Kamis, 09 Agustus 2012

Hidden lover - cerpen


Cinta, tak ada kata yang bisa ku deskripsikan tentangnya. Karena yang aku tau, cinta adalah kamu!
Jika kamu adalah sebuah mimpi bagiku, maka izinkan aku untuk tetap terlelap. Jangan  biarkan aku terjaga, biarkanlah semua tentangmu mengalir dalam mimpiku, biarkanlah semua inginku padamu terjadi dalam mimpiku, biarlah! Karena jika aku terjaga, semua rasa yang bergejolak dalam hatiku akan menjadi kosong. Semua angan dan harap akan musnah. Semua cita dan cinta yang ku inginkan hanyalah sebuah ingin tanpa nyata.
Ini mungkin akan menjadi sebuah prolog, atau hanya sebuah ungkapan hati yang tak dapat ku ucapkan langsung dengan bibirku. Dan ini, hanyalah sebuah cerita sederhana. Tentang mencintai, tanpa bisa memiliki. Tentang harapan, yang tak dapat terwujud. Tentang penantian, yang menjadi sia-sia. Terlepas dari ini kisahku atau bukan, ini hanyalah torehan imajinasi yang ku lukis dengan rasa dalam hatiku.
({})
Ku ingin menyatakan cintaku
Namun waktu takkan mungkin mengijinkanku
Membahas tentang cinta, aku mempunyai sebuah cerita. Tentang aku yang mengagumi dia, dia yang awalnya tak ku kenal sama sekali. Dia yang waktu pertama ku melihatnya, tak pernah ada getaran berbeda. Dia, yang walaupun tak memikatku waktu pertama mehilatnya, namun selalu memberi kesan yang tak dapat ku lupakan.
Pertama kali aku mengenalnya yaitu bukan dengan melihatnya secara langsung melainkan dari sebuah foto milik temanku. Aku tak langsung menyukainya saat melihat foto itu, karena bagiku, love at first sight itu tak ada. Hanya, entah kenapa. Saat-saat pertama kali aku mengenal wajahnya lewat foto itu, tak pernah bisa ku lupakan, sampai saat ini.
Dan sama sekali aku tak mengetahui namanya, dan enggan untuk bertanya. Dalam fikiranku, buat apa aku bertanya siapa namanya? Toh, aku tak menyukainya.
Namun akhirnya, takdir membuat aku mengetahui namanya lewat sebuah acara sekolah. Ternyata namanya cakka nuraga. Tanpa sengaja aku dan dia menjadi satu kelompok dan mau tak mau bertugas bersama.
Saat bertugas bersama itulah kami akhirnya saling mengenal. Tak lama waktu untuk kami akrab, dalam waktu kurang dalam satu hari, kami langsung bisa mengakrabkan diri. Dia, pribadi yang menyenangkan dan humoris.
Walau hatiku tak bisa mengingkari
Perasaan ini sungguh membebani
Sekali lagi ku jelaskan, tak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab. Di hari berikutnya, tiba-tiba saja ada seorang temanku yang menggoda kedekatanku dengan cakka. Katanya, karena aku dan cakka selalu berduaan J.
Entah bagaimana candaan temanku itu menular ke seluruh teman-temanku. Dan akhirnya, aku dan cakka selalu menjadi bahan ledekan. Namun tak terpikir bagiku semuanya akan jadi seperti ini, karena pada awalnya, otak nakalku sempat berfikir kalau lucu juga jika di gosipkan dengan cakka. Dan ternyata, hmmmm, itu terjadi dan aku tak menduganya.
Tak butuh waktu lama juga, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rasa yang memberontak dalam hatiku saat aku bersamanya. Ada sebuah rasa yang menggebu, yang membuat hatiku tak karuan. Degupan jantungku, tak dapat ku atur saat aku berbincang dengannya, selalu berdegup tak teratur dan kencang.
Dan saat itu juga, aku mulai menyadarinya. Aku mungkin mulai menyukainya. Ya, aku menyukainya, dan pada kenyataannya, aku bukanlah orang yang mudah menyukai seseorang. Berarti, cakka memiliki sesuatu yang begitu berbeda hingga dia mampu membuatku menyukainya dalam waktu singkat.
Perasaan ini tak terkendali, semakin menggila, semakin meronta, dan semakin membuat hatiku tak menentu. Dan aku pun sadar, perasaan ini tak bisa ku tahan lagi, tak bisa kuhapuskan.
Kini hatimu tlah mencintainya
Yang tak mungkin bisa ku memaksakannya
Namun sepertinya, luka-lukaku sebelumnya terulang lagi. Dan lagi untuk kesekian kalinya, aku menyukai seseorang yang ternyata telah dimiliki orang lain. Ya, dia sudah mempunyai pacar.
Saat itu juga, aku langsung berusaha sekuat tenagaku untuk menghilangkan semua perasaanku pada cakka. Sebelum perasaan ini semakin membesar, sebelum aku terlanjur mencintainya, sebelum aku semakin terluka.
Namun, semua usahaku gagal. Dan aku pun sadar, aku terlanjur menyayangiya dan aku tak mampu menhapus semua rasa dalam hatiku. Dan akhirnya, aku hanya bisa membiarkan perasaan ini mengalir apa adanya. Membiarkannya mengalir seperti air. Membiarkannya dilukai.
Tak kusangkal jika perasaan ini semakin membesar. Bukan karena ku tak mau, tapi karena…… aku tak mampu untuk itu. Aku tak mampu untu melawannya. Karena jika semakin ku lawan, perasaan ini akan semakin menjadi-jadi. Dan pastinya, membuatku semakin sakit.
Tanpa sengaja, aku dan cakka masuk ke dalam club yang sama, club pencinta alam. Aku sendiri memilih club itu karena aku memang suka menjelajah gunung ataupun hanya sekedar berjalan-jalan di gunung.
Karena satu club itulah, kami menjadi semakin dekat. Dan aku semakin menyukainya. Kami menjadi sering menginap bersama di markas club bersama anggota yang lain. Namun kadang, kebiasaanku yang suka sembarangan makan dan makan tak teratur membuat maag ku suka kumat. Dan hal itu, seringkali membuat dia perhatian padaku. Dan aku, sangat menyukai perhatiannya itu. Walau seringkali perahtian itu ditunjukkan dengan cara mengomeli aku.
Namun aku tau, entahlah, namun hati ini yakin, bahwa sebenarnya, dia khawatir di dalam omelannya itu. Dan sesuatu yang membuatku sangat senang juga jika ada yang lebih mengkhawatirkanku daripada dia, dia akan bersikap seolah-olah marah. Haha… lucunya cakka. Dan itu semakin membuat aku semakin menyukainya.
ku hanya manusia yang tak pernah bisa
memaksakan cinta pada dirinya
Setiap candaannya dan perkataannya selalu terngiang-ngiang dalam ingatanku. Setiap ekspresi wajahnya, setiap tatapannya padaku selalu terekam dalam memoriku. Setiap hal yang kami lakukan bersama, tak akan mungkin pernah bisa ku lupakan.
Aku semakin ingin memilikinya, semakin besar harapanku untuk dapat bersamanya. Namun, aku sadar betul. Aku bukanlah wanita yang pantas untuk dapat memilikinya. Aku tak mempunyai apapun yang bisa kuperjuangkan untuk mendapatkannya. Karena, yang ku miliki, hanyalah cinta.
Keinginan ini semakin meledak-ledak, membuatku sesak, membuatku sakit. Tuhan… bantu aku untuk dapat memilikinya…
Yang bisa ku perbuat hanyalah menunggu, dan bersabar. Aku tak mungkin berjuang mendapatkannya, karena dia sudah ada yang punya. Mungkin keadaannya akan lebih mudah jika dia masih sendiri, namun nyatanya, dia tak sendiri lagi.
Andai aku lebih dulu mengenalnya daripada wanita itu, mungkin saja, aku yang sekarang bersama cakka, bukan wanita itu. Bukan dia! Dan akhirnya, aku hanya bisa berdoa kepada allah agar cakka menjadi milikku. Setiap seusai shalat, itulah yang ku minta pertama kali. Aku selalu berdoa agar dia menjadi milikku!
Dan ada saat dimana seseorang yang dekat denganku mengatakan, bahwa ia menyukaiku dan ingin menjadi pacarku. Langsung saja hatiku tak karuan. Di satu sisi, aku sangat mencintai cakka dan masih berharap memilikinya, dan di sisi lain dia baik dan dekat denganku.
Setelah ku fikirkan, aku putuskan untuk menolaknya. Hanya karena aku tak ingin hubungan ku dan cakka berubah jika aku menerimanya. Aku tak rela, jika aku dan cakka akan menjauh hanya karena aku mempunyai pacar.
Dan begitu seterusnya. Aku tak rela jika keadaanku dan cakka akan berubah. Biarlah aku selalu sendiri, yang penting, aku masih bisa merasakan kedekatanku bersama cakka.
Namun ku tak mampu menahan rasaku
Namun ku tak sanggup melepas dirimu
Dan kini, satu setengah tahun lebih aku membiarkan harapan itu tetap ada dalam hatiku. Tak mampu membunuhnya, tak mampu mengusiknya. Satu setengah tahun lebih aku mengenalnya, bersamanya, bercanda dengannya, dan semua hal bersamanya.
Club pencinta alampun menjadi salah satu factor yang membuat aku lebih dekat dengannya. Dan aku bersyukur untuk itu. Karenanyalah aku selalu bersemangat jika ada acara-acara club, sebisa mungkin aku mengikutinya. Karena aku tak mau melewatkan satu kesempatanpun bersamanya.
Dan jadwal bulan ini, kami akan mengadakan camp di daerah sumedang. Mungkin untuk tiga atau empat hari. Aku pun mengikuti camp ini dengan suka cita. Karena, saat camp tahun lalu, ada kenangan indah bersama cakka. Dan aku berharap, atau lebih tepatnya sangat berharap agar kejadian lebih indah dari tahun lalu akan terjadi di camp kali ini.
Camp pun sudah berjalan satu hari. Rencananya hari ini kami akan menyisir sekitar air terjun dan masuk ke dalam gunung. Semangatku agak turun karena aku dan cakka di regu berbeda. Aku regu 08 sedangkan cakka 09. Tapi untunglah, karena hanya berselisih satu angka, kami jalan bersama ke area yang sudah di tentukan.
Dan aku bahagia, candanya, rayuannya, senyuman nakalnya, tatapan tajamnya, hari ini lengkap sudah ku dapatkan. Walau letih, karena masuk kedalam gunung, juga karena kemiringan gunung yang hampir 75®, tapi aku sangat bahagia.
Seusai mandi setelah masuk gunung. Aku pun duduk bersama teman-temanku yang lain. Lalu dia datang dan kami pun berbincang bersama. Dia duduk di sebelahku, jantungku pun terasa semakin berdegup kencang.
Sepertinya kakiku sedikit terkilir atau apa karena masuk gunung tadi. Iseng, aku meminta dia untuk memijit kaki ku. Dan tak ku sangka, dia langsung memijit pergelangan kakiku yang memang terasa begitu sakit.
Dan yang membuatku heran dan sedikit takut, dia bilang kalau pergelangan kakiku retak. Masa sih? Aku pun sedikit merasa ngeri jika benar kakiku retak. Tapi biarlah, nanti juga sembuh.
Dia masih duduk disampingku, akhirnya karena merasa lelah, aku pun berbaring dalam pangkuannya. Rasanya, begitu nyaman, sangat nyaman berada dalam pangkuannya. Rasanya, aku tak ingin saat itu berakhir begitupu saat sebaliknya, saat dia yang tidur dalam pangkuanku. Sunguh, aku tak ingin semua itu berakhir!
Tuhan, aku semakin tak mampu menahan gejolak rasa dalam hatiku ini, dan semua ini, membuat aku lebih sakit! Karena aku, tak mampu memilikinya.
Hanya lewat nada-nada cinta yang ku tulis untukmu
Kan ku ungkapkan perasaanku
Hmmm… tak akan pernah bisa ku lupakan setiap detik, setiap kejadian di camp itu. Sungguh, semuanya akan selalu terekam dalam memoriku kka. Selalu!
Tak perduli kau menganggapku apa, tak perduli aku berarti untukmu atau tidak, tapi satu yang pasti, kau sangat berharga untukku. Dan tak perduli, apa perasaanmu terhadapku. Perasaanku padamu, akan tetap ada dan terjaga.
Hari itu, aku masuk ke markas pencinta alam. Ku lihat ada beberapa orang didalamnya dan salah satunya, cakka. Aku pun memasuki ruangan itu dan mendekati cakka yang tengah berbaring. Cakka yang melihat kedatanganku langsung menepuk sebuah bangku kecil di depannya, tanda menyuruhku duduk disitu.
Aku pun duduk di kursi kecil itu dan memandangnya yang tengah berbaring. Masih sangat lekat dalam ingatanku tatapan nakalnya saat itu. Sangat ku ingat!
Lalu ku lihat ada gitar di samping sofa panjang yang ditiduri cakka. Aku mengambilnya, dan memainkan sebuah lagu. Lagu yang ku rasa sangat tepat untuk menggambarkan perasaanku kepadanya. Lagu dari salah satu band indi, D’Wapinz yang berjudul nada-nada cinta. Aku pun mulai memetik gitarku.
            {Ku ingin menyatakan cintaku, Namun waktu takkan mungkin mengijinkanku, Walau hatiku tak bisa mengingkari, Perasaan ini sungguh membebani, Kini hatimu tlah mencintainya, Yang tak mungkin bisa ku memaksakannya, Ku hanya manusia yang tak pernah bisa, Memaksakan cinta pada dirinya, Namun ku tak mampu menahan rasaku, Namun ku tak sanggup melepas dirimu, Hanya lewat nada-nada cinta yang ku tulis untukmu, Kan ku ungkapkan perasaanku, Andai kau tau perasaanku keadamu, Yang tulus dan murni dari hatiku ini }
Namun di tengah lagu, cakka menaruh tangannya di tengah senar-senar gitar sehingga aku tak bisa meneruskan laguku. Aku pun menatapnya lalu melepaskan tangannya dari senar gitar. Ku lihat matanya terpejam, tapi dia tak mungkin tertidur.
Aku pun menyuruhnya untuk tak menganggu aku meminkan gitar karena aku tengah menyanyikan lagu ini untuknya. Walau dengan nada bergurau, tapi sebenrnya, lagu ini memang untuknya! Namun cakka hanya memejamkan matanya, berpura-pura tidur.
Kenapa tadi dia menghentikanku bernyanyi? Apakah, dia bisa merasakan bahwa lagu ini, tulus dari hatiku, untuknya! Semoga saja dia merasakan hal itu.
Andai kau tau perasaanku kepadamu
Yang tulus dan murni dari hatiku ini
Waktu berlalu cepat, tak kusangka sekarang tlah usai ujian nasional. Dan tak ku sangka juga, akan tiba saat dimana aku mungkin tak dapat melihat cakka lagi.
Aku tak mampu membayangkan hal itu terjadi. Karena setiap harinya aku selalu merindukannya, dan hanya dengan melihat punggungnya saja sudah lebih dari cukup untukku mengobati rinduku.
Dan sekarang, aku akan melewati hari-hariku tanpanya. Tanpa melihat senyumannya lagi. Tanpa mendengar suaranya lagi. Tanpa candanya, rayuannya, godaannya, senyuman nakalnya, tatapannya yang tajam. Tuhan, mampukah aku! Tapi, aku harus mampu! Hidupku harus terus berlanjut, walau tanpa cakka.
Dan tiba di hari perpisahan sekolah. Aku memakai kebaya biru muda, warna kesukaanku. Sesampainya di sekolah aku langsung bergabung bersama teman-temanku. Tapi, mataku tak henti mencari sosoknya. Sosok cakka!
Dimanakah dia? Akhirnya aku menemukannya. Mataku berbinar lega. Mungkin, ini adalah saat-saat terakhir aku dapat melihatnya. Ya, terakhir kalinya. Mungkin setelah perpisahan, kami tak dapat bertemu kembali. Dan memikirkan hal itu, membuatku sakit.
Di akhir acara. Aku kehilangan sosoknya, kemana dia? Fikiranku langsung kacau, bagaimana jika aku tak menemukannya sekarang? Tak ada yang dapat menjamin kalau aku akan bertemu dengannya hari esok.
Akhirnya, aku menemukannya. Aku langsung menghampirinya, melepas semua rasa malu karena aku menghampiri lelaki. Biarlah! Aku mendekatinya, dan memintanya untuk berfoto bersama. Akhirnya kami berfoto bersama. Aku pun merasa sangat lega, inilah kenangan terakhirku bersamanya.
Lalu, aku pun berpamitan pulang. Aku berjabat tangan dengannya dan mencium punggung tangannya. Lalu dia melempar sedikit candanya di sela kami berjabat tangan. Ada pula beberapa pesannya untukku. Mungkin, ini adalah candanya denganku yang terakhhir. Aku pun bergegas pulang, bersama teman-temanku, walau rasanya begitu berat untuk meninggalkan hari ini bersamanya.
Dan kini, sudah bertahun-tahun berlalu sejak perpisahan sekolah itu. Dan faktanya, perasaan ini masih ada, masih terjaga, masih tersimpan rapih dalam hatiku.
Aku melihat kembali fotoku dan cakka saat perpisahan. Menatapnya dalam. Aku merindukannya, sangat!
Biarlah semua kenangan ini tersimpan dalam memoriku karena pada dasarnya, perasaan ini pun tak berubah. Andai saja cakka mengetahui perasaan ini. Tapi biarlah, semuanya tlah berlalu. Dan aku, akan selalu menjaga perasaan ini, untuknya! Untuk cakka!
#cinta itu menyayangi dan membuat dia yang kita cintai bahagia, walau itu seringkali membuat kita menangis, tapi jika kita rela menangis untuknya, itulah cinta!
~END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar