|
S
|
etiap cerita
memliki jalannya masing-masing. Begitupun kisahku, sebuah kisah sederhana,
kisah tentang sebuah perjalanan panjang dan menyedihkan, kisah tentang getirnya
kehidupanku, kisah dimana ada tawa terselip dalam setiap tangis.
Aku
ditinggalkan kedua orang tuaku. Mereka telah meninggalkan aku untuk
selama-lamanya tanpa bisa aku berjumpa kembali dengannya. Sebuah kecelakaan pesawat
telah mengambil mereka dari kehidupanku yang “dulu” bahagia. Dulu dalam tanda
kutip, karena kehidupanku saat ini memang jauh dari kata bahagia.
Setelah
kedua orang tuaku meninggal, perusahaan mereka terlilit masalah yang
mengakibatkan perusahaan itu bangkrut. Semua harta benda yang dimiliki orang
tuaku disita oleh bank. Perusahaan, hotel, mobil, bahkan rumah yang kami
tempati. Aku sungguh terpukul saat itu, apalagi saat itu aku masih berumur 8
tahun. Aku tak tau harus berbuat apa dan bagaimana melanjutkan hidupku.
Setelah
itu, aku diasuh oleh tante ku, adik papah di Jogjakarta. Namun sepertinya, dia
tak suka padaku. Dia selalu bersikap kasar padaku, dia selalu menyebut-nyebut
bahwa aku adalah pembawa sial, dia selalu menyalahkanku atas peristiwa yang menimpa
kedua orang tuaku. Karena pada saat itu, mereka pergi ke Singapore untuk
menemui salah satu dokter yang akan mengobatiku. Ya, aku sakit, arthithis
rheumatoid atau yang biasa dikenal dengan penyakit lupus.
Aku
pun tak tau kenapa tuhan memilih aku untuk mengidap penyakit itu, kenapa dari
sekian banyak orang aku yang harus menderita penyakit ini. Penyakit ini
menjadikan ruang gerak hidupku terasa sempit, sangat sempit. Aku tak bisa
melakukan semua hal yang aku mau dengan bebas, selalu ada batas, selalu terkekang.
Untungnya
tante ku masih berbaik hati, dia mau membiayai seluruh pengobatanku. Hanya
saja, aku sungguh tak sanggup menghadapi sikapnya yang begitu dingin. Sangat
membuat hatiku ini sakit, bahkan dia sempat berkata “kenapa kamu tidak mati
saja bersama kedua orang tuamu, kau hanyalah pembawa sial”. Siapa pun orangnya
pasti akan sakit hati mendengar perkataan itu.
Aku
ingin pergi meninggalkan rumah ini. Tapi, kemana aku bisa pergi? Aku tak punya
saudara selain tante ku ini. Mengingat usiaku yang masih kecil dan tak mengerti
apa-apa, apa yang bisa ku lakukan diluar sana seorang diri?
Semua
keadaan itu terus bertahan sampai aku tlah menginjak kelas 3 SMP. Disekolah pun
aku tak mempunyai teman karena aku orang yang antisocial, aku terus menutup
diri, jika ada yang menghampiri maka aku akan pergi. Aku hanya tak ingin
kembali merasakan rasa sayang lalu aku ditinggalkan orang yang kusayangi. Aku
tak ingin merasa sakit lagi, aku tak mau kehampaan yang dulu terulang lagi.
Dan
tak sedikit pula diantara teman sekolah ku yang tak mau berteman denganku
karena aku penyakitan. Tak sedikit di antara mereka yang selalu menatapku
dengan tatapan kasihan. Ingin aku berteriak pada mereka, bahwa aku tak butuh
dikasihani. Aku dapat melanjutkan hidupku tanpa rasa kasihan dari mereka.
Sampai
aku lulus SMP dan masuk sebuah SMA di Jakarta, aku memutuskan untuk tinggal di
Jakarta dengan alasan sekolah disana lebih bagus dari pada di Yogyakarta. Tentu
saja tante ku sangat bersykur dengan kepergianku karena tak ada lagi wajah yang
selalu membuatnya marah. Tapi walaupun begitu, dia rutin mengirimkan uang untuk
biayaku berobat. Tapi untuk kebutuhanku aku bekerja paruh waktu di sebuah café
sebagai waiters.
Awal
aku masuk SMA, semuanya terasa biasa saja, tak ada yang berbeda dari masa SMP.
Aku masih menutup diri dan antisocial. Aku sudah terbiasa dalam kesendirian.
Aku yakin, aku dapat melalui hidup ini sendiri.
Sampai
pada suatu hari, aku bertemu dengan Rhea, orang yang membuat hidupku berubah
menjadi lebih berwarna. Hidupku yang hanya dihiasi warna kelabu tlah dia hias
dengan warna-warni indah.
Pertemuanku
dengan Rhea pun karena tak kesengajaan dan terkesan klasik. Siang itu pulang
sekolah, aku menunggu bus yang biasa aku tumpangi. Namun satu jam tlah berlalu,
bus yang searah dengan rute ku belum juga datang .
Udara
siang itu sangat panas, matahari begitu teriknya dan mampu membuat kulit terasa
terbakar. Di tengah aku menunggu bus, kepala ku terasa begitu berat. Sepertiya
penyakit ku kambuh lagi. Semakin aku mencoba menahan, kepalaku semakin terasa
berat, pandangan mataku semakin memudar, sampai akhirnya, semuanya terasa
sangat gelap.
Ketika
aku terbangun dari pingsan, aku melihat seorang gadis cantik yang tengah duduk
dismpingku. Dia terlihat sangat cantik, rambutnya yang hitam legam panjang
terurai, hidungnya yang mancug, kulitnya yang kuning langsat, dan keseluruhan
detail wajahnya yang sangat indah. Aku sempat berfikir, apakah aku berada di
surga sehingga aku melihat seorang bidadari.
“kamu
sudah sadar” Tanya gadis cantik itu, sekaligus menyadarkanku bahwa aku masih
berada di dunia kejam ini.
“aku
dimana?” Tanya ku bingung
“kamu
ada dirumahku, tadi kamu pingsan di halte bus, makanya aku bawa kamu kerumahku”
ucapnya, suaranya terdengar begitu lembut.
Aku
memijat-mijat keningku yang kembali terasa begitu sakit. Huft, kenapa bisa aku
sampai pingsan tadi? Pasti karena aku belum minum obat.
“kamu
siswi X.4 kan? Aku sering melihatmu di depan kelas X.4. Siapa namamu?”, ia
kembali bertanya.
“iya,
namaku Neva, Neva Elvira”, jawabku.
“perkenalkan,
aku Rhea, Rhea Agatha siswi X.5”, gadis itu mengulurkan tangannya lalu aku pun
menjabat tangannya, dia tersenyum manis.
“sepertinya
aku harus pulang”, ujarku
“baiklah,
ayo aku antar”, tawar nya.
“tidak
usah, aku bisa pulang sendiri”.
“sudahlah,
aku tak ingin kamu pingsan di jalan untuk yang kedua kalinya”, ucap Rhea agak
memaksa, aku pun tak bisa menolaknya untuk mengantarku pulang ke kost-an.
Sejak
saat itu, rhea selalu menghampiriku pada jam istirahat. Dia gadis yang sangat
ramah dan riang. Dia selalu menanyakan kondisiku dan mengingatkan aku untuk
menjaga kesehatanku agar peristiwa aku pingsan di halte bus itu tak terulang
kembali.
Walaupun
aku terus menolak dan menjauhinya, tapi rhea tetap saja tak berhenti
menghampiriku dan perduli padaku. Aku yang terbiasa dengan kesendirian menjadi
terusik oleh kehadirannya yang sedikit banyak membuat hidupku lebih ramai.
Namun,
tak perduli seberapa keras aku menjauh darinya, rhea tak pernah mundur. Itulah
yang membuat hatiku lama-kelamaan mencair. Dan satu hal yang membuat rhea
berbeda dengan teman-teman yang lain, dia tidak pernah memandangku dengan
pandangan mengkasihani. Dia tulus ingin menjadi temanku, bukan karena dia
kasihan padaku.
Sejak
itulah kami menjadi dekat, aku yang antisocial pun perlahan mulai berbaur dengan
yang lain, dan itu semua karena rhea. Rhea yang mengingatkanku bahwa dalam
kehidupan ini kita tidak bisa hidup sendiri, kita setidaknya membutuhkan satu
orang saja yang bisa kita percaya, untuk berbagi, bercerita, tertawa, dan
menangis bersama, dan setidaknya satu orang saja yang kita sayang.
Rhea
juga yang mengajarkan padaku bahwa tak ada kehidupan yang sia-sia. Semua
kehidupan memiliki maknanya masing-masing. Walau memang harus ada tangis
terlebih dahulu, tapi sebenarnya ada tawa yang akan terselip di dalamnya.
Dan
sekarang, aku telah menemukan satu orang itu. Satu orang yang akan berbagi,
bercerita, tertawa dan menangis bersamaku, dan satu orang yang akan aku sayangi
sepenuh hatiku. Dia adalah Rhea Agatha, sahabatku. Rhea adalah tawa yang
terselip dalam kehidupanku yang penuh tangis.
Ternyata
banyak hal yang membuat aku dan Rhea semakin dekat. Tanggal lahir kami sama.
Kami pun sama-sama menyukai pasta. Aku sangat suka melukis dan Rhea sangat suka
memotret. Kami sering pergi bersama untuk mencari objek yang bagus & banyak
lagi kesamaan antara kami.
Keluarga
Rhea adalah keluarga yang kaya-raya dan terpandang. Namun walau begitu Rhea
tidak pernah membeda-bedakan orang menurut financial nya. Dia tidak pernah
memilih-milih teman. Dia berteman dengan siapapun yang ingin berteman
dengannya.
Tapi
ada satu kebiasaan Rhea yang slalu membuat ku heran. Dia selalu terjatuh ketika
olahraga. Jika sedang berlari, melompat, berjalan cepat, bahkan saat melakukan
server. Bahkan, saat berjalan pun dia sering kehilangan keseimbangan dan
terjatuh. Mungkin akan terasa wajar jika tak sering, tapi setiap hari Rhea
pasti kehilangan keseimbangan ketika berjalan. Aku menjadi curiga, apa
sebenarnya yang terjadi pada Rhea. Tapi aku tak pernah menanyakan sebabnya,
karena menurutku, jika memang aku perlu mengetahuinya, Rhea pasti akan
memberitahuku.
Tak
terasa waktu berlalu cepat, aku dan Rhea kini telah duduk dibangku kelas XII,
walaupun berbeda kelas, namun kami selalu bertemu setiap hari di jam istirahat.
Kami selalu berbagi cerita dan hal-hal yang kami alami. Rhea selalu ada disaat
aku membutuhkannya. Dia selalu menyodorkan bahunya saat aku sedih, selalu
menyeka setiap air mataku, selalu berusaha untuk kebahagiaanku, dan semua hal.
Aku sangat menyayanginya.
3
bulan lagi hari ulang tahun kami berdua, 18 september. Aku sangat beruntung,
ada seorang kolektor lukisan kaya raya yang tertarik akan lukisan ku. Dia
merencanakan akan membuat sebuah pameran lukisan dari lukisan-lukisanku. Dan
yang tak kalah membuatku bahagia, pameran itu diadakan tepat dihari ulang
tahunku.
Hari
ini aku dan Rhea pergi ke sebuah perbukitan untuk mencari objek lukisanku dan
objek yang akan di foto Rhea. Pemandangan disana sangat indah dan begitu
menenangkan. Aku langsung mempersiapkan alat lukisku, menyapukan warna-warni
ceria di kertas kanvasku.
Rhea
dengan sigapnya langsung memotret objek-objek dihadapannya, mata tajamnya
dengan teliti menangkap setiap detil keindahan. Aku pun tertarik untuk melukis
Rhea yang tengah serius memotret, aku kembali menyapukan cat ke kain kanvas.
Lama kami terlalu asyik dengan kesibukan kami, kemudian kami beristirahat di
bawah pohon rindang.
“nev,
3 bulan lagi kan ulang tahun kita yang ke 17, kamu mau kado apa dariku?”, tanya
rhea saat kami tengah beristirahat.
“aku
tak menginginkan apapun, aku hanya ingin kamu menjadi sahabatku untuk
selamanya. Sahabat yang selalu ada saat aku jatuh, saat aku ringkih, saat aku
tertawa, aku ingin kamu selalu ada disampingku”.
Rhea
terdiam, entah kenapa aku merasakan sorot kesedihan dari matanya. Kemudian Rhea
mengangguk sambil tersenyum. “pasti nev, aku akan tetap disini, tetap
disampingmu, tetap menjadi sahabatmu”.
Aku
tersenyum senang akan jawaban Rhea tersebut. Semoga, semoga aku dan Rhea akan
tetap menjadi sahabat sampai kami menua nanti.
“kamu
mau hadiah apa dariku rhe?”, aku balik bertanya
“aku
hanya ingin meminta satu hal nev, tak lebih”.
“apa
itu??”, tanyaku bingung
“aku
ingin, diantara banyak lukisanmu yang kau pajang di pameran nanti, disana ada
lukisan diriku, dan lukisanku itu akan menjadi karyamu yang special”, ucap Rhea
sambil menatapku.
Aku
pun mengangguk pasti, lalu memeluk Rhea erat. “Pasti rhe, lukisan dirimu akan
menjadi lukisan yang paling istimewa di pameranku nanti”.
Rhea
balas memelukku erat. Tuhan, aku harap aku dan rhea bisa bersama selamanya.
Rhea adalah satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku, satu-satunya orang
yang kusayangi, dan satu-satunya sahabat terbaikku.
2
bulan tlah berlalu, aku semakin sibuk memparsiapkan lukisan-lukisan yang akan
di pamerkan di pameran nanti. Pagi ini, aku tak melihat Rhea di sekolah. Saat
aku mendatangi kelasnya, teman sekelasnya berkata bahwa Rhea tidak masuk
sekolah hari ini. Sepulang sekolah, aku langsung mendatangi rumah Rhea. Kata
pembantu mereka, Rhea dan keluarganya pergi ke spore selama 1 minggu.
Aku
terkaget. Tak biasanya Rhea seperti ini. Biasanya jika Rhea bepergian dia
selalu memberitahuku terlebih dahulu. Jika ia tidak bisa memberitahu secara
langsung, dia selalu memberitahu lewat telepon atau sms. Perasaan ku menjadi
tak karuan, ada firasat buruk yang menghantui fikiranku. Ada apa ini, kemana
Rhea? Ada apa dengannya?
Satu
minggu berlalu, tak ada kabar apapun dari Rhea. Aku semakin khawatir, apakah
sesuatu hal yang buruk telah menimpanya? Tuhan, lindungilah Rhea dalam setiap
langkahnya. Jaga dia, peluklah Rhea saat dia terjatuh.
Aku
menjadi tak bisa berkonsentrasi untuk menyiapkan pameran. Padahal pameran akan
berlangsung 2 minggu lagi. Pikiranku kalut memikirkan Rhea. Kemanakah
sebenarnya sahabatku itu pergi?
Hari
itu hari jum’at, tepat 4 hari sebelum pameranku digelar. Aku mendapatkan
telepon dari sebuah nomor yang tak ku kenal. Was-was, aku pun mengangkat
telepon itu.
“datanglah
ke rumah sakit cipto mangunkusumo, masuklah ke kamar VVIP yang ada di lantai 2.
Seseorang membutuhkan bantuanmu”.
Ucap
suara dibalik telepon. Suara seorang laki-laki yang terdengar terbata. Kemudian
dia langsung menutup telepon tanpa mengijinkan aku untuk berbicara. Aku menjadi
panic, siapa yang dia maksud? Siapakah yang tengah membutuhkan bantuanku?
Tanpa
basa-basi aku segera menuju Rumah sakit itu. Di perjalanan, fikiranku tak
tenang, fikiranku kalut. Sejumlah pertanyaan selalu menghantui otakku. Tuhan,
semoga bukan hal buruk yang ku terima.
Sesampainya
di rumah sakit, aku langsung menuju kamar yang dimaksud lelaki di telepon tadi.
Dengan cepatnya aku menaiki tangga-tangga darurat. Terlalu lama jika harus
memakai lift.
Kini,
aku tengah berdiri di kamar yang dimaksud, pintu kamar ini tak berkaca sehingga
aku tak dapat mengintip keadaan di dalam. Perlahan aku memutar handle pintuitu
dan membukanya.
Kudapati
sesosok gadis cantik yang tengah terbaring lemah. Berbagai selang dan
kabel-kabel terhubung ke tubuh mulusnya. Seketika air mataku tumpah, semua
kebingungan, semua harapan, semua ha yang aku sangkal akan kebenarannya, semua
firasat buruk yang tlah ku tepis kini terjadi. Orang yang aku cari
keberadaannya kini tlah berada dihadapanku dengan kondisi yang membuatku miris.
Ya, gadis cantik yang terbaring lemah itu adalah Rhea.
Aku
langsung menghampiri tubuh lemah itu dan berdiri disampingnya. Disana sudah ada
orang tua Rhea yang selalu setia mendampinginya.
“apa
yang sebenarnya terjadi om, tante?”, tanyaku terbata. Kembali ku seka air
mataku yang menetes, tapi air mata ini tak bisa kuseka.
“sebenarnya,
sudah lama Rhea mengidap sebuah penyakit langka, penyakit yang menyerang
seluruh persendiannya yang mengakibatkan Rhea sering kehilangan keseimbangannya
dan lama kelamaan penyakit itu membuatnya lumpuh. Dokter tak mampu mengobatinya
karena memang para dokter belum menemukan obatnya. Yang bisa kita lakukan
sekarang hanyalah berdoa, semoga akan datang keajaiban dari tuhan” ucap papah
Rhea terbata.
Tangisku
pecah, ku peluk tubuhnya yang terasa dingin, seluruh wajahnya tampak sangat
pucat, aku sungguh tak tega melihatnya seperti ini. Tuhan, dia adalah senyumku,
jangan kau biarkan senyumku itu pergi lagi dari hidupku.
“Rhea
ingin bertemu denganmu sebelum ia pergi” ucap mamah Rhea diiringi tangis.
Apa
maksud dari semua ini? Apakah Rhea tak mungkin bisa disembuhkan? Bukankah selalu
ada jalan keluar dalam setiap permasalahan? Namun mengapa tak kau berikan jalan
untuk kesembuha Rhea tuhan?
“Rhe,
kau ingat janjimu, janji untuk tak meninggalkanku, janji untuk selalu ada
disampingku dalam keadaan apapun, janji untuk bersamaku sampai kita menua
nanti? Mampukah kau menepati janji itu? Aku tak akan meminta hal lain rhe, aku
hanya meminta kamu jangan pergi”, ucapku diiringi tangis.
Ku
lihat cairan bening menetes dari mata Rhea. Dia bisa mendengarku? Dia bisa
merasakan keberadaanku disini?
Namun
tiba-tiba nafas Rhea tersengal, detak jantungnya berpacu lebih cepat namun
dengan cepatnya kembali melemah. Aku langsung menekan tombol darurat, dengan
cepat dokter pun datang dan langsung memeriksa Rhea. Kami semua panic.
Dokter
langsung mengambil alat pacu jantung dan tak lama, alat pendeteksi jantung iu
berdengung. Terlihat garis datar di monitornya. Dokter mulai menghentikan
segalah aktivitasnya. Kekhawatiranku memuncak. Tuhan…… tolong aku!
“maaf,
dia telah pergi”, ucap dokter sambil menggeleng lemah.
Tangisku
pecah, seluruh tubuhku terasa begitu lemah. Aku langsung memeluk tubuh Rhea
yang terasa dingin.
“bukan
ini akhir yang seharusnya Rhe, bukan seperti ini caranya kamu harus pergi!”,
teriakku histeris.
Aku merasakan pandangan mataku memudar, dan
tak lama, semuanya terasa gelap dimataku.
Kupandangi
sebuah lukisan gadis cantik dihadapanku, gadis yang dengan seriusnya memotret
sekitarnya dan tak sadar bahwa ia tengah dilukis.
Hidup adalah
sebuah perjalanan panjang nan melelahkan. Hidup adalah sebuah keputusan penuh
konsekuensi. Setiap hal yang kita lakukan, pasti akan ada konsekuensi yang
harus kita terima.
Hidup adalah
kisah rumit yang tak kekal. Begitupun persahabatanku dan Rhea. Setiap yang dipertemukan pasti akan
dipisahkan begitupun dengan setiap
yang didekatkan pasti akan dijauhkan.
Aku percaya,
tuhan telah memiliki jalan yang indah untuk Rhea. Rhea telah pergi ke rumah
tuhan, aku yakin, tuhan akan menjaganya, tuhan akan menyayangi dan
melindunginya lebih dari yang bisa kulakukan untuknya.
Rhe,
kini kutepati janjiku. Lukisan dirimu, adalah karyaku yang paling special.
Kecantikanmu yang bukan hanya dari raga, tapi juga dari hatimu menarik banyak
simpati pengunjung pameran. Mereka selalu memuji wajah ayu-mu.
Rhe, terima
kasih karena kau telah mengajarkan padaku apa arti dari kehidupan ini. Terima
kasih atas semua kasih sayangmu yang tulus. Seperti yang pernah ku katakan, kau
adalah senyum ditengah tangisku.
Rhe, jadilah
bintang terang dilangit sana. Biarkanlah sinarmu menerangi setiap hati yang
kelam. Buatlah wajah-wajah yang penuh tangis tersenyum bahagia. Jadilah yang
terindah dilangit sana, karena cahayamu lebih terang dari Sirius.
Istirahatlah
dengan tenang, sampaikan salamku pada tuhan. Aku tak sabar untuk menyusulmu.
Tunggu aku disurga ya, kamu akan selalu menjadi senyum disela tangisku.
Tunggu aku
di singgahsana surgamu J .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar