya..!” panca mengangguk. Lalu ia menunjuk sebuah ranjang rumah sakit yang di atasnya terbaring tubuh perempuan.
Aku pun mengikuti telunjuknya dan memperhatikan tubuh itu. Aku tersentak, itu aku. Jadi sebenarnya, aku telah meninggal? Aku telah menyusul panca? Aku melihat lazu dan kedua orang tuaku menangis tersedu di samping jasadku. Lalu aku menatap panca sedih.
“lalu mereka bagaimana?” tanyaku sambil kembali menatap lazu dan kedua orang tuaku.
Panca tersenyum, “mereka akan selalu bahagia, mereka akan bahagia hidup bersamamu dalam ingatan mereka. Dunia kita telah berbeda, mereka akan bahagia di dunianya.”
“ayo, kita pergi” lanjut panca. Aku tersenyum, lalu mengangguk.
Panca menggandeng tangan ku dan mengajakku pergi. Lalu muncul sebuah cahaya putih yang terang, dan kami menghilang di dalamnya.
~True love is not be happy ending, but true love is doesn,t have an ending”
~END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar