Kamis, 09 Agustus 2012

seulas senyum dalam tangisku - cerpen


S
etiap cerita memliki jalannya masing-masing. Begitupun kisahku, sebuah kisah sederhana, kisah tentang sebuah perjalanan panjang dan menyedihkan, kisah tentang getirnya kehidupanku, kisah dimana ada tawa terselip dalam setiap tangis.
Aku ditinggalkan kedua orang tuaku. Mereka telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya tanpa bisa aku berjumpa kembali dengannya. Sebuah kecelakaan pesawat telah mengambil mereka dari kehidupanku yang “dulu” bahagia. Dulu dalam tanda kutip, karena kehidupanku saat ini memang jauh dari kata bahagia.
Setelah kedua orang tuaku meninggal, perusahaan mereka terlilit masalah yang mengakibatkan perusahaan itu bangkrut. Semua harta benda yang dimiliki orang tuaku disita oleh bank. Perusahaan, hotel, mobil, bahkan rumah yang kami tempati. Aku sungguh terpukul saat itu, apalagi saat itu aku masih berumur 8 tahun. Aku tak tau harus berbuat apa dan bagaimana melanjutkan hidupku.
Setelah itu, aku diasuh oleh tante ku, adik papah di Jogjakarta. Namun sepertinya, dia tak suka padaku. Dia selalu bersikap kasar padaku, dia selalu menyebut-nyebut bahwa aku adalah pembawa sial, dia selalu menyalahkanku atas peristiwa yang menimpa kedua orang tuaku. Karena pada saat itu, mereka pergi ke Singapore untuk menemui salah satu dokter yang akan mengobatiku. Ya, aku sakit, arthithis rheumatoid atau yang biasa dikenal dengan penyakit lupus.
Aku pun tak tau kenapa tuhan memilih aku untuk mengidap penyakit itu, kenapa dari sekian banyak orang aku yang harus menderita penyakit ini. Penyakit ini menjadikan ruang gerak hidupku terasa sempit, sangat sempit. Aku tak bisa melakukan semua hal yang aku mau dengan bebas, selalu ada batas, selalu terkekang.
Untungnya tante ku masih berbaik hati, dia mau membiayai seluruh pengobatanku. Hanya saja, aku sungguh tak sanggup menghadapi sikapnya yang begitu dingin. Sangat membuat hatiku ini sakit, bahkan dia sempat berkata “kenapa kamu tidak mati saja bersama kedua orang tuamu, kau hanyalah pembawa sial”. Siapa pun orangnya pasti akan sakit hati mendengar perkataan itu.
Aku ingin pergi meninggalkan rumah ini. Tapi, kemana aku bisa pergi? Aku tak punya saudara selain tante ku ini. Mengingat usiaku yang masih kecil dan tak mengerti apa-apa, apa yang bisa ku lakukan diluar sana seorang diri?
Semua keadaan itu terus bertahan sampai aku tlah menginjak kelas 3 SMP. Disekolah pun aku tak mempunyai teman karena aku orang yang antisocial, aku terus menutup diri, jika ada yang menghampiri maka aku akan pergi. Aku hanya tak ingin kembali merasakan rasa sayang lalu aku ditinggalkan orang yang kusayangi. Aku tak ingin merasa sakit lagi, aku tak mau kehampaan yang dulu terulang lagi.
Dan tak sedikit pula diantara teman sekolah ku yang tak mau berteman denganku karena aku penyakitan. Tak sedikit di antara mereka yang selalu menatapku dengan tatapan kasihan. Ingin aku berteriak pada mereka, bahwa aku tak butuh dikasihani. Aku dapat melanjutkan hidupku tanpa rasa kasihan dari mereka.
Sampai aku lulus SMP dan masuk sebuah SMA di Jakarta, aku memutuskan untuk tinggal di Jakarta dengan alasan sekolah disana lebih bagus dari pada di Yogyakarta. Tentu saja tante ku sangat bersykur dengan kepergianku karena tak ada lagi wajah yang selalu membuatnya marah. Tapi walaupun begitu, dia rutin mengirimkan uang untuk biayaku berobat. Tapi untuk kebutuhanku aku bekerja paruh waktu di sebuah café sebagai waiters.
Awal aku masuk SMA, semuanya terasa biasa saja, tak ada yang berbeda dari masa SMP. Aku masih menutup diri dan antisocial. Aku sudah terbiasa dalam kesendirian. Aku yakin, aku dapat melalui hidup ini sendiri.
Sampai pada suatu hari, aku bertemu dengan Rhea, orang yang membuat hidupku berubah menjadi lebih berwarna. Hidupku yang hanya dihiasi warna kelabu tlah dia hias dengan warna-warni indah.
Pertemuanku dengan Rhea pun karena tak kesengajaan dan terkesan klasik. Siang itu pulang sekolah, aku menunggu bus yang biasa aku tumpangi. Namun satu jam tlah berlalu, bus yang searah dengan rute ku belum juga datang .
Udara siang itu sangat panas, matahari begitu teriknya dan mampu membuat kulit terasa terbakar. Di tengah aku menunggu bus, kepala ku terasa begitu berat. Sepertiya penyakit ku kambuh lagi. Semakin aku mencoba menahan, kepalaku semakin terasa berat, pandangan mataku semakin memudar, sampai akhirnya, semuanya terasa sangat gelap.
Ketika aku terbangun dari pingsan, aku melihat seorang gadis cantik yang tengah duduk dismpingku. Dia terlihat sangat cantik, rambutnya yang hitam legam panjang terurai, hidungnya yang mancug, kulitnya yang kuning langsat, dan keseluruhan detail wajahnya yang sangat indah. Aku sempat berfikir, apakah aku berada di surga sehingga aku melihat seorang bidadari.
“kamu sudah sadar” Tanya gadis cantik itu, sekaligus menyadarkanku bahwa aku masih berada di dunia kejam ini.
“aku dimana?” Tanya ku bingung
“kamu ada dirumahku, tadi kamu pingsan di halte bus, makanya aku bawa kamu kerumahku” ucapnya, suaranya terdengar begitu lembut.
Aku memijat-mijat keningku yang kembali terasa begitu sakit. Huft, kenapa bisa aku sampai pingsan tadi? Pasti karena aku belum minum obat.
“kamu siswi X.4 kan? Aku sering melihatmu di depan kelas X.4. Siapa namamu?”, ia kembali bertanya.
“iya, namaku Neva, Neva Elvira”, jawabku.
“perkenalkan, aku Rhea, Rhea Agatha siswi X.5”, gadis itu mengulurkan tangannya lalu aku pun menjabat tangannya, dia tersenyum manis.
“sepertinya aku harus pulang”, ujarku
“baiklah, ayo aku antar”, tawar nya.
“tidak usah, aku bisa pulang sendiri”.
“sudahlah, aku tak ingin kamu pingsan di jalan untuk yang kedua kalinya”, ucap Rhea agak memaksa, aku pun tak bisa menolaknya untuk mengantarku pulang ke kost-an.
Sejak saat itu, rhea selalu menghampiriku pada jam istirahat. Dia gadis yang sangat ramah dan riang. Dia selalu menanyakan kondisiku dan mengingatkan aku untuk menjaga kesehatanku agar peristiwa aku pingsan di halte bus itu tak terulang kembali.
Walaupun aku terus menolak dan menjauhinya, tapi rhea tetap saja tak berhenti menghampiriku dan perduli padaku. Aku yang terbiasa dengan kesendirian menjadi terusik oleh kehadirannya yang sedikit banyak membuat hidupku lebih ramai.
Namun, tak perduli seberapa keras aku menjauh darinya, rhea tak pernah mundur. Itulah yang membuat hatiku lama-kelamaan mencair. Dan satu hal yang membuat rhea berbeda dengan teman-teman yang lain, dia tidak pernah memandangku dengan pandangan mengkasihani. Dia tulus ingin menjadi temanku, bukan karena dia kasihan padaku.
Sejak itulah kami menjadi dekat, aku yang antisocial pun perlahan mulai berbaur dengan yang lain, dan itu semua karena rhea. Rhea yang mengingatkanku bahwa dalam kehidupan ini kita tidak bisa hidup sendiri, kita setidaknya membutuhkan satu orang saja yang bisa kita percaya, untuk berbagi, bercerita, tertawa, dan menangis bersama, dan setidaknya satu orang saja yang kita sayang.
Rhea juga yang mengajarkan padaku bahwa tak ada kehidupan yang sia-sia. Semua kehidupan memiliki maknanya masing-masing. Walau memang harus ada tangis terlebih dahulu, tapi sebenarnya ada tawa yang akan terselip di dalamnya.
Dan sekarang, aku telah menemukan satu orang itu. Satu orang yang akan berbagi, bercerita, tertawa dan menangis bersamaku, dan satu orang yang akan aku sayangi sepenuh hatiku. Dia adalah Rhea Agatha, sahabatku. Rhea adalah tawa yang terselip dalam kehidupanku yang penuh tangis.
Ternyata banyak hal yang membuat aku dan Rhea semakin dekat. Tanggal lahir kami sama. Kami pun sama-sama menyukai pasta. Aku sangat suka melukis dan Rhea sangat suka memotret. Kami sering pergi bersama untuk mencari objek yang bagus & banyak lagi kesamaan antara kami.
Keluarga Rhea adalah keluarga yang kaya-raya dan terpandang. Namun walau begitu Rhea tidak pernah membeda-bedakan orang menurut financial nya. Dia tidak pernah memilih-milih teman. Dia berteman dengan siapapun yang ingin berteman dengannya.
Tapi ada satu kebiasaan Rhea yang slalu membuat ku heran. Dia selalu terjatuh ketika olahraga. Jika sedang berlari, melompat, berjalan cepat, bahkan saat melakukan server. Bahkan, saat berjalan pun dia sering kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Mungkin akan terasa wajar jika tak sering, tapi setiap hari Rhea pasti kehilangan keseimbangan ketika berjalan. Aku menjadi curiga, apa sebenarnya yang terjadi pada Rhea. Tapi aku tak pernah menanyakan sebabnya, karena menurutku, jika memang aku perlu mengetahuinya, Rhea pasti akan memberitahuku.
Tak terasa waktu berlalu cepat, aku dan Rhea kini telah duduk dibangku kelas XII, walaupun berbeda kelas, namun kami selalu bertemu setiap hari di jam istirahat. Kami selalu berbagi cerita dan hal-hal yang kami alami. Rhea selalu ada disaat aku membutuhkannya. Dia selalu menyodorkan bahunya saat aku sedih, selalu menyeka setiap air mataku, selalu berusaha untuk kebahagiaanku, dan semua hal. Aku sangat menyayanginya.
3 bulan lagi hari ulang tahun kami berdua, 18 september. Aku sangat beruntung, ada seorang kolektor lukisan kaya raya yang tertarik akan lukisan ku. Dia merencanakan akan membuat sebuah pameran lukisan dari lukisan-lukisanku. Dan yang tak kalah membuatku bahagia, pameran itu diadakan tepat dihari ulang tahunku.
Hari ini aku dan Rhea pergi ke sebuah perbukitan untuk mencari objek lukisanku dan objek yang akan di foto Rhea. Pemandangan disana sangat indah dan begitu menenangkan. Aku langsung mempersiapkan alat lukisku, menyapukan warna-warni ceria di kertas kanvasku.
Rhea dengan sigapnya langsung memotret objek-objek dihadapannya, mata tajamnya dengan teliti menangkap setiap detil keindahan. Aku pun tertarik untuk melukis Rhea yang tengah serius memotret, aku kembali menyapukan cat ke kain kanvas. Lama kami terlalu asyik dengan kesibukan kami, kemudian kami beristirahat di bawah pohon rindang.
“nev, 3 bulan lagi kan ulang tahun kita yang ke 17, kamu mau kado apa dariku?”, tanya rhea saat kami tengah beristirahat.
“aku tak menginginkan apapun, aku hanya ingin kamu menjadi sahabatku untuk selamanya. Sahabat yang selalu ada saat aku jatuh, saat aku ringkih, saat aku tertawa, aku ingin kamu selalu ada disampingku”.
Rhea terdiam, entah kenapa aku merasakan sorot kesedihan dari matanya. Kemudian Rhea mengangguk sambil tersenyum. “pasti nev, aku akan tetap disini, tetap disampingmu, tetap menjadi sahabatmu”.
Aku tersenyum senang akan jawaban Rhea tersebut. Semoga, semoga aku dan Rhea akan tetap menjadi sahabat sampai kami menua nanti.
“kamu mau hadiah apa dariku rhe?”, aku balik bertanya
“aku hanya ingin meminta satu hal nev, tak lebih”.
“apa itu??”, tanyaku bingung
“aku ingin, diantara banyak lukisanmu yang kau pajang di pameran nanti, disana ada lukisan diriku, dan lukisanku itu akan menjadi karyamu yang special”, ucap Rhea sambil menatapku.
Aku pun mengangguk pasti, lalu memeluk Rhea erat. “Pasti rhe, lukisan dirimu akan menjadi lukisan yang paling istimewa di pameranku nanti”.
Rhea balas memelukku erat. Tuhan, aku harap aku dan rhea bisa bersama selamanya. Rhea adalah satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku, satu-satunya orang yang kusayangi, dan satu-satunya sahabat terbaikku.
2 bulan tlah berlalu, aku semakin sibuk memparsiapkan lukisan-lukisan yang akan di pamerkan di pameran nanti. Pagi ini, aku tak melihat Rhea di sekolah. Saat aku mendatangi kelasnya, teman sekelasnya berkata bahwa Rhea tidak masuk sekolah hari ini. Sepulang sekolah, aku langsung mendatangi rumah Rhea. Kata pembantu mereka, Rhea dan keluarganya pergi ke spore selama 1 minggu.
Aku terkaget. Tak biasanya Rhea seperti ini. Biasanya jika Rhea bepergian dia selalu memberitahuku terlebih dahulu. Jika ia tidak bisa memberitahu secara langsung, dia selalu memberitahu lewat telepon atau sms. Perasaan ku menjadi tak karuan, ada firasat buruk yang menghantui fikiranku. Ada apa ini, kemana Rhea? Ada apa dengannya?
Satu minggu berlalu, tak ada kabar apapun dari Rhea. Aku semakin khawatir, apakah sesuatu hal yang buruk telah menimpanya? Tuhan, lindungilah Rhea dalam setiap langkahnya. Jaga dia, peluklah Rhea saat dia terjatuh.
Aku menjadi tak bisa berkonsentrasi untuk menyiapkan pameran. Padahal pameran akan berlangsung 2 minggu lagi. Pikiranku kalut memikirkan Rhea. Kemanakah sebenarnya sahabatku itu pergi?
Hari itu hari jum’at, tepat 4 hari sebelum pameranku digelar. Aku mendapatkan telepon dari sebuah nomor yang tak ku kenal. Was-was, aku pun mengangkat telepon itu.
“datanglah ke rumah sakit cipto mangunkusumo, masuklah ke kamar VVIP yang ada di lantai 2. Seseorang membutuhkan bantuanmu”.
Ucap suara dibalik telepon. Suara seorang laki-laki yang terdengar terbata. Kemudian dia langsung menutup telepon tanpa mengijinkan aku untuk berbicara. Aku menjadi panic, siapa yang dia maksud? Siapakah yang tengah membutuhkan bantuanku?
Tanpa basa-basi aku segera menuju Rumah sakit itu. Di perjalanan, fikiranku tak tenang, fikiranku kalut. Sejumlah pertanyaan selalu menghantui otakku. Tuhan, semoga bukan hal buruk yang ku terima.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju kamar yang dimaksud lelaki di telepon tadi. Dengan cepatnya aku menaiki tangga-tangga darurat. Terlalu lama jika harus memakai lift.
Kini, aku tengah berdiri di kamar yang dimaksud, pintu kamar ini tak berkaca sehingga aku tak dapat mengintip keadaan di dalam. Perlahan aku memutar handle pintuitu dan membukanya.
Kudapati sesosok gadis cantik yang tengah terbaring lemah. Berbagai selang dan kabel-kabel terhubung ke tubuh mulusnya. Seketika air mataku tumpah, semua kebingungan, semua harapan, semua ha yang aku sangkal akan kebenarannya, semua firasat buruk yang tlah ku tepis kini terjadi. Orang yang aku cari keberadaannya kini tlah berada dihadapanku dengan kondisi yang membuatku miris. Ya, gadis cantik yang terbaring lemah itu adalah Rhea.
Aku langsung menghampiri tubuh lemah itu dan berdiri disampingnya. Disana sudah ada orang tua Rhea yang selalu setia mendampinginya.
“apa yang sebenarnya terjadi om, tante?”, tanyaku terbata. Kembali ku seka air mataku yang menetes, tapi air mata ini tak bisa kuseka.
“sebenarnya, sudah lama Rhea mengidap sebuah penyakit langka, penyakit yang menyerang seluruh persendiannya yang mengakibatkan Rhea sering kehilangan keseimbangannya dan lama kelamaan penyakit itu membuatnya lumpuh. Dokter tak mampu mengobatinya karena memang para dokter belum menemukan obatnya. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa, semoga akan datang keajaiban dari tuhan” ucap papah Rhea terbata.
Tangisku pecah, ku peluk tubuhnya yang terasa dingin, seluruh wajahnya tampak sangat pucat, aku sungguh tak tega melihatnya seperti ini. Tuhan, dia adalah senyumku, jangan kau biarkan senyumku itu pergi lagi dari hidupku.
“Rhea ingin bertemu denganmu sebelum ia pergi” ucap mamah Rhea diiringi tangis.
Apa maksud dari semua ini? Apakah Rhea tak mungkin bisa disembuhkan? Bukankah selalu ada jalan keluar dalam setiap permasalahan? Namun mengapa tak kau berikan jalan untuk kesembuha Rhea tuhan?
“Rhe, kau ingat janjimu, janji untuk tak meninggalkanku, janji untuk selalu ada disampingku dalam keadaan apapun, janji untuk bersamaku sampai kita menua nanti? Mampukah kau menepati janji itu? Aku tak akan meminta hal lain rhe, aku hanya meminta kamu jangan pergi”, ucapku diiringi tangis.
Ku lihat cairan bening menetes dari mata Rhea. Dia bisa mendengarku? Dia bisa merasakan keberadaanku disini?
Namun tiba-tiba nafas Rhea tersengal, detak jantungnya berpacu lebih cepat namun dengan cepatnya kembali melemah. Aku langsung menekan tombol darurat, dengan cepat dokter pun datang dan langsung memeriksa Rhea. Kami semua panic.
Dokter langsung mengambil alat pacu jantung dan tak lama, alat pendeteksi jantung iu berdengung. Terlihat garis datar di monitornya. Dokter mulai menghentikan segalah aktivitasnya. Kekhawatiranku memuncak. Tuhan…… tolong aku!
“maaf, dia telah pergi”, ucap dokter sambil menggeleng lemah.
Tangisku pecah, seluruh tubuhku terasa begitu lemah. Aku langsung memeluk tubuh Rhea yang terasa dingin.
“bukan ini akhir yang seharusnya Rhe, bukan seperti ini caranya kamu harus pergi!”, teriakku histeris.
Aku merasakan pandangan mataku memudar, dan tak lama, semuanya terasa gelap dimataku.
Kupandangi sebuah lukisan gadis cantik dihadapanku, gadis yang dengan seriusnya memotret sekitarnya dan tak sadar bahwa ia tengah dilukis.
Hidup adalah sebuah perjalanan panjang nan melelahkan. Hidup adalah sebuah keputusan penuh konsekuensi. Setiap hal yang kita lakukan, pasti akan ada konsekuensi yang harus kita terima.
Hidup adalah kisah rumit yang tak kekal. Begitupun persahabatanku dan Rhea. Setiap yang dipertemukan pasti akan dipisahkan begitupun dengan setiap yang didekatkan pasti akan dijauhkan.
Aku percaya, tuhan telah memiliki jalan yang indah untuk Rhea. Rhea telah pergi ke rumah tuhan, aku yakin, tuhan akan menjaganya, tuhan akan menyayangi dan melindunginya lebih dari yang bisa kulakukan untuknya.
Rhe, kini kutepati janjiku. Lukisan dirimu, adalah karyaku yang paling special. Kecantikanmu yang bukan hanya dari raga, tapi juga dari hatimu menarik banyak simpati pengunjung pameran. Mereka selalu memuji wajah ayu-mu.
Rhe, terima kasih karena kau telah mengajarkan padaku apa arti dari kehidupan ini. Terima kasih atas semua kasih sayangmu yang tulus. Seperti yang pernah ku katakan, kau adalah senyum ditengah tangisku.
Rhe, jadilah bintang terang dilangit sana. Biarkanlah sinarmu menerangi setiap hati yang kelam. Buatlah wajah-wajah yang penuh tangis tersenyum bahagia. Jadilah yang terindah dilangit sana, karena cahayamu lebih terang dari Sirius.
Istirahatlah dengan tenang, sampaikan salamku pada tuhan. Aku tak sabar untuk menyusulmu. Tunggu aku disurga ya, kamu akan selalu menjadi senyum disela tangisku.
Tunggu aku di singgahsana surgamu J .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar