Prolog
“Walau matamu tak
mampu memandangku, ingatlah bahwa mata hatimu akan menemukan cahaya dimana kau
akan melihatku. Walau kita terpisah, yakinlah bahwa naluri akan mempersatukan
kita di keabadian”
Hidup adalah sebuah perjalanan, dan kita
tau jalan itu berliku dan tak selalu searah. Ada kalanya aku dan dia selalu
bersama, dan kini saat nya aku dan panca melangkah di jalan yang berbeda.
Jarak memang memisahkan aku dan dia, tapi
satu keyakinanku! Dia akan datang padaku!
“aku akan menemui mu di danau ini, aku
berjanji! Tunggulah aku disini!”
Janji itu terucap darinya saat dia akan
meninggalkanku. Dia akan pindah bersama keluarganya ke perth.
“dalam hidup tak ada yang abadi, begitupun
pertemuan kita. Karena semua yang di pertemukan pasti akan di pisahkan. Aku
akan menunggumu disini, selalu!”
Aku pun turut mengucapkan janji, janji
yang akan selalu aku pegang. Ya, walau matahari tak mampu bersinar lagi, aku
akan selalu menunggu nya disini.
Tak terasa, janji itu tlah aku ucapkan 3
tahun yang lalu. Dan akan aku tepati janji itu.
Kala senja menyapa, aku menunggunya datang
di danau ini. Tak perduli sentuhan dingin angin senja yang salalu membelaiku.
Harapan yang selalu ku tanamkan jauh dalam
hati ini selama 3 tahun, harapan bahwa panca akan datang kembali membawa bunga
eidelweiss, bunga yang selalu ia berikan kepadaku, bunga perpisahan antara aku
dan panca.
Sepi yang selalu menemaniku disini,
sendiri menanti sampai senja berakhir dan bulan mulai bersinar. Cahaya bulan
yang memantul di air danaupun menyadarkanku. Waktunya aku untuk kembali ke
rumah dan bersiap untuk menanti panca kembali senja esok.
Putus asa! Kadang aku putus asa. Meragukan
apakah panca akan benar-benar datang padaku. 3 tahun tlah kulewati untuk
menunggunya kembali. Tapi kemana datangnya panca saat senja bahkan tlah
berganti malam?
Dan apa kalian pikir aku akan menyerah
setelah putus asa? Tidak! Aku tak mungkin menyerah, aku masih mempunyai sejuta
alasan untuk bertahan jika beribu sakit memojokkan ku. Karena aku akan selalu
pegang janjiku, janji untuk selalu menunggunya!
“di alam semesta ini Cuma ada satu
matahari, begitupun hatiku, hanya punya satu matahari, yaitu kamu. Kamu yang
selalu menerangi dan mewarnai hidupku dan aku tak akan pernah melepasmu”
Kata panca sambil membelai rambutku. Aku
pun mendekapnya erat, aku tak ingin sedetik pun kehilangannya.
Namun itu dulu, sebelum panca pergi. Dan
kini yang ia tinggalkan hanya harapan dan luka. Kenapa kau biarkan aku menunggu
dan berharap sampai selama ini panca? Aku lelah, aku sakit, aku terluka, namun
rasa cintaku ini masih ingin bertahan menantimu.
Aku merindukannya, sangat! Tuhan,
petemukan aku dengan panca!
Sungguh aku merindukan semua hal yang ada
padanya. Belaian tangannya yang lembut, dekapan nya saat menenangkan ku,
genggaman tangannya yang hangat, tawa dan candanya yang membuat dunia
tersenyum. Kapan semua itu kembali tuhan?
Hari berganti, ku lalui hariku di tepi
danau ini. Begitu pun senja hari ini, aku duduk sendiri menanti panca. Ku raba
kursi kayu yang ku duduki, tampak sudah di tumbuhi tumbuhan lumut dan mulai
terlihat rapuh, padahal kursi ini baru di buat waktu panca masih disini.
Selama itukah aku menantinya?
Sampai-sampai kursi kayu ini telah rapuh. Selama itukah aku menyapa senja di
tepi danau? Namun kenapa belum kulihat juga tanda ia akan kembali?
“hai, sendiri aja?”
Ku dengar suara seseorang di samping ku,
aku pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang cowok telah duduk tepat di
sampingku, aku pun kembali memalingkan wajahku dan menatap danau.
“kamu lagi nunggu siapa sih?” Tanya nya
lagi, namun aku tetap diam.
“aku lazu. Nama kamu siapa?”
Kata nya lagi sambil mengulurkan tangan.
Aku melihat sejenak ke arahnya lalu kembali memalingkan wajahku ke arah danau
tanpa membalas jabatan tangannya.
“utami” jawabku singkat tanpa menoleh
kearahnya.
“nama yang bagus” katanya lagi.
Namun lagi-lagi aku hanya diam tanpa
menatapnya. Dia lalu berusaha mengajakku berbicara namun aku tetap diam dan
terus menatap danau.
Tanpa sadar, senja tlah kembali tiba. Aku
menghela nafasku berat, rasa kecewa yang lagi-lagi ku rasakan.
“dia ga dateng hari ini ya?” desahku
pelan. Namun lazu yang sedari tadi masih di sampingku mendengarnya. Namun dia
urung berbicara.
Aku lalu berdiri dan beranjak pergi.
“kamu mau kemana?” Tanya lazu sambil
mencegah tanganku
“pulang” kataku sambil menepis tangannya.
“tapi kan yang kamu tunggu belum datang?”
dia bertanya lagi.
“dia tak datang hari ini”
“bagaimana kamu bisa yakin dia tak datang
hari ini? Mungkin saja dia sebentar lagi akan datang”
“kamu tak tahu apa-apa!” jawabku sambil
menatapnya tajam. Lazu terdiam.
Lalu aku melangkahkan kaki ku dan
meninggalkan lazu yang masih mematung di tempatnya menatap kepergianku.
Mulai hari itu, lazu selalu datang ke
danau dan menemaniku. Walaupun aku lebih sering diam dan tak berbicara padanya,
namun ia tetap saja bersamaku dan enggan untuk pergi.
Lama kelamaan, aku mulai merasa nyaman
dengannya. Aku menjadi lebih sering berbincang-bincang dengannya.
Dan setiap senja berakhir, dia selalu
menanyakan satu pertanyaan yang sama.
“siapakah orang yang kamu tunggu?”
Dan aku selalu tak menjawab pertanyaannya.
Seperti biasa, hari ini aku menunggunya di
danau. Walau hati ini lelah, tapi aku yakin dia pasti datang dan menepati
janjinya. Tanpa ku sadari, lazu tlah berada disampingku dan menatapku dengan
tatapan miris. Mungkin dia membaca gurat kesedihan di wajahku.
“aku masih mengajukan pertanyaan yang
sama, siapakah orang yang kamu tunggu?” katanya dengan hati-hati, mungkin ia
takut menyinggung perasaanku.
Aku terdiam, tak ada sepatah katapun yang
ku ucapkan.
”dari awal aku melihatmu, aku tlah
merasakan ada sesuatu yang harus aku ungkap darimu, ada sesuatu yang membuatku
tertarik padamu, ada sesuatu hal yang menarik perhatianku….”
“aku tlah bertanya pada orang-orang
tentangmu. Dan mereka bilang, kau tlah berada di danau ini setiap senja sejak 3
tahun lalu. Kau tau, aku sangat terkejut mendengar itu. Tak ku kira kau
melakukan hal itu selama itu. Dan aku……” katanya terputus dan hati-hati
“aku ingin tau, siapakah yang kamu tunggu?
Begitu berartikah dia hingga membatmu menunggu selama itu?” kata-katanya pun
berakhir.
Aku tertunduk, cairan bening mulai menetes
di pipiku. Dia yang melihatku menangis menjadi cemas.
“maaf, jika pertanyaan ku membuat menangis.
Maafkan aku, aku tak akan lagi menanyakan hal itu” katanya penuh penyesalan.
“lama aku menantinya……”
Aku mulai berbicara
“letih, aku akui aku sangat letih.
Menantinya datang. Namun aku selalu menaruh keyakinan bahwa ia pasti datang.
Namun rasa kecewa selalu menghampiriku saat senja tlah berakhir dan aku tau,
dia tak datang”
Lazu terdiam dan menyimak ceritaku.
“panca… dia adalah lelaki yang sangat aku
cintai. Namun ia pergi, meninggalkan aku. Dia berjanji akan menemuiku disini,
di danau ini, saat senja tiba. Saat dimana dia meninggalkanku, disaat senja”
Tangisku mulai memecah, semua ingatan
tentang panca membuat aku rapuh, membuat aku tak sanggup menahan air mata ini,
menahan semua rasa sakit karena penantian ini.
“sejak saat itu, aku selalu menunggunya
kala senja datang. Karena aku yakin, dia akan menepati janjinya, janji untuk
menemuiku di danau ini. Namun telah 3 tahun aku menantinya, 3 tahun aku
menunggunya, 3 tahun aku berharap, ia belum juga datang”
“Apa menurut kamu aku bodoh? Apa menurut
kamu aku terlalu tolol karena melakukan semua ini?” kataku setengah berteriak.
Semua emosi yang selama ini terpendam meluap begitu saja.
Lazu memelukku lembut, sementara aku terus
terisak dalam dekapannya. Dekap nya yang hangat membuat aku merasa lebih
tenang.
“kamu sama sekali ga bodoh ut, itulah yang
dinamakan cinta sejati. Justru dialah yang bodoh karena membiarkanmu menunggu”
Kata lazu, ia pasti berusaha menenangkan
aku, dan nyatanya aku memang menjadi lebih tenang dalam peluknya. Aku lalu
melepaskan pelukan lazu dan menatapnya lembut.
“makasih ya, kamu udah mau dengerin cerita
aku dan tenangin aku” katau mencoba tersenyum.
Ia lalu tersenyum manis lalu mengangguk
“aku akan selalu ada buat kamu” katanya
lembut sambil menatap mataku.
Aku kembali merasakan ketenangan saat ia
menatapku, tatapan matanya mampu sedikit banyak mengobati rasa letih dan
kecewaku karena menunggu panca.
Suatu senja, saat aku masih menunggu panca
di danau, aku merasakan hal yang aneh pada diriku. Timbul bercak-bercak merah
di tubuhku. Bercak nya memang tak tampak jelas, namun aku bingung apa mungkin
aku terkena campak? Tubuhku terasa lemas dan tak bisa bergerak. Semua organ
tubuhku terasa begitu sakit. Tuhan… ada apa ini?
Sekuat tenaga aku berusaha menahan rasa
sakitnya dan berusaha pulang ke rumah. Kebetulan lazu belum datang, dan aku
juga tak ingin dia mengetahui kondisiku yang sekarang.
Keesokan harinya, aku putuskan untuk check
up ke dokter. Aneh, dokter menyarankan aku untuk di scan. Apakah penyakitku
separah itu? Hatiku mulai berkecamuk.
“kami belum bisa mendeteksi sakit yang
anda derita, makanya kami sarankan untuk melakukan scan. Bila perlu sekarang
juga” kata dokter syifa. Dokter yang memeriksaku.
Karena cemas, aku pun menurutinya dan
melakukan scan saat itu juga. Hasil dari scan itu bisa di ambil besok. Aku pun
segera keluar dari rumah sakit dan menuju danau. Sekarang pukul 17.00, aku
harus segera berada di danau. Aku tak mau jika melewatkan sehari tanpa
menunggunya.
Dengan tergesa, aku segera menuju danau.
Dan tak lama aku pun sampai disana. Ku lihat lazu sudah berada di tempat biasa
aku duduk. Aku pun duduk di sampingnya.
“tumben kamu telat datang?” Tanya lazu
heran.
Ya, aku memang biasanya datang tepat pukul
16.00. Baru kali ini aku datang
terlambat sampai 1 jam, dan ternyata lazu telah hafal jadwal kedatanganku.
“aku ada keperluan tadi” kataku mengelak.
Aku tak ingin memberitahukannya bahwa aku check up ke dokter sebelum kesini.
Tiba-tiba, tubuhku kembali terasa lemah,
semua anggota tubuhku seperti mati rasa. Tuhan, ada apa lagi ini? Tahan ut,
kamu harus kuat. Kamu ga boleh nunjukin rasa sakit ini di depan lazu.
“aaarrgggghh………” rintihku pelan sambil
menahan sakit yang teramat sangat
Lazu mendengar rintihan ku, dia menatapku
dengan cemas.
“kamu kenapa?” tanyanya panik dan penuh
kekhawatiran.
“aku ga kenapa-napa” jawabku berbohong
“bener?” Tanya nya lagi
“iya, aku Cuma sedikit kurang enak badan”
kataku berusaha mengelabuinya.
“kita pulang ya…” kata lazu hendak
memapahku. Namun aku segera menolak.
“aku akan tetap disini, sampai senja
berakhir!” tegasku
“tapi kamu sakit ut” kata lazu dengan
penuh kekhawatiran. Dia terlihat begitu cemas
“aku gak akan pergi” aku memberi penekanan
pada kata-kataku.
Lazu pun mengalah, dan membiarkan aku
menunggu senja sambil terus menemaniku. Akhirnya senja pun berakhir, aku hendak
beranjak pergi namun lazu mencegah tanganku.
“biarin aku anterin kamu pulang…” katanya
cemas.
Karena lemas, aku hanya mengangguk tanpa
mengucapkan sepatah kata pun. Lazu lalu memapahku dan mengantarkanku pulang ke
rumah.
Keesokan harinya, saat aku tengah menyisir
rambutku. Aku menemukan banyak sekali rambutku yang terbawa sisir. Rambutku
rontok, namun banyak sekali. Kenapa lagi ini? Rambutku tak pernah rontok
separah ini?
Aku pun teringat sesuatu, hari ini aku
harus mengambil hasil dari city scan yang aku lakukan kemarin.
Setelah sampai di rumah sakit, aku
langsung menuju ke ruangan Dr. syifa. Aku memasuki ruangannya dengan perlahan,
aku takut hasil yang aku dapatkan tidak terlalu baik.
Dr. syifa memberikanku sebuah map yang di
dalamnya terdapat hasil scan. Aku membukanya dan mencoba memahami isinya. Aku
mengernyitkan dahiku tanda aku bingung dan tak mengerti.
“Arthithis Rheumatoid…” kataku dengan
penuh kebingungan. Aku menemukan kata-kata itu di result pemeriksaan ku. Namun
aku tak mengerti artinya.
“iya… kamu trekena arthithis rheumatoid”
kata dokter syifa menjawab tanyaku. Aku semakin bingung dan terdiam.
“saya harap kamu bisa tenang mendengarkan
penjelasan saya” kata dokter syifa yang seolah mengerti bahwa aku tengah
kebingungan.
“arthithis rheumatoid atau yang biasa
disebut lupus adalah suatu penyakit yang sampai saat ini belum diketahui
sebabnya. Dalam kasus ini, penderita mengalami gangguan autoimun. Yaitu, imun
yang seharusnya menjaga organ-organ tubuh malah mendeteksi organ-organ tubuh
sebagai musuh. Sehingga imun justru menyerangnya”
Aku menelan ludahku mendengar penjelasan
dokter syifa, aku belum mampu memberikan sanggahan atau pertanyaan.
“lama-kelamaan, organ tubuh akan menjadi
rusak dan tak berfungsi. Sampai saat ini belum ada yang berhasil menemui
obatnya. Kami para dokter hanya mampu mengurangi rasa sakit yang di alami. Dan
penyakit ini, bisa menyebabkan kematian…” dokter syifa mengakhiri penjelasannya
Jantungku bagaikan berhenti berdetak.
Bagaimana mungkin aku bisa mengidap penyakit yang mengerikan ini? Aku tak tau
lagi apa yang harus aku katakana. Air mataku menetes begitu saja.
“lalu apa yang harus saya lakukan dok?”
akhirnya aku membuka mulut
“kamu harus menjalani terapi. Namun terapi
ini tidak bisa mnyembuhkan, tapi untuk meredam rasa sakit yang kamu rasakan dan
terapi ini juga untuk memperlambat imun yang menyerang organ tubuh”
Aku hanya mampu menunduk lalu mengangguk
lemah. Dengan sisa tenaga yang aku miliki aku meninggalkan rumah sakit dan
menuju danau.
Aku menangis sejadi-jadinya di danau. Ku
benamkan mataku di kedua telapak tanganku. Ku lihat kembali map yang ku bawa
dari rumah sakit.
Dengan tatapan tak percaya aku menaruh map
itu di atas kursi. Tuhan… apakah ini nyata? Apa aku benar-benar mengidap
penyakit mematikan itu? Kenapa ini semua harus terjadi padaku?
Aku terus menangis. Tak ku kira senja
sebentar lagi akan datang. Ingatanku langsung tertuju pada panca.
Tuhan, kenapa dia tak juga datang? Apakah
dia tau bahwa aku mungkin tak mampu lagi menunggunya? Apakah dia akan datang
sebelum aku pergi?
“aaarrghh……” rasa sakit itu kembali
datang.
Kenapa sakit ini selalu datang? Tuhan,
hentikan semua ini. Ku mohon…
Rintihku dalam hati, tiba-tiba saja
pandanganku memudar. Kepalaku terasa begitu sakit. Dan tak lama, semuanya
menjagi gelap. Dan aku tak merasakan apa-apa lagi.
Aku membuka mataku perlahan, dengan samar
aku melihat di sekelilingku. Aku kaget mendapati lazu yang tengah duduk di
samping tempat tidur ku. Aku pun mengamati betul-betul tempat ini.
Ternyata aku telah berada di kamarku.
Bagaimana aku bisa sampai disini? Seingatku, aku berada di taman saat pingsan.
Apakah lazu yang membawaku pulang?
Lazu yang mengetahui aku tlah siuman
menatapku, namun kali ini ia menatapku tajam. Seolah aku mempunyai kesalahan
besar padanya. Aku menatapnya bingung.
“kenapa kamu ga cerita ke aku ut?” Tanya
nya. Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.
“kenapa kamu menutupi hal ini?” Tanya nya
lagi. Aku semakin tak mengerti.
“maksud kamu apa zu?” tanyaku bingung.
“apa maksud dari ini ut?” kata lazu sambil
menunjukkan sebuah map.
Aku tersentak, bukankah itu adalah map
yang berisi hasil scan ku. Jadi lazu sudah mengetahui semuanya. Aku pun
menghela nafas panjang.
“bahkan aku sendiri gak ngerti apa maksud
dari hasil scan itu? Aku sendiri gak ngerti kenapa penyakit mengerikan ini bisa
bersarang di tubuhku? Kenapa semua ini terjadi padaku?” kataku tertahan.
Aku menangis terisak, lazu mulai menyeka
air mataku dan menatapku lembut.
“apapun yang terjadi, kamu harus kuat.
Kamu harus bertahan, kamu harus bisa ngelawan penyakit itu. Aku akan selalu ada
untuk kamu” kata lazu lembut
Aku tersenyum, disaat aku lemah seperti
ini, aku bersyukur masih ada orang yang tulus membantuku dan menemaniku, seperti
lazu.
2 bulan telah berlalu semenjak kejadian
aku pingsan di taman itu. Lazu selalu menjagaku dan menemani aku terapi. Namun,
walaupun aku tengah sakit, aku tak pernah berhenti menunggu panca di danau.
Aku takut, aku takut saat aku tak
menunggunya, dia datang dan aku tak sempat menemuinya. Untuk itu, aku tak
pernah berhenti menunggunya, walaupun aku tau keadaanku tak mendukung semua
yang ku lakukan.
Senja datang kembali, sejenak ku lihat
lazu yang dengan setia menemaniku menunggu di danau ini. Ya, senja kembali
berakhir. Namun panca masih belum kembali, aku tak akan jera menunggu sampai
kau kembali!
“dia belum juga datang…” kataku lirih
dengan penuh kekecewaan
“mungkin esok hari…” kata lazu berusaha
memberiku harapan.
Aku menghela nafas panjang, aku harus
lebih sabar lagi menunggunya.
Tiba-tiba aku merasa nafasku sesak, nyeri
sekali. Aku mencoba mengambil nafas dalam-dalam, namun itu membuat dada ku
semakin sesak. Tuhan, apakah ini karena sakit yang ku derita?
“kamu kenapa?” Tanya lazu yang melihatku
kesakitan
“nafasku sesak…” kataku pelan
Semakin lama aku semakin sulit untuk
bernafas. Lazu yang cemas langsung membawaku ke rumah sakit.
“keadaan nya semakin memburuk,
paru-parunya telah di serang dan ini yang membuat dia sesak nafas. Akibatnya,
fungsi paru-parunya semakin memburuk”
aku menghela nafasku mendengar perkataan
dokter. Lazu menggenggam tanganku erat dan berusaha menguatkanku.
“lalu, apa yang harus saya lakukan dok.?”
“maaf, saya tidak bisa melakukan apa-apa
untuk menyembuhkan kamu karena lupus itu belum ada obatnya. Saya hanya bisa
menyarankan kamu agar terus melakukan terapi agar keadaan mu tidak semakin
parah”
Ku benamkan wajahku di telapak tanganku.
Air mataku menyapu wajahku yang pucat. Separah itukah aku? Tak bisakah aku
sembuh? Mungkinkah aku dapat bertemu dengan panca sebelum waktuku habis?
Berbagai pertanyaan dan kegelisahan terus
menerus hinggap dalam fikiranku. Aku bukannya takut untuk mati, aku hanya takut
mati sebelum bertemu dengan panca.
Hari-hariku terasa begitu berat, segala harapan
dan penantian ku selama ini menguap memberikan sebuah tekanan yang teramat
sangat besar. Tekanan yang membuat penyakit ini semakin hari semakin parah.
Kali ini ginjalku yang dirusaknya. Tak
puaskah ia merusak paru-paruku hingga aku sulit untuk bernafas? Sekarang dengan
kejamnya ia merusak ginjalku dan membuat aku terus-menerus merasakan kesakitan
di bagian perutku.
Sungguh aku lelah, rasanya aku lebih baik
mati saja dari pada harus merasakan ini semua. Tapi aku tak boleh mati terlebih
dahulu, aku belum bertemu panca, aku harus bertemu dengannya!
Bangku taman senja ini begitu lengang,
hanya beberapa orang yang tampak disekitar danau, yang bisa ku dengar hanya
semilir angin dan gemercik angin yang menggelitik hatiku. Hembusan angin terasa
begitu dingin, tapi aku tak bergeming dari tempat duduk ku.
“kamu kedinginan
ya, sini aku peluk!!”
Tiba-tiba saja aku mendengar suara panca,
aku menoleh ke samping dengan tergesa dan mendapati siluet panca duduk
disampingku. Dia membuka tangan nya dan hendak merengkuh ku. Aku pun mendekat
kearahnya dan ingin memeluknya. Tapi… aku hanya memeluk udara bebas. Panca tak
ada disana, ini semua hanya hayalanku.
Rasanya seperti jatuh dari ketinggian,
semua harapan yang ku buat dan ku jaga hancur berkeping-keping. Rasa sakit dan
sesak menjalari seluruh tubuhku, dan menyiksaku. Lalu, bayangan-bayangan
tentang panca terlintas di retina mataku.
**
“kamu tau gak,
apa yang aku selalu nantikan setiap hari?” Tanya panca sambil menatap matahari
senja dan merengkuhku.
Aku menatap
wajahnya bingung, “memangnya apa?”
“aku selalu
menanti saat-saat dimana aku bersamamu, saat diamana aku dapat menatap wajahmu,
saat dimana aku dapat melindungimu dari rasa dingin dalam rengkuhanku. Saat
dimana aku dapat menatap matamu yang teduh”
Hatiku terasa dibanjiri
oleh berbagai rasa, bahagia, haru, tersanjung dan lainnya. Aku mempererat
pelukanku dan seketika rasa hangat menjalari seluruh tubuhku. Inilah alasan
mengapa aku sangat nyaman berada dalam pelukan panca, pelukannya terasa begitu
hangat, aku pun memejamkan mataku.
Sesuatu yang
lembut terasa menyentuh dahi ku, lalu bergerak turun dari pangkal hidung ku,
lalu berhenti tepat di bibirku. Aku membuka mataku, dan hal pertama yang aku
lihat adalah mata panca yang tengah menatapku seakan berbicara. Bibirnya kini
terpaut di bibirku.
**
Aku tersadar dari lamunanku saat lazu
datang dan duduk di sampingku. Tuhan, ingatan tentang panca membuat aku semakin
merindukannya. Aku rindu pelukannya, genggaman tangannya dan… ciumannya. Sampai
kapan aku harus menunggumu panca? Aku takut… aku takut wakttu ku tak cukup
untuk menunggumu datang.
“kamu pernah mikirin sesuatu ga??” Tanya
lazu memecah keheningan
“apa?” tanyaku
“bagaimana jika panca tak akan pernah
kembali? Bagaimana jika semua penantianmu dan harapan kamu sia-sia? Bagaimana
jika panca tak menepati janjinya?”
Aku meoleh kea rah lazu dan mentapnya
tajam “panca pasti datang!!”
Lazu tak bergeming melihat reaksiku yang
tegang. Semua rasa bercampur aduk di hatiku. Bagaimana mungkin lazu
mempertanyakan pertanyaan yang aku sendiri tlah kubur dalam-dalam dari
ingatanku. Kenapa dia menanyakan hal, yang aku sendiri sering takut jika
membayangkan itu terjadi?
Hening kemudian… tak ada yang bersuara di
antara kami. Aku masih larut dalam ketakutan-ketakutan yang diciptakan olehnya.
“aku sayang kamu ut…” kata lzu seraya
meraih tanganku
Aku terkejut dan menoleh kearahnya,
menatapnya tak percaya
“aku bersungguh-sungguh, aku mencintai
kamu ut!!” katanya menatapku tajam
Aku langsung melepaskan genggaman
tangannya dan mengalihkan pandangan.
“di hatiku, hanya ada panca!!” kataku tegas. Aku tak ingin memberi sedikitpun harapan pada lazu. Aku tak ingin membuat dia berharap.
“di hatiku, hanya ada panca!!” kataku tegas. Aku tak ingin memberi sedikitpun harapan pada lazu. Aku tak ingin membuat dia berharap.
“aku tau itu, dan aku tak meminta kamu
untuk melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Aku hanya ingin, kamu
izinkan aku untuk menjagamu, dan terus bersamamu”
Aku menatap nya, dari sorot matanya, aku
tau dia berkata tulus. Aku pun mengangguk dan tersenyum simpul. Terlihat sorot
kelegaan dari mata lazu.
Tes, cairan pekat menetes di tangan ku.
Uhh, aku benci hal ini. Aku segera meraba hidungku, dan benar saja, cairan
pekat itu sudah mengotori hidungku dan sebagian kecil wajahku. Lazu yang
melihat aku kembali mimisan langsung terlihat panic dan mengambil tissue.
“kita pulang yah!!” katanya panic
Aku menggeleng pelan sementara lazu
mencoba menghentikan darah yang terus menetes dari hidungku. “Cuma mimisan
kok!!” kata ku berusaha membuatnya tenang. Aku tak apa-apa lazu!
Tapi semuanya gak seperti yang ku
harapkan, keadaan tubuhku semakin parah, nafasku tiba-tiba terasa sesak. Dengan
susah payah aku berusaha mengatur nafasku. Namun gagal!
Kepalaku tiba-tiba terasa sangat berat,
aku menggapai lengan lazu dan berusaha menyeimbangkan diri agar tak terjatuh.
Tuhan, kenapa ini terjadi lagi??
“kita pulang ya, please!!” lazu mulai
terlihat panic karena keadaan ku.
Aku menggeleng pelan, “aku mau tetep
nunggu panca!” kata ku tegas.
“tapi keadaan kamu gak memungkinkan.
Please, kita pulang!” lazu kembali membujukku. Namun aku menggeleng pasti, aku
tak akan beranjak dari danau ini.
Namun tiba-tiba perutku terasa begitu
sakit, dan menanmbah penderitaan ku saat ini. Tuhan, aku rela jika kau
mengambilku saat ini. Tapi aku mohon, sebelum itu terjadi pertemukan aku
terlebih dahulu dengan panca!!
“kita harus pulang!!” lazu hendak
membopong tubuhku, tapi aku segera memberontak.
“ENGGA!!!” kataku setengah berteriak, lalu
lazu menatapku dengan tatapan kemarahan.
“percuma kamu nungguin panca ut, dia gak
akan pernah datang. Dia gak akan pernah tepatin janjinya ke kamu!!!” kata lazu
dengan luapan emosi
Aku terhenyak, dari mana lazu mendapatkan
argument itu? Tak tahukah dia, aku sangat membenci argument itu!
“panca akan datang! Dia akan menepati
janjinya! Kamu jangan sok tahu! Tahu apa kamu tentang panca?” emosi ku pun ikut
meluap
“aku tahu segalanya. Aku tahu segala
sesuatu yang bahkan kamu gak tahu! Please, kita pulang!!” nada suaranya
merendah, aku tau, dia hanya ingin menjaga kembali emosiku.
“aku akan tetap disini!!” aku kembali
menegaskan. Namun rupanya perkataan ku membuat emosinya kembali meluap.
“Panca gak akan dateng ut, dia gak akan
pernah dateng, karena dia udah meninggal!”
Emosi ku memuncak, tanpa sadar aku
menampar lazu dan menatapnya penuh kemarahan. “apa maksud kamu?”
“ya, aku tak berbohong ut. Percuma kamu
menunggunya, karena… karena dia sudah meninggal..!” kata lzu terbata
“kamu bohong. Bagaimana kamu bisa
mengatakan panca sudah meninggal sementara kamu tidak mengenalnya!” aku masih
mencoba menyangkal. Tidak… ini tidak benar!!
“aku mengenalnya ut, jauh sebelum kamu
mengenalnya. Karena aku, adik panca”
“apa lagi ini? Kebohongan apa lagi yang
akan kamu katakana?” aku terus mencoba menyangkal. Aku tak mengerti apa maksud
dari semua perkataan lazu.
“aku tak berbohong, sungguh. Dialah yang
memintaku untuk menjagamu, menemanimu, dan mencintaimu sebelum dia meninggal.
Dia telah pergi…”
“tolong jelaskan semua ini, aku tak
mengerti!”
“panca sakit ut, kanker otak. Dia divonis
dokter tidak bisa hidup lama. Dan itu benar. 5 bulan setelah vonis dokter, dia
pergi. Dan satu-satunya yang dia khawatirkan sebelum pergi adalah, kamu. Dia
takut, tak ada yang menjagamu setelah dia pergi. Untuk itu, dia mengirim aku,
untukmu. Percayalah, dia ingin kamu bahagia, walau tanpanya…”
Air mataku tumpah. Tuhan, mengapa ini
semua terjadi padaku.!
Panca, mengapa tak kau tepati janjimu?
Mengapa kau tega meninggalkan aku? Mengapa kau tega membuat aku menunggu
terlalu lama untuk ke sia-siaan? Mengapa? Mengapa kau membiarkan aku sendiri
dengan penyakit ini? Aku hanya ingin bersamamu, sebelum lupus ini membuatku
pergi. Tapi nyatanya, kau telah pergi mendahului aku.
Tiba-tiba saja kepalaku terasa begitu
berat, pandangan mataku memudar, rasa sakit langsung menjalari seluruh tubuhku,
nafasku sesak dan berat. Tuhan, inikah akhir dari penantianku.
“ut, kamu kenapa? Bertahanlah.”
Dengan pendengaranku yang mulai tak tajam
aku mendengar suara lazu dan tangisannya, dan akhirnya, semuanya gelap.
Aku terjaga dari tidur panjangku, rasanya
begitu lama aku tertidur. Aku melihat sekelilingku, dan aku terkejut. Ku lihat
panca telah duduk disampingku dengan baju putih bersihnya dan menatapku dengan
mata teduh nya. Aku langsung menghambur kedalam pelukkannya.
“aku kangen banget sama kamu!” ucapku
“aku juga” kata panca seraya membalas
memelukku
“kita pergi ya, ini bukan tempat kita
lagi” lanjut panca
Aku melepas pelukkannya dan menatapnya
bingung, “pergi??”
“iya..!” panca mengangguk. Lalu ia
menunjuk sebuah ranjang rumah sakit yang di atasnya terbaring tubuh perempuan.
Aku pun mengikuti telunjuknya dan
memperhatikan tubuh itu. Aku tersentak, itu aku. Jadi sebenarnya, aku telah
meninggal? Aku telah menyusul panca? Aku melihat lazu dan kedua orang tuaku
menangis tersedu di samping jasadku. Lalu aku menatap panca sedih.
“lalu mereka bagaimana?” tanyaku sambil
kembali menatap lazu dan kedua orang tuaku.
Panca tersenyum, “mereka akan selalu
bahagia, mereka akan bahagia hidup bersamamu dalam ingatan mereka. Dunia kita
telah berbeda, mereka akan bahagia di dunianya.”
“ayo, kita pergi” lanjut panca. Aku
tersenyum, lalu mengangguk.
Panca menggandeng tangan ku dan mengajakku
pergi. Lalu muncul sebuah cahaya putih yang terang, dan kami menghilang di
dalamnya.
~True love is not be happy ending, but
true love is doesn,t have an ending”
~END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar