Kamis, 09 Agustus 2012

Hidden lover - cerpen


Cinta, tak ada kata yang bisa ku deskripsikan tentangnya. Karena yang aku tau, cinta adalah kamu!
Jika kamu adalah sebuah mimpi bagiku, maka izinkan aku untuk tetap terlelap. Jangan  biarkan aku terjaga, biarkanlah semua tentangmu mengalir dalam mimpiku, biarkanlah semua inginku padamu terjadi dalam mimpiku, biarlah! Karena jika aku terjaga, semua rasa yang bergejolak dalam hatiku akan menjadi kosong. Semua angan dan harap akan musnah. Semua cita dan cinta yang ku inginkan hanyalah sebuah ingin tanpa nyata.
Ini mungkin akan menjadi sebuah prolog, atau hanya sebuah ungkapan hati yang tak dapat ku ucapkan langsung dengan bibirku. Dan ini, hanyalah sebuah cerita sederhana. Tentang mencintai, tanpa bisa memiliki. Tentang harapan, yang tak dapat terwujud. Tentang penantian, yang menjadi sia-sia. Terlepas dari ini kisahku atau bukan, ini hanyalah torehan imajinasi yang ku lukis dengan rasa dalam hatiku.
({})
Ku ingin menyatakan cintaku
Namun waktu takkan mungkin mengijinkanku
Membahas tentang cinta, aku mempunyai sebuah cerita. Tentang aku yang mengagumi dia, dia yang awalnya tak ku kenal sama sekali. Dia yang waktu pertama ku melihatnya, tak pernah ada getaran berbeda. Dia, yang walaupun tak memikatku waktu pertama mehilatnya, namun selalu memberi kesan yang tak dapat ku lupakan.
Pertama kali aku mengenalnya yaitu bukan dengan melihatnya secara langsung melainkan dari sebuah foto milik temanku. Aku tak langsung menyukainya saat melihat foto itu, karena bagiku, love at first sight itu tak ada. Hanya, entah kenapa. Saat-saat pertama kali aku mengenal wajahnya lewat foto itu, tak pernah bisa ku lupakan, sampai saat ini.
Dan sama sekali aku tak mengetahui namanya, dan enggan untuk bertanya. Dalam fikiranku, buat apa aku bertanya siapa namanya? Toh, aku tak menyukainya.
Namun akhirnya, takdir membuat aku mengetahui namanya lewat sebuah acara sekolah. Ternyata namanya cakka nuraga. Tanpa sengaja aku dan dia menjadi satu kelompok dan mau tak mau bertugas bersama.
Saat bertugas bersama itulah kami akhirnya saling mengenal. Tak lama waktu untuk kami akrab, dalam waktu kurang dalam satu hari, kami langsung bisa mengakrabkan diri. Dia, pribadi yang menyenangkan dan humoris.
Walau hatiku tak bisa mengingkari
Perasaan ini sungguh membebani
Sekali lagi ku jelaskan, tak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab. Di hari berikutnya, tiba-tiba saja ada seorang temanku yang menggoda kedekatanku dengan cakka. Katanya, karena aku dan cakka selalu berduaan J.
Entah bagaimana candaan temanku itu menular ke seluruh teman-temanku. Dan akhirnya, aku dan cakka selalu menjadi bahan ledekan. Namun tak terpikir bagiku semuanya akan jadi seperti ini, karena pada awalnya, otak nakalku sempat berfikir kalau lucu juga jika di gosipkan dengan cakka. Dan ternyata, hmmmm, itu terjadi dan aku tak menduganya.
Tak butuh waktu lama juga, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rasa yang memberontak dalam hatiku saat aku bersamanya. Ada sebuah rasa yang menggebu, yang membuat hatiku tak karuan. Degupan jantungku, tak dapat ku atur saat aku berbincang dengannya, selalu berdegup tak teratur dan kencang.
Dan saat itu juga, aku mulai menyadarinya. Aku mungkin mulai menyukainya. Ya, aku menyukainya, dan pada kenyataannya, aku bukanlah orang yang mudah menyukai seseorang. Berarti, cakka memiliki sesuatu yang begitu berbeda hingga dia mampu membuatku menyukainya dalam waktu singkat.
Perasaan ini tak terkendali, semakin menggila, semakin meronta, dan semakin membuat hatiku tak menentu. Dan aku pun sadar, perasaan ini tak bisa ku tahan lagi, tak bisa kuhapuskan.
Kini hatimu tlah mencintainya
Yang tak mungkin bisa ku memaksakannya
Namun sepertinya, luka-lukaku sebelumnya terulang lagi. Dan lagi untuk kesekian kalinya, aku menyukai seseorang yang ternyata telah dimiliki orang lain. Ya, dia sudah mempunyai pacar.
Saat itu juga, aku langsung berusaha sekuat tenagaku untuk menghilangkan semua perasaanku pada cakka. Sebelum perasaan ini semakin membesar, sebelum aku terlanjur mencintainya, sebelum aku semakin terluka.
Namun, semua usahaku gagal. Dan aku pun sadar, aku terlanjur menyayangiya dan aku tak mampu menhapus semua rasa dalam hatiku. Dan akhirnya, aku hanya bisa membiarkan perasaan ini mengalir apa adanya. Membiarkannya mengalir seperti air. Membiarkannya dilukai.
Tak kusangkal jika perasaan ini semakin membesar. Bukan karena ku tak mau, tapi karena…… aku tak mampu untuk itu. Aku tak mampu untu melawannya. Karena jika semakin ku lawan, perasaan ini akan semakin menjadi-jadi. Dan pastinya, membuatku semakin sakit.
Tanpa sengaja, aku dan cakka masuk ke dalam club yang sama, club pencinta alam. Aku sendiri memilih club itu karena aku memang suka menjelajah gunung ataupun hanya sekedar berjalan-jalan di gunung.
Karena satu club itulah, kami menjadi semakin dekat. Dan aku semakin menyukainya. Kami menjadi sering menginap bersama di markas club bersama anggota yang lain. Namun kadang, kebiasaanku yang suka sembarangan makan dan makan tak teratur membuat maag ku suka kumat. Dan hal itu, seringkali membuat dia perhatian padaku. Dan aku, sangat menyukai perhatiannya itu. Walau seringkali perahtian itu ditunjukkan dengan cara mengomeli aku.
Namun aku tau, entahlah, namun hati ini yakin, bahwa sebenarnya, dia khawatir di dalam omelannya itu. Dan sesuatu yang membuatku sangat senang juga jika ada yang lebih mengkhawatirkanku daripada dia, dia akan bersikap seolah-olah marah. Haha… lucunya cakka. Dan itu semakin membuat aku semakin menyukainya.
ku hanya manusia yang tak pernah bisa
memaksakan cinta pada dirinya
Setiap candaannya dan perkataannya selalu terngiang-ngiang dalam ingatanku. Setiap ekspresi wajahnya, setiap tatapannya padaku selalu terekam dalam memoriku. Setiap hal yang kami lakukan bersama, tak akan mungkin pernah bisa ku lupakan.
Aku semakin ingin memilikinya, semakin besar harapanku untuk dapat bersamanya. Namun, aku sadar betul. Aku bukanlah wanita yang pantas untuk dapat memilikinya. Aku tak mempunyai apapun yang bisa kuperjuangkan untuk mendapatkannya. Karena, yang ku miliki, hanyalah cinta.
Keinginan ini semakin meledak-ledak, membuatku sesak, membuatku sakit. Tuhan… bantu aku untuk dapat memilikinya…
Yang bisa ku perbuat hanyalah menunggu, dan bersabar. Aku tak mungkin berjuang mendapatkannya, karena dia sudah ada yang punya. Mungkin keadaannya akan lebih mudah jika dia masih sendiri, namun nyatanya, dia tak sendiri lagi.
Andai aku lebih dulu mengenalnya daripada wanita itu, mungkin saja, aku yang sekarang bersama cakka, bukan wanita itu. Bukan dia! Dan akhirnya, aku hanya bisa berdoa kepada allah agar cakka menjadi milikku. Setiap seusai shalat, itulah yang ku minta pertama kali. Aku selalu berdoa agar dia menjadi milikku!
Dan ada saat dimana seseorang yang dekat denganku mengatakan, bahwa ia menyukaiku dan ingin menjadi pacarku. Langsung saja hatiku tak karuan. Di satu sisi, aku sangat mencintai cakka dan masih berharap memilikinya, dan di sisi lain dia baik dan dekat denganku.
Setelah ku fikirkan, aku putuskan untuk menolaknya. Hanya karena aku tak ingin hubungan ku dan cakka berubah jika aku menerimanya. Aku tak rela, jika aku dan cakka akan menjauh hanya karena aku mempunyai pacar.
Dan begitu seterusnya. Aku tak rela jika keadaanku dan cakka akan berubah. Biarlah aku selalu sendiri, yang penting, aku masih bisa merasakan kedekatanku bersama cakka.
Namun ku tak mampu menahan rasaku
Namun ku tak sanggup melepas dirimu
Dan kini, satu setengah tahun lebih aku membiarkan harapan itu tetap ada dalam hatiku. Tak mampu membunuhnya, tak mampu mengusiknya. Satu setengah tahun lebih aku mengenalnya, bersamanya, bercanda dengannya, dan semua hal bersamanya.
Club pencinta alampun menjadi salah satu factor yang membuat aku lebih dekat dengannya. Dan aku bersyukur untuk itu. Karenanyalah aku selalu bersemangat jika ada acara-acara club, sebisa mungkin aku mengikutinya. Karena aku tak mau melewatkan satu kesempatanpun bersamanya.
Dan jadwal bulan ini, kami akan mengadakan camp di daerah sumedang. Mungkin untuk tiga atau empat hari. Aku pun mengikuti camp ini dengan suka cita. Karena, saat camp tahun lalu, ada kenangan indah bersama cakka. Dan aku berharap, atau lebih tepatnya sangat berharap agar kejadian lebih indah dari tahun lalu akan terjadi di camp kali ini.
Camp pun sudah berjalan satu hari. Rencananya hari ini kami akan menyisir sekitar air terjun dan masuk ke dalam gunung. Semangatku agak turun karena aku dan cakka di regu berbeda. Aku regu 08 sedangkan cakka 09. Tapi untunglah, karena hanya berselisih satu angka, kami jalan bersama ke area yang sudah di tentukan.
Dan aku bahagia, candanya, rayuannya, senyuman nakalnya, tatapan tajamnya, hari ini lengkap sudah ku dapatkan. Walau letih, karena masuk kedalam gunung, juga karena kemiringan gunung yang hampir 75®, tapi aku sangat bahagia.
Seusai mandi setelah masuk gunung. Aku pun duduk bersama teman-temanku yang lain. Lalu dia datang dan kami pun berbincang bersama. Dia duduk di sebelahku, jantungku pun terasa semakin berdegup kencang.
Sepertinya kakiku sedikit terkilir atau apa karena masuk gunung tadi. Iseng, aku meminta dia untuk memijit kaki ku. Dan tak ku sangka, dia langsung memijit pergelangan kakiku yang memang terasa begitu sakit.
Dan yang membuatku heran dan sedikit takut, dia bilang kalau pergelangan kakiku retak. Masa sih? Aku pun sedikit merasa ngeri jika benar kakiku retak. Tapi biarlah, nanti juga sembuh.
Dia masih duduk disampingku, akhirnya karena merasa lelah, aku pun berbaring dalam pangkuannya. Rasanya, begitu nyaman, sangat nyaman berada dalam pangkuannya. Rasanya, aku tak ingin saat itu berakhir begitupu saat sebaliknya, saat dia yang tidur dalam pangkuanku. Sunguh, aku tak ingin semua itu berakhir!
Tuhan, aku semakin tak mampu menahan gejolak rasa dalam hatiku ini, dan semua ini, membuat aku lebih sakit! Karena aku, tak mampu memilikinya.
Hanya lewat nada-nada cinta yang ku tulis untukmu
Kan ku ungkapkan perasaanku
Hmmm… tak akan pernah bisa ku lupakan setiap detik, setiap kejadian di camp itu. Sungguh, semuanya akan selalu terekam dalam memoriku kka. Selalu!
Tak perduli kau menganggapku apa, tak perduli aku berarti untukmu atau tidak, tapi satu yang pasti, kau sangat berharga untukku. Dan tak perduli, apa perasaanmu terhadapku. Perasaanku padamu, akan tetap ada dan terjaga.
Hari itu, aku masuk ke markas pencinta alam. Ku lihat ada beberapa orang didalamnya dan salah satunya, cakka. Aku pun memasuki ruangan itu dan mendekati cakka yang tengah berbaring. Cakka yang melihat kedatanganku langsung menepuk sebuah bangku kecil di depannya, tanda menyuruhku duduk disitu.
Aku pun duduk di kursi kecil itu dan memandangnya yang tengah berbaring. Masih sangat lekat dalam ingatanku tatapan nakalnya saat itu. Sangat ku ingat!
Lalu ku lihat ada gitar di samping sofa panjang yang ditiduri cakka. Aku mengambilnya, dan memainkan sebuah lagu. Lagu yang ku rasa sangat tepat untuk menggambarkan perasaanku kepadanya. Lagu dari salah satu band indi, D’Wapinz yang berjudul nada-nada cinta. Aku pun mulai memetik gitarku.
            {Ku ingin menyatakan cintaku, Namun waktu takkan mungkin mengijinkanku, Walau hatiku tak bisa mengingkari, Perasaan ini sungguh membebani, Kini hatimu tlah mencintainya, Yang tak mungkin bisa ku memaksakannya, Ku hanya manusia yang tak pernah bisa, Memaksakan cinta pada dirinya, Namun ku tak mampu menahan rasaku, Namun ku tak sanggup melepas dirimu, Hanya lewat nada-nada cinta yang ku tulis untukmu, Kan ku ungkapkan perasaanku, Andai kau tau perasaanku keadamu, Yang tulus dan murni dari hatiku ini }
Namun di tengah lagu, cakka menaruh tangannya di tengah senar-senar gitar sehingga aku tak bisa meneruskan laguku. Aku pun menatapnya lalu melepaskan tangannya dari senar gitar. Ku lihat matanya terpejam, tapi dia tak mungkin tertidur.
Aku pun menyuruhnya untuk tak menganggu aku meminkan gitar karena aku tengah menyanyikan lagu ini untuknya. Walau dengan nada bergurau, tapi sebenrnya, lagu ini memang untuknya! Namun cakka hanya memejamkan matanya, berpura-pura tidur.
Kenapa tadi dia menghentikanku bernyanyi? Apakah, dia bisa merasakan bahwa lagu ini, tulus dari hatiku, untuknya! Semoga saja dia merasakan hal itu.
Andai kau tau perasaanku kepadamu
Yang tulus dan murni dari hatiku ini
Waktu berlalu cepat, tak kusangka sekarang tlah usai ujian nasional. Dan tak ku sangka juga, akan tiba saat dimana aku mungkin tak dapat melihat cakka lagi.
Aku tak mampu membayangkan hal itu terjadi. Karena setiap harinya aku selalu merindukannya, dan hanya dengan melihat punggungnya saja sudah lebih dari cukup untukku mengobati rinduku.
Dan sekarang, aku akan melewati hari-hariku tanpanya. Tanpa melihat senyumannya lagi. Tanpa mendengar suaranya lagi. Tanpa candanya, rayuannya, godaannya, senyuman nakalnya, tatapannya yang tajam. Tuhan, mampukah aku! Tapi, aku harus mampu! Hidupku harus terus berlanjut, walau tanpa cakka.
Dan tiba di hari perpisahan sekolah. Aku memakai kebaya biru muda, warna kesukaanku. Sesampainya di sekolah aku langsung bergabung bersama teman-temanku. Tapi, mataku tak henti mencari sosoknya. Sosok cakka!
Dimanakah dia? Akhirnya aku menemukannya. Mataku berbinar lega. Mungkin, ini adalah saat-saat terakhir aku dapat melihatnya. Ya, terakhir kalinya. Mungkin setelah perpisahan, kami tak dapat bertemu kembali. Dan memikirkan hal itu, membuatku sakit.
Di akhir acara. Aku kehilangan sosoknya, kemana dia? Fikiranku langsung kacau, bagaimana jika aku tak menemukannya sekarang? Tak ada yang dapat menjamin kalau aku akan bertemu dengannya hari esok.
Akhirnya, aku menemukannya. Aku langsung menghampirinya, melepas semua rasa malu karena aku menghampiri lelaki. Biarlah! Aku mendekatinya, dan memintanya untuk berfoto bersama. Akhirnya kami berfoto bersama. Aku pun merasa sangat lega, inilah kenangan terakhirku bersamanya.
Lalu, aku pun berpamitan pulang. Aku berjabat tangan dengannya dan mencium punggung tangannya. Lalu dia melempar sedikit candanya di sela kami berjabat tangan. Ada pula beberapa pesannya untukku. Mungkin, ini adalah candanya denganku yang terakhhir. Aku pun bergegas pulang, bersama teman-temanku, walau rasanya begitu berat untuk meninggalkan hari ini bersamanya.
Dan kini, sudah bertahun-tahun berlalu sejak perpisahan sekolah itu. Dan faktanya, perasaan ini masih ada, masih terjaga, masih tersimpan rapih dalam hatiku.
Aku melihat kembali fotoku dan cakka saat perpisahan. Menatapnya dalam. Aku merindukannya, sangat!
Biarlah semua kenangan ini tersimpan dalam memoriku karena pada dasarnya, perasaan ini pun tak berubah. Andai saja cakka mengetahui perasaan ini. Tapi biarlah, semuanya tlah berlalu. Dan aku, akan selalu menjaga perasaan ini, untuknya! Untuk cakka!
#cinta itu menyayangi dan membuat dia yang kita cintai bahagia, walau itu seringkali membuat kita menangis, tapi jika kita rela menangis untuknya, itulah cinta!
~END

seulas senyum dalam tangisku - cerpen


S
etiap cerita memliki jalannya masing-masing. Begitupun kisahku, sebuah kisah sederhana, kisah tentang sebuah perjalanan panjang dan menyedihkan, kisah tentang getirnya kehidupanku, kisah dimana ada tawa terselip dalam setiap tangis.
Aku ditinggalkan kedua orang tuaku. Mereka telah meninggalkan aku untuk selama-lamanya tanpa bisa aku berjumpa kembali dengannya. Sebuah kecelakaan pesawat telah mengambil mereka dari kehidupanku yang “dulu” bahagia. Dulu dalam tanda kutip, karena kehidupanku saat ini memang jauh dari kata bahagia.
Setelah kedua orang tuaku meninggal, perusahaan mereka terlilit masalah yang mengakibatkan perusahaan itu bangkrut. Semua harta benda yang dimiliki orang tuaku disita oleh bank. Perusahaan, hotel, mobil, bahkan rumah yang kami tempati. Aku sungguh terpukul saat itu, apalagi saat itu aku masih berumur 8 tahun. Aku tak tau harus berbuat apa dan bagaimana melanjutkan hidupku.
Setelah itu, aku diasuh oleh tante ku, adik papah di Jogjakarta. Namun sepertinya, dia tak suka padaku. Dia selalu bersikap kasar padaku, dia selalu menyebut-nyebut bahwa aku adalah pembawa sial, dia selalu menyalahkanku atas peristiwa yang menimpa kedua orang tuaku. Karena pada saat itu, mereka pergi ke Singapore untuk menemui salah satu dokter yang akan mengobatiku. Ya, aku sakit, arthithis rheumatoid atau yang biasa dikenal dengan penyakit lupus.
Aku pun tak tau kenapa tuhan memilih aku untuk mengidap penyakit itu, kenapa dari sekian banyak orang aku yang harus menderita penyakit ini. Penyakit ini menjadikan ruang gerak hidupku terasa sempit, sangat sempit. Aku tak bisa melakukan semua hal yang aku mau dengan bebas, selalu ada batas, selalu terkekang.
Untungnya tante ku masih berbaik hati, dia mau membiayai seluruh pengobatanku. Hanya saja, aku sungguh tak sanggup menghadapi sikapnya yang begitu dingin. Sangat membuat hatiku ini sakit, bahkan dia sempat berkata “kenapa kamu tidak mati saja bersama kedua orang tuamu, kau hanyalah pembawa sial”. Siapa pun orangnya pasti akan sakit hati mendengar perkataan itu.
Aku ingin pergi meninggalkan rumah ini. Tapi, kemana aku bisa pergi? Aku tak punya saudara selain tante ku ini. Mengingat usiaku yang masih kecil dan tak mengerti apa-apa, apa yang bisa ku lakukan diluar sana seorang diri?
Semua keadaan itu terus bertahan sampai aku tlah menginjak kelas 3 SMP. Disekolah pun aku tak mempunyai teman karena aku orang yang antisocial, aku terus menutup diri, jika ada yang menghampiri maka aku akan pergi. Aku hanya tak ingin kembali merasakan rasa sayang lalu aku ditinggalkan orang yang kusayangi. Aku tak ingin merasa sakit lagi, aku tak mau kehampaan yang dulu terulang lagi.
Dan tak sedikit pula diantara teman sekolah ku yang tak mau berteman denganku karena aku penyakitan. Tak sedikit di antara mereka yang selalu menatapku dengan tatapan kasihan. Ingin aku berteriak pada mereka, bahwa aku tak butuh dikasihani. Aku dapat melanjutkan hidupku tanpa rasa kasihan dari mereka.
Sampai aku lulus SMP dan masuk sebuah SMA di Jakarta, aku memutuskan untuk tinggal di Jakarta dengan alasan sekolah disana lebih bagus dari pada di Yogyakarta. Tentu saja tante ku sangat bersykur dengan kepergianku karena tak ada lagi wajah yang selalu membuatnya marah. Tapi walaupun begitu, dia rutin mengirimkan uang untuk biayaku berobat. Tapi untuk kebutuhanku aku bekerja paruh waktu di sebuah café sebagai waiters.
Awal aku masuk SMA, semuanya terasa biasa saja, tak ada yang berbeda dari masa SMP. Aku masih menutup diri dan antisocial. Aku sudah terbiasa dalam kesendirian. Aku yakin, aku dapat melalui hidup ini sendiri.
Sampai pada suatu hari, aku bertemu dengan Rhea, orang yang membuat hidupku berubah menjadi lebih berwarna. Hidupku yang hanya dihiasi warna kelabu tlah dia hias dengan warna-warni indah.
Pertemuanku dengan Rhea pun karena tak kesengajaan dan terkesan klasik. Siang itu pulang sekolah, aku menunggu bus yang biasa aku tumpangi. Namun satu jam tlah berlalu, bus yang searah dengan rute ku belum juga datang .
Udara siang itu sangat panas, matahari begitu teriknya dan mampu membuat kulit terasa terbakar. Di tengah aku menunggu bus, kepala ku terasa begitu berat. Sepertiya penyakit ku kambuh lagi. Semakin aku mencoba menahan, kepalaku semakin terasa berat, pandangan mataku semakin memudar, sampai akhirnya, semuanya terasa sangat gelap.
Ketika aku terbangun dari pingsan, aku melihat seorang gadis cantik yang tengah duduk dismpingku. Dia terlihat sangat cantik, rambutnya yang hitam legam panjang terurai, hidungnya yang mancug, kulitnya yang kuning langsat, dan keseluruhan detail wajahnya yang sangat indah. Aku sempat berfikir, apakah aku berada di surga sehingga aku melihat seorang bidadari.
“kamu sudah sadar” Tanya gadis cantik itu, sekaligus menyadarkanku bahwa aku masih berada di dunia kejam ini.
“aku dimana?” Tanya ku bingung
“kamu ada dirumahku, tadi kamu pingsan di halte bus, makanya aku bawa kamu kerumahku” ucapnya, suaranya terdengar begitu lembut.
Aku memijat-mijat keningku yang kembali terasa begitu sakit. Huft, kenapa bisa aku sampai pingsan tadi? Pasti karena aku belum minum obat.
“kamu siswi X.4 kan? Aku sering melihatmu di depan kelas X.4. Siapa namamu?”, ia kembali bertanya.
“iya, namaku Neva, Neva Elvira”, jawabku.
“perkenalkan, aku Rhea, Rhea Agatha siswi X.5”, gadis itu mengulurkan tangannya lalu aku pun menjabat tangannya, dia tersenyum manis.
“sepertinya aku harus pulang”, ujarku
“baiklah, ayo aku antar”, tawar nya.
“tidak usah, aku bisa pulang sendiri”.
“sudahlah, aku tak ingin kamu pingsan di jalan untuk yang kedua kalinya”, ucap Rhea agak memaksa, aku pun tak bisa menolaknya untuk mengantarku pulang ke kost-an.
Sejak saat itu, rhea selalu menghampiriku pada jam istirahat. Dia gadis yang sangat ramah dan riang. Dia selalu menanyakan kondisiku dan mengingatkan aku untuk menjaga kesehatanku agar peristiwa aku pingsan di halte bus itu tak terulang kembali.
Walaupun aku terus menolak dan menjauhinya, tapi rhea tetap saja tak berhenti menghampiriku dan perduli padaku. Aku yang terbiasa dengan kesendirian menjadi terusik oleh kehadirannya yang sedikit banyak membuat hidupku lebih ramai.
Namun, tak perduli seberapa keras aku menjauh darinya, rhea tak pernah mundur. Itulah yang membuat hatiku lama-kelamaan mencair. Dan satu hal yang membuat rhea berbeda dengan teman-teman yang lain, dia tidak pernah memandangku dengan pandangan mengkasihani. Dia tulus ingin menjadi temanku, bukan karena dia kasihan padaku.
Sejak itulah kami menjadi dekat, aku yang antisocial pun perlahan mulai berbaur dengan yang lain, dan itu semua karena rhea. Rhea yang mengingatkanku bahwa dalam kehidupan ini kita tidak bisa hidup sendiri, kita setidaknya membutuhkan satu orang saja yang bisa kita percaya, untuk berbagi, bercerita, tertawa, dan menangis bersama, dan setidaknya satu orang saja yang kita sayang.
Rhea juga yang mengajarkan padaku bahwa tak ada kehidupan yang sia-sia. Semua kehidupan memiliki maknanya masing-masing. Walau memang harus ada tangis terlebih dahulu, tapi sebenarnya ada tawa yang akan terselip di dalamnya.
Dan sekarang, aku telah menemukan satu orang itu. Satu orang yang akan berbagi, bercerita, tertawa dan menangis bersamaku, dan satu orang yang akan aku sayangi sepenuh hatiku. Dia adalah Rhea Agatha, sahabatku. Rhea adalah tawa yang terselip dalam kehidupanku yang penuh tangis.
Ternyata banyak hal yang membuat aku dan Rhea semakin dekat. Tanggal lahir kami sama. Kami pun sama-sama menyukai pasta. Aku sangat suka melukis dan Rhea sangat suka memotret. Kami sering pergi bersama untuk mencari objek yang bagus & banyak lagi kesamaan antara kami.
Keluarga Rhea adalah keluarga yang kaya-raya dan terpandang. Namun walau begitu Rhea tidak pernah membeda-bedakan orang menurut financial nya. Dia tidak pernah memilih-milih teman. Dia berteman dengan siapapun yang ingin berteman dengannya.
Tapi ada satu kebiasaan Rhea yang slalu membuat ku heran. Dia selalu terjatuh ketika olahraga. Jika sedang berlari, melompat, berjalan cepat, bahkan saat melakukan server. Bahkan, saat berjalan pun dia sering kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Mungkin akan terasa wajar jika tak sering, tapi setiap hari Rhea pasti kehilangan keseimbangan ketika berjalan. Aku menjadi curiga, apa sebenarnya yang terjadi pada Rhea. Tapi aku tak pernah menanyakan sebabnya, karena menurutku, jika memang aku perlu mengetahuinya, Rhea pasti akan memberitahuku.
Tak terasa waktu berlalu cepat, aku dan Rhea kini telah duduk dibangku kelas XII, walaupun berbeda kelas, namun kami selalu bertemu setiap hari di jam istirahat. Kami selalu berbagi cerita dan hal-hal yang kami alami. Rhea selalu ada disaat aku membutuhkannya. Dia selalu menyodorkan bahunya saat aku sedih, selalu menyeka setiap air mataku, selalu berusaha untuk kebahagiaanku, dan semua hal. Aku sangat menyayanginya.
3 bulan lagi hari ulang tahun kami berdua, 18 september. Aku sangat beruntung, ada seorang kolektor lukisan kaya raya yang tertarik akan lukisan ku. Dia merencanakan akan membuat sebuah pameran lukisan dari lukisan-lukisanku. Dan yang tak kalah membuatku bahagia, pameran itu diadakan tepat dihari ulang tahunku.
Hari ini aku dan Rhea pergi ke sebuah perbukitan untuk mencari objek lukisanku dan objek yang akan di foto Rhea. Pemandangan disana sangat indah dan begitu menenangkan. Aku langsung mempersiapkan alat lukisku, menyapukan warna-warni ceria di kertas kanvasku.
Rhea dengan sigapnya langsung memotret objek-objek dihadapannya, mata tajamnya dengan teliti menangkap setiap detil keindahan. Aku pun tertarik untuk melukis Rhea yang tengah serius memotret, aku kembali menyapukan cat ke kain kanvas. Lama kami terlalu asyik dengan kesibukan kami, kemudian kami beristirahat di bawah pohon rindang.
“nev, 3 bulan lagi kan ulang tahun kita yang ke 17, kamu mau kado apa dariku?”, tanya rhea saat kami tengah beristirahat.
“aku tak menginginkan apapun, aku hanya ingin kamu menjadi sahabatku untuk selamanya. Sahabat yang selalu ada saat aku jatuh, saat aku ringkih, saat aku tertawa, aku ingin kamu selalu ada disampingku”.
Rhea terdiam, entah kenapa aku merasakan sorot kesedihan dari matanya. Kemudian Rhea mengangguk sambil tersenyum. “pasti nev, aku akan tetap disini, tetap disampingmu, tetap menjadi sahabatmu”.
Aku tersenyum senang akan jawaban Rhea tersebut. Semoga, semoga aku dan Rhea akan tetap menjadi sahabat sampai kami menua nanti.
“kamu mau hadiah apa dariku rhe?”, aku balik bertanya
“aku hanya ingin meminta satu hal nev, tak lebih”.
“apa itu??”, tanyaku bingung
“aku ingin, diantara banyak lukisanmu yang kau pajang di pameran nanti, disana ada lukisan diriku, dan lukisanku itu akan menjadi karyamu yang special”, ucap Rhea sambil menatapku.
Aku pun mengangguk pasti, lalu memeluk Rhea erat. “Pasti rhe, lukisan dirimu akan menjadi lukisan yang paling istimewa di pameranku nanti”.
Rhea balas memelukku erat. Tuhan, aku harap aku dan rhea bisa bersama selamanya. Rhea adalah satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku, satu-satunya orang yang kusayangi, dan satu-satunya sahabat terbaikku.
2 bulan tlah berlalu, aku semakin sibuk memparsiapkan lukisan-lukisan yang akan di pamerkan di pameran nanti. Pagi ini, aku tak melihat Rhea di sekolah. Saat aku mendatangi kelasnya, teman sekelasnya berkata bahwa Rhea tidak masuk sekolah hari ini. Sepulang sekolah, aku langsung mendatangi rumah Rhea. Kata pembantu mereka, Rhea dan keluarganya pergi ke spore selama 1 minggu.
Aku terkaget. Tak biasanya Rhea seperti ini. Biasanya jika Rhea bepergian dia selalu memberitahuku terlebih dahulu. Jika ia tidak bisa memberitahu secara langsung, dia selalu memberitahu lewat telepon atau sms. Perasaan ku menjadi tak karuan, ada firasat buruk yang menghantui fikiranku. Ada apa ini, kemana Rhea? Ada apa dengannya?
Satu minggu berlalu, tak ada kabar apapun dari Rhea. Aku semakin khawatir, apakah sesuatu hal yang buruk telah menimpanya? Tuhan, lindungilah Rhea dalam setiap langkahnya. Jaga dia, peluklah Rhea saat dia terjatuh.
Aku menjadi tak bisa berkonsentrasi untuk menyiapkan pameran. Padahal pameran akan berlangsung 2 minggu lagi. Pikiranku kalut memikirkan Rhea. Kemanakah sebenarnya sahabatku itu pergi?
Hari itu hari jum’at, tepat 4 hari sebelum pameranku digelar. Aku mendapatkan telepon dari sebuah nomor yang tak ku kenal. Was-was, aku pun mengangkat telepon itu.
“datanglah ke rumah sakit cipto mangunkusumo, masuklah ke kamar VVIP yang ada di lantai 2. Seseorang membutuhkan bantuanmu”.
Ucap suara dibalik telepon. Suara seorang laki-laki yang terdengar terbata. Kemudian dia langsung menutup telepon tanpa mengijinkan aku untuk berbicara. Aku menjadi panic, siapa yang dia maksud? Siapakah yang tengah membutuhkan bantuanku?
Tanpa basa-basi aku segera menuju Rumah sakit itu. Di perjalanan, fikiranku tak tenang, fikiranku kalut. Sejumlah pertanyaan selalu menghantui otakku. Tuhan, semoga bukan hal buruk yang ku terima.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju kamar yang dimaksud lelaki di telepon tadi. Dengan cepatnya aku menaiki tangga-tangga darurat. Terlalu lama jika harus memakai lift.
Kini, aku tengah berdiri di kamar yang dimaksud, pintu kamar ini tak berkaca sehingga aku tak dapat mengintip keadaan di dalam. Perlahan aku memutar handle pintuitu dan membukanya.
Kudapati sesosok gadis cantik yang tengah terbaring lemah. Berbagai selang dan kabel-kabel terhubung ke tubuh mulusnya. Seketika air mataku tumpah, semua kebingungan, semua harapan, semua ha yang aku sangkal akan kebenarannya, semua firasat buruk yang tlah ku tepis kini terjadi. Orang yang aku cari keberadaannya kini tlah berada dihadapanku dengan kondisi yang membuatku miris. Ya, gadis cantik yang terbaring lemah itu adalah Rhea.
Aku langsung menghampiri tubuh lemah itu dan berdiri disampingnya. Disana sudah ada orang tua Rhea yang selalu setia mendampinginya.
“apa yang sebenarnya terjadi om, tante?”, tanyaku terbata. Kembali ku seka air mataku yang menetes, tapi air mata ini tak bisa kuseka.
“sebenarnya, sudah lama Rhea mengidap sebuah penyakit langka, penyakit yang menyerang seluruh persendiannya yang mengakibatkan Rhea sering kehilangan keseimbangannya dan lama kelamaan penyakit itu membuatnya lumpuh. Dokter tak mampu mengobatinya karena memang para dokter belum menemukan obatnya. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa, semoga akan datang keajaiban dari tuhan” ucap papah Rhea terbata.
Tangisku pecah, ku peluk tubuhnya yang terasa dingin, seluruh wajahnya tampak sangat pucat, aku sungguh tak tega melihatnya seperti ini. Tuhan, dia adalah senyumku, jangan kau biarkan senyumku itu pergi lagi dari hidupku.
“Rhea ingin bertemu denganmu sebelum ia pergi” ucap mamah Rhea diiringi tangis.
Apa maksud dari semua ini? Apakah Rhea tak mungkin bisa disembuhkan? Bukankah selalu ada jalan keluar dalam setiap permasalahan? Namun mengapa tak kau berikan jalan untuk kesembuha Rhea tuhan?
“Rhe, kau ingat janjimu, janji untuk tak meninggalkanku, janji untuk selalu ada disampingku dalam keadaan apapun, janji untuk bersamaku sampai kita menua nanti? Mampukah kau menepati janji itu? Aku tak akan meminta hal lain rhe, aku hanya meminta kamu jangan pergi”, ucapku diiringi tangis.
Ku lihat cairan bening menetes dari mata Rhea. Dia bisa mendengarku? Dia bisa merasakan keberadaanku disini?
Namun tiba-tiba nafas Rhea tersengal, detak jantungnya berpacu lebih cepat namun dengan cepatnya kembali melemah. Aku langsung menekan tombol darurat, dengan cepat dokter pun datang dan langsung memeriksa Rhea. Kami semua panic.
Dokter langsung mengambil alat pacu jantung dan tak lama, alat pendeteksi jantung iu berdengung. Terlihat garis datar di monitornya. Dokter mulai menghentikan segalah aktivitasnya. Kekhawatiranku memuncak. Tuhan…… tolong aku!
“maaf, dia telah pergi”, ucap dokter sambil menggeleng lemah.
Tangisku pecah, seluruh tubuhku terasa begitu lemah. Aku langsung memeluk tubuh Rhea yang terasa dingin.
“bukan ini akhir yang seharusnya Rhe, bukan seperti ini caranya kamu harus pergi!”, teriakku histeris.
Aku merasakan pandangan mataku memudar, dan tak lama, semuanya terasa gelap dimataku.
Kupandangi sebuah lukisan gadis cantik dihadapanku, gadis yang dengan seriusnya memotret sekitarnya dan tak sadar bahwa ia tengah dilukis.
Hidup adalah sebuah perjalanan panjang nan melelahkan. Hidup adalah sebuah keputusan penuh konsekuensi. Setiap hal yang kita lakukan, pasti akan ada konsekuensi yang harus kita terima.
Hidup adalah kisah rumit yang tak kekal. Begitupun persahabatanku dan Rhea. Setiap yang dipertemukan pasti akan dipisahkan begitupun dengan setiap yang didekatkan pasti akan dijauhkan.
Aku percaya, tuhan telah memiliki jalan yang indah untuk Rhea. Rhea telah pergi ke rumah tuhan, aku yakin, tuhan akan menjaganya, tuhan akan menyayangi dan melindunginya lebih dari yang bisa kulakukan untuknya.
Rhe, kini kutepati janjiku. Lukisan dirimu, adalah karyaku yang paling special. Kecantikanmu yang bukan hanya dari raga, tapi juga dari hatimu menarik banyak simpati pengunjung pameran. Mereka selalu memuji wajah ayu-mu.
Rhe, terima kasih karena kau telah mengajarkan padaku apa arti dari kehidupan ini. Terima kasih atas semua kasih sayangmu yang tulus. Seperti yang pernah ku katakan, kau adalah senyum ditengah tangisku.
Rhe, jadilah bintang terang dilangit sana. Biarkanlah sinarmu menerangi setiap hati yang kelam. Buatlah wajah-wajah yang penuh tangis tersenyum bahagia. Jadilah yang terindah dilangit sana, karena cahayamu lebih terang dari Sirius.
Istirahatlah dengan tenang, sampaikan salamku pada tuhan. Aku tak sabar untuk menyusulmu. Tunggu aku disurga ya, kamu akan selalu menjadi senyum disela tangisku.
Tunggu aku di singgahsana surgamu J .

Waiting to hold you - cerpen


Prolog
“Walau matamu tak mampu memandangku, ingatlah bahwa mata hatimu akan menemukan cahaya dimana kau akan melihatku. Walau kita terpisah, yakinlah bahwa naluri akan mempersatukan kita di keabadian”
Hidup adalah sebuah perjalanan, dan kita tau jalan itu berliku dan tak selalu searah. Ada kalanya aku dan dia selalu bersama, dan kini saat nya aku dan panca melangkah di jalan yang berbeda.
Jarak memang memisahkan aku dan dia, tapi satu keyakinanku! Dia akan datang padaku!
“aku akan menemui mu di danau ini, aku berjanji! Tunggulah aku disini!”
Janji itu terucap darinya saat dia akan meninggalkanku. Dia akan pindah bersama keluarganya ke perth.
“dalam hidup tak ada yang abadi, begitupun pertemuan kita. Karena semua yang di pertemukan pasti akan di pisahkan. Aku akan menunggumu disini, selalu!”
Aku pun turut mengucapkan janji, janji yang akan selalu aku pegang. Ya, walau matahari tak mampu bersinar lagi, aku akan selalu menunggu nya disini.
Tak terasa, janji itu tlah aku ucapkan 3 tahun yang lalu. Dan akan aku tepati janji itu.
Kala senja menyapa, aku menunggunya datang di danau ini. Tak perduli sentuhan dingin angin senja yang salalu membelaiku.
Harapan yang selalu ku tanamkan jauh dalam hati ini selama 3 tahun, harapan bahwa panca akan datang kembali membawa bunga eidelweiss, bunga yang selalu ia berikan kepadaku, bunga perpisahan antara aku dan panca.
Sepi yang selalu menemaniku disini, sendiri menanti sampai senja berakhir dan bulan mulai bersinar. Cahaya bulan yang memantul di air danaupun menyadarkanku. Waktunya aku untuk kembali ke rumah dan bersiap untuk menanti panca kembali senja esok.
Putus asa! Kadang aku putus asa. Meragukan apakah panca akan benar-benar datang padaku. 3 tahun tlah kulewati untuk menunggunya kembali. Tapi kemana datangnya panca saat senja bahkan tlah berganti malam?
Dan apa kalian pikir aku akan menyerah setelah putus asa? Tidak! Aku tak mungkin menyerah, aku masih mempunyai sejuta alasan untuk bertahan jika beribu sakit memojokkan ku. Karena aku akan selalu pegang janjiku, janji untuk selalu menunggunya!
“di alam semesta ini Cuma ada satu matahari, begitupun hatiku, hanya punya satu matahari, yaitu kamu. Kamu yang selalu menerangi dan mewarnai hidupku dan aku tak akan pernah melepasmu”
Kata panca sambil membelai rambutku. Aku pun mendekapnya erat, aku tak ingin sedetik pun kehilangannya.
Namun itu dulu, sebelum panca pergi. Dan kini yang ia tinggalkan hanya harapan dan luka. Kenapa kau biarkan aku menunggu dan berharap sampai selama ini panca? Aku lelah, aku sakit, aku terluka, namun rasa cintaku ini masih ingin bertahan menantimu.
Aku merindukannya, sangat! Tuhan, petemukan aku dengan panca!
Sungguh aku merindukan semua hal yang ada padanya. Belaian tangannya yang lembut, dekapan nya saat menenangkan ku, genggaman tangannya yang hangat, tawa dan candanya yang membuat dunia tersenyum. Kapan semua itu kembali tuhan?
Hari berganti, ku lalui hariku di tepi danau ini. Begitu pun senja hari ini, aku duduk sendiri menanti panca. Ku raba kursi kayu yang ku duduki, tampak sudah di tumbuhi tumbuhan lumut dan mulai terlihat rapuh, padahal kursi ini baru di buat waktu panca masih disini.
Selama itukah aku menantinya? Sampai-sampai kursi kayu ini telah rapuh. Selama itukah aku menyapa senja di tepi danau? Namun kenapa belum kulihat juga tanda ia akan kembali?
“hai, sendiri aja?”
Ku dengar suara seseorang di samping ku, aku pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang cowok telah duduk tepat di sampingku, aku pun kembali memalingkan wajahku dan menatap danau.
“kamu lagi nunggu siapa sih?” Tanya nya lagi, namun aku tetap diam.
“aku lazu. Nama kamu siapa?”
Kata nya lagi sambil mengulurkan tangan. Aku melihat sejenak ke arahnya lalu kembali memalingkan wajahku ke arah danau tanpa membalas jabatan tangannya.
“utami” jawabku singkat tanpa menoleh kearahnya.
“nama yang bagus” katanya lagi.
Namun lagi-lagi aku hanya diam tanpa menatapnya. Dia lalu berusaha mengajakku berbicara namun aku tetap diam dan terus menatap danau.
Tanpa sadar, senja tlah kembali tiba. Aku menghela nafasku berat, rasa kecewa yang lagi-lagi ku rasakan.
“dia ga dateng hari ini ya?” desahku pelan. Namun lazu yang sedari tadi masih di sampingku mendengarnya. Namun dia urung berbicara.
Aku lalu berdiri dan beranjak pergi.
“kamu mau kemana?” Tanya lazu sambil mencegah tanganku
“pulang” kataku sambil menepis tangannya.
“tapi kan yang kamu tunggu belum datang?” dia bertanya lagi.
“dia tak datang hari ini”
“bagaimana kamu bisa yakin dia tak datang hari ini? Mungkin saja dia sebentar lagi akan datang”
“kamu tak tahu apa-apa!” jawabku sambil menatapnya tajam. Lazu terdiam.
Lalu aku melangkahkan kaki ku dan meninggalkan lazu yang masih mematung di tempatnya menatap kepergianku.
Mulai hari itu, lazu selalu datang ke danau dan menemaniku. Walaupun aku lebih sering diam dan tak berbicara padanya, namun ia tetap saja bersamaku dan enggan untuk pergi.
Lama kelamaan, aku mulai merasa nyaman dengannya. Aku menjadi lebih sering berbincang-bincang dengannya.
Dan setiap senja berakhir, dia selalu menanyakan satu pertanyaan yang sama.
“siapakah orang yang kamu tunggu?”
Dan aku selalu tak menjawab pertanyaannya.
Seperti biasa, hari ini aku menunggunya di danau. Walau hati ini lelah, tapi aku yakin dia pasti datang dan menepati janjinya. Tanpa ku sadari, lazu tlah berada disampingku dan menatapku dengan tatapan miris. Mungkin dia membaca gurat kesedihan di wajahku.
“aku masih mengajukan pertanyaan yang sama, siapakah orang yang kamu tunggu?” katanya dengan hati-hati, mungkin ia takut menyinggung perasaanku.
Aku terdiam, tak ada sepatah katapun yang ku ucapkan.
”dari awal aku melihatmu, aku tlah merasakan ada sesuatu yang harus aku ungkap darimu, ada sesuatu yang membuatku tertarik padamu, ada sesuatu hal yang menarik perhatianku….”
“aku tlah bertanya pada orang-orang tentangmu. Dan mereka bilang, kau tlah berada di danau ini setiap senja sejak 3 tahun lalu. Kau tau, aku sangat terkejut mendengar itu. Tak ku kira kau melakukan hal itu selama itu. Dan aku……” katanya terputus dan hati-hati
“aku ingin tau, siapakah yang kamu tunggu? Begitu berartikah dia hingga membatmu menunggu selama itu?” kata-katanya pun berakhir.
Aku tertunduk, cairan bening mulai menetes di pipiku. Dia yang melihatku menangis menjadi cemas.
“maaf, jika pertanyaan ku membuat menangis. Maafkan aku, aku tak akan lagi menanyakan hal itu” katanya penuh penyesalan.
“lama aku menantinya……”
Aku mulai berbicara
“letih, aku akui aku sangat letih. Menantinya datang. Namun aku selalu menaruh keyakinan bahwa ia pasti datang. Namun rasa kecewa selalu menghampiriku saat senja tlah berakhir dan aku tau, dia tak datang”
Lazu terdiam dan menyimak ceritaku.
“panca… dia adalah lelaki yang sangat aku cintai. Namun ia pergi, meninggalkan aku. Dia berjanji akan menemuiku disini, di danau ini, saat senja tiba. Saat dimana dia meninggalkanku, disaat senja”
Tangisku mulai memecah, semua ingatan tentang panca membuat aku rapuh, membuat aku tak sanggup menahan air mata ini, menahan semua rasa sakit karena penantian ini.
“sejak saat itu, aku selalu menunggunya kala senja datang. Karena aku yakin, dia akan menepati janjinya, janji untuk menemuiku di danau ini. Namun telah 3 tahun aku menantinya, 3 tahun aku menunggunya, 3 tahun aku berharap, ia belum juga datang”
“Apa menurut kamu aku bodoh? Apa menurut kamu aku terlalu tolol karena melakukan semua ini?” kataku setengah berteriak. Semua emosi yang selama ini terpendam meluap begitu saja.
Lazu memelukku lembut, sementara aku terus terisak dalam dekapannya. Dekap nya yang hangat membuat aku merasa lebih tenang.
“kamu sama sekali ga bodoh ut, itulah yang dinamakan cinta sejati. Justru dialah yang bodoh karena membiarkanmu menunggu”
Kata lazu, ia pasti berusaha menenangkan aku, dan nyatanya aku memang menjadi lebih tenang dalam peluknya. Aku lalu melepaskan pelukan lazu dan menatapnya lembut.
“makasih ya, kamu udah mau dengerin cerita aku dan tenangin aku” katau mencoba tersenyum.
Ia lalu tersenyum manis lalu mengangguk
“aku akan selalu ada buat kamu” katanya lembut sambil menatap mataku.
Aku kembali merasakan ketenangan saat ia menatapku, tatapan matanya mampu sedikit banyak mengobati rasa letih dan kecewaku karena menunggu panca.
Suatu senja, saat aku masih menunggu panca di danau, aku merasakan hal yang aneh pada diriku. Timbul bercak-bercak merah di tubuhku. Bercak nya memang tak tampak jelas, namun aku bingung apa mungkin aku terkena campak? Tubuhku terasa lemas dan tak bisa bergerak. Semua organ tubuhku terasa begitu sakit. Tuhan… ada apa ini?
Sekuat tenaga aku berusaha menahan rasa sakitnya dan berusaha pulang ke rumah. Kebetulan lazu belum datang, dan aku juga tak ingin dia mengetahui kondisiku yang sekarang.
Keesokan harinya, aku putuskan untuk check up ke dokter. Aneh, dokter menyarankan aku untuk di scan. Apakah penyakitku separah itu? Hatiku mulai berkecamuk.
“kami belum bisa mendeteksi sakit yang anda derita, makanya kami sarankan untuk melakukan scan. Bila perlu sekarang juga” kata dokter syifa. Dokter yang memeriksaku.
Karena cemas, aku pun menurutinya dan melakukan scan saat itu juga. Hasil dari scan itu bisa di ambil besok. Aku pun segera keluar dari rumah sakit dan menuju danau. Sekarang pukul 17.00, aku harus segera berada di danau. Aku tak mau jika melewatkan sehari tanpa menunggunya.
Dengan tergesa, aku segera menuju danau. Dan tak lama aku pun sampai disana. Ku lihat lazu sudah berada di tempat biasa aku duduk. Aku pun duduk di sampingnya.
“tumben kamu telat datang?” Tanya lazu heran.
Ya, aku memang biasanya datang tepat pukul 16.00.  Baru kali ini aku datang terlambat sampai 1 jam, dan ternyata lazu telah hafal jadwal kedatanganku.
“aku ada keperluan tadi” kataku mengelak. Aku tak ingin memberitahukannya bahwa aku check up ke dokter sebelum kesini.
Tiba-tiba, tubuhku kembali terasa lemah, semua anggota tubuhku seperti mati rasa. Tuhan, ada apa lagi ini? Tahan ut, kamu harus kuat. Kamu ga boleh nunjukin rasa sakit ini di depan lazu.
“aaarrgggghh………” rintihku pelan sambil menahan sakit yang teramat sangat
Lazu mendengar rintihan ku, dia menatapku dengan cemas.
“kamu kenapa?” tanyanya panik dan penuh kekhawatiran.
“aku ga kenapa-napa” jawabku berbohong
“bener?” Tanya nya lagi
“iya, aku Cuma sedikit kurang enak badan” kataku berusaha mengelabuinya.
“kita pulang ya…” kata lazu hendak memapahku. Namun aku segera menolak.
“aku akan tetap disini, sampai senja berakhir!” tegasku
“tapi kamu sakit ut” kata lazu dengan penuh kekhawatiran. Dia terlihat begitu cemas
“aku gak akan pergi” aku memberi penekanan pada kata-kataku.
Lazu pun mengalah, dan membiarkan aku menunggu senja sambil terus menemaniku. Akhirnya senja pun berakhir, aku hendak beranjak pergi namun lazu mencegah tanganku.
“biarin aku anterin kamu pulang…” katanya cemas.
Karena lemas, aku hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lazu lalu memapahku dan mengantarkanku pulang ke rumah.
Keesokan harinya, saat aku tengah menyisir rambutku. Aku menemukan banyak sekali rambutku yang terbawa sisir. Rambutku rontok, namun banyak sekali. Kenapa lagi ini? Rambutku tak pernah rontok separah ini?
Aku pun teringat sesuatu, hari ini aku harus mengambil hasil dari city scan yang aku lakukan kemarin.
Setelah sampai di rumah sakit, aku langsung menuju ke ruangan Dr. syifa. Aku memasuki ruangannya dengan perlahan, aku takut hasil yang aku dapatkan tidak terlalu baik.
Dr. syifa memberikanku sebuah map yang di dalamnya terdapat hasil scan. Aku membukanya dan mencoba memahami isinya. Aku mengernyitkan dahiku tanda aku bingung dan tak mengerti.
“Arthithis Rheumatoid…” kataku dengan penuh kebingungan. Aku menemukan kata-kata itu di result pemeriksaan ku. Namun aku tak mengerti artinya.
“iya… kamu trekena arthithis rheumatoid” kata dokter syifa menjawab tanyaku. Aku semakin bingung dan terdiam.
“saya harap kamu bisa tenang mendengarkan penjelasan saya” kata dokter syifa yang seolah mengerti bahwa aku tengah kebingungan.
“arthithis rheumatoid atau yang biasa disebut lupus adalah suatu penyakit yang sampai saat ini belum diketahui sebabnya. Dalam kasus ini, penderita mengalami gangguan autoimun. Yaitu, imun yang seharusnya menjaga organ-organ tubuh malah mendeteksi organ-organ tubuh sebagai musuh. Sehingga imun justru menyerangnya”
Aku menelan ludahku mendengar penjelasan dokter syifa, aku belum mampu memberikan sanggahan atau pertanyaan.
“lama-kelamaan, organ tubuh akan menjadi rusak dan tak berfungsi. Sampai saat ini belum ada yang berhasil menemui obatnya. Kami para dokter hanya mampu mengurangi rasa sakit yang di alami. Dan penyakit ini, bisa menyebabkan kematian…” dokter syifa mengakhiri penjelasannya
Jantungku bagaikan berhenti berdetak. Bagaimana mungkin aku bisa mengidap penyakit yang mengerikan ini? Aku tak tau lagi apa yang harus aku katakana. Air mataku menetes begitu saja.
“lalu apa yang harus saya lakukan dok?” akhirnya aku membuka mulut
“kamu harus menjalani terapi. Namun terapi ini tidak bisa mnyembuhkan, tapi untuk meredam rasa sakit yang kamu rasakan dan terapi ini juga untuk memperlambat imun yang menyerang organ tubuh”
Aku hanya mampu menunduk lalu mengangguk lemah. Dengan sisa tenaga yang aku miliki aku meninggalkan rumah sakit dan menuju danau.
Aku menangis sejadi-jadinya di danau. Ku benamkan mataku di kedua telapak tanganku. Ku lihat kembali map yang ku bawa dari rumah sakit.
Dengan tatapan tak percaya aku menaruh map itu di atas kursi. Tuhan… apakah ini nyata? Apa aku benar-benar mengidap penyakit mematikan itu? Kenapa ini semua harus terjadi padaku?
Aku terus menangis. Tak ku kira senja sebentar lagi akan datang. Ingatanku langsung tertuju pada panca.
Tuhan, kenapa dia tak juga datang? Apakah dia tau bahwa aku mungkin tak mampu lagi menunggunya? Apakah dia akan datang sebelum aku pergi?
“aaarrghh……” rasa sakit itu kembali datang.
Kenapa sakit ini selalu datang? Tuhan, hentikan semua ini. Ku mohon…
Rintihku dalam hati, tiba-tiba saja pandanganku memudar. Kepalaku terasa begitu sakit. Dan tak lama, semuanya menjagi gelap. Dan aku tak merasakan apa-apa lagi.
Aku membuka mataku perlahan, dengan samar aku melihat di sekelilingku. Aku kaget mendapati lazu yang tengah duduk di samping tempat tidur ku. Aku pun mengamati betul-betul tempat ini.
Ternyata aku telah berada di kamarku. Bagaimana aku bisa sampai disini? Seingatku, aku berada di taman saat pingsan. Apakah lazu yang membawaku pulang?
Lazu yang mengetahui aku tlah siuman menatapku, namun kali ini ia menatapku tajam. Seolah aku mempunyai kesalahan besar padanya. Aku menatapnya bingung.
“kenapa kamu ga cerita ke aku ut?” Tanya nya. Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.
“kenapa kamu menutupi hal ini?” Tanya nya lagi. Aku semakin tak mengerti.
“maksud kamu apa zu?” tanyaku bingung.
“apa maksud dari ini ut?” kata lazu sambil menunjukkan sebuah map.
Aku tersentak, bukankah itu adalah map yang berisi hasil scan ku. Jadi lazu sudah mengetahui semuanya. Aku pun menghela nafas panjang.
“bahkan aku sendiri gak ngerti apa maksud dari hasil scan itu? Aku sendiri gak ngerti kenapa penyakit mengerikan ini bisa bersarang di tubuhku? Kenapa semua ini terjadi padaku?” kataku tertahan.
Aku menangis terisak, lazu mulai menyeka air mataku dan menatapku lembut.
“apapun yang terjadi, kamu harus kuat. Kamu harus bertahan, kamu harus bisa ngelawan penyakit itu. Aku akan selalu ada untuk kamu” kata lazu lembut
Aku tersenyum, disaat aku lemah seperti ini, aku bersyukur masih ada orang yang tulus membantuku dan menemaniku, seperti lazu.
2 bulan telah berlalu semenjak kejadian aku pingsan di taman itu. Lazu selalu menjagaku dan menemani aku terapi. Namun, walaupun aku tengah sakit, aku tak pernah berhenti menunggu panca di danau.
Aku takut, aku takut saat aku tak menunggunya, dia datang dan aku tak sempat menemuinya. Untuk itu, aku tak pernah berhenti menunggunya, walaupun aku tau keadaanku tak mendukung semua yang ku lakukan.
Senja datang kembali, sejenak ku lihat lazu yang dengan setia menemaniku menunggu di danau ini. Ya, senja kembali berakhir. Namun panca masih belum kembali, aku tak akan jera menunggu sampai kau kembali!
“dia belum juga datang…” kataku lirih dengan penuh kekecewaan
“mungkin esok hari…” kata lazu berusaha memberiku harapan.
Aku menghela nafas panjang, aku harus lebih sabar lagi menunggunya.
Tiba-tiba aku merasa nafasku sesak, nyeri sekali. Aku mencoba mengambil nafas dalam-dalam, namun itu membuat dada ku semakin sesak. Tuhan, apakah ini karena sakit yang ku derita?
“kamu kenapa?” Tanya lazu yang melihatku kesakitan
“nafasku sesak…” kataku pelan
Semakin lama aku semakin sulit untuk bernafas. Lazu yang cemas langsung membawaku ke rumah sakit.
“keadaan nya semakin memburuk, paru-parunya telah di serang dan ini yang membuat dia sesak nafas. Akibatnya, fungsi paru-parunya semakin memburuk”
aku menghela nafasku mendengar perkataan dokter. Lazu menggenggam tanganku erat dan berusaha menguatkanku.
“lalu, apa yang harus saya lakukan dok.?”
“maaf, saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyembuhkan kamu karena lupus itu belum ada obatnya. Saya hanya bisa menyarankan kamu agar terus melakukan terapi agar keadaan mu tidak semakin parah”
Ku benamkan wajahku di telapak tanganku. Air mataku menyapu wajahku yang pucat. Separah itukah aku? Tak bisakah aku sembuh? Mungkinkah aku dapat bertemu dengan panca sebelum waktuku habis?
Berbagai pertanyaan dan kegelisahan terus menerus hinggap dalam fikiranku. Aku bukannya takut untuk mati, aku hanya takut mati sebelum bertemu dengan panca.
Hari-hariku terasa begitu berat, segala harapan dan penantian ku selama ini menguap memberikan sebuah tekanan yang teramat sangat besar. Tekanan yang membuat penyakit ini semakin hari semakin parah.
Kali ini ginjalku yang dirusaknya. Tak puaskah ia merusak paru-paruku hingga aku sulit untuk bernafas? Sekarang dengan kejamnya ia merusak ginjalku dan membuat aku terus-menerus merasakan kesakitan di bagian perutku.
Sungguh aku lelah, rasanya aku lebih baik mati saja dari pada harus merasakan ini semua. Tapi aku tak boleh mati terlebih dahulu, aku belum bertemu panca, aku harus bertemu dengannya!
Bangku taman senja ini begitu lengang, hanya beberapa orang yang tampak disekitar danau, yang bisa ku dengar hanya semilir angin dan gemercik angin yang menggelitik hatiku. Hembusan angin terasa begitu dingin, tapi aku tak bergeming dari tempat duduk ku.
“kamu kedinginan ya, sini aku peluk!!”
Tiba-tiba saja aku mendengar suara panca, aku menoleh ke samping dengan tergesa dan mendapati siluet panca duduk disampingku. Dia membuka tangan nya dan hendak merengkuh ku. Aku pun mendekat kearahnya dan ingin memeluknya. Tapi… aku hanya memeluk udara bebas. Panca tak ada disana, ini semua hanya hayalanku.
Rasanya seperti jatuh dari ketinggian, semua harapan yang ku buat dan ku jaga hancur berkeping-keping. Rasa sakit dan sesak menjalari seluruh tubuhku, dan menyiksaku. Lalu, bayangan-bayangan tentang panca terlintas di retina mataku.
**
“kamu tau gak, apa yang aku selalu nantikan setiap hari?” Tanya panca sambil menatap matahari senja dan merengkuhku.
Aku menatap wajahnya bingung, “memangnya apa?”
“aku selalu menanti saat-saat dimana aku bersamamu, saat diamana aku dapat menatap wajahmu, saat dimana aku dapat melindungimu dari rasa dingin dalam rengkuhanku. Saat dimana aku dapat menatap matamu yang teduh”
Hatiku terasa dibanjiri oleh berbagai rasa, bahagia, haru, tersanjung dan lainnya. Aku mempererat pelukanku dan seketika rasa hangat menjalari seluruh tubuhku. Inilah alasan mengapa aku sangat nyaman berada dalam pelukan panca, pelukannya terasa begitu hangat, aku pun memejamkan mataku.
Sesuatu yang lembut terasa menyentuh dahi ku, lalu bergerak turun dari pangkal hidung ku, lalu berhenti tepat di bibirku. Aku membuka mataku, dan hal pertama yang aku lihat adalah mata panca yang tengah menatapku seakan berbicara. Bibirnya kini terpaut di bibirku.
**
Aku tersadar dari lamunanku saat lazu datang dan duduk di sampingku. Tuhan, ingatan tentang panca membuat aku semakin merindukannya. Aku rindu pelukannya, genggaman tangannya dan… ciumannya. Sampai kapan aku harus menunggumu panca? Aku takut… aku takut wakttu ku tak cukup untuk menunggumu datang.
“kamu pernah mikirin sesuatu ga??” Tanya lazu memecah keheningan
“apa?” tanyaku
“bagaimana jika panca tak akan pernah kembali? Bagaimana jika semua penantianmu dan harapan kamu sia-sia? Bagaimana jika panca tak menepati janjinya?”
Aku meoleh kea rah lazu dan mentapnya tajam “panca pasti datang!!”
Lazu tak bergeming melihat reaksiku yang tegang. Semua rasa bercampur aduk di hatiku. Bagaimana mungkin lazu mempertanyakan pertanyaan yang aku sendiri tlah kubur dalam-dalam dari ingatanku. Kenapa dia menanyakan hal, yang aku sendiri sering takut jika membayangkan itu terjadi?
Hening kemudian… tak ada yang bersuara di antara kami. Aku masih larut dalam ketakutan-ketakutan yang diciptakan olehnya.
“aku sayang kamu ut…” kata lzu seraya meraih tanganku
Aku terkejut dan menoleh kearahnya, menatapnya tak percaya
“aku bersungguh-sungguh, aku mencintai kamu ut!!” katanya menatapku tajam
Aku langsung melepaskan genggaman tangannya dan mengalihkan pandangan.
“di hatiku, hanya ada panca!!” kataku tegas. Aku tak ingin memberi sedikitpun harapan pada lazu. Aku tak ingin membuat dia berharap.
“aku tau itu, dan aku tak meminta kamu untuk melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Aku hanya ingin, kamu izinkan aku untuk menjagamu, dan terus bersamamu”
Aku menatap nya, dari sorot matanya, aku tau dia berkata tulus. Aku pun mengangguk dan tersenyum simpul. Terlihat sorot kelegaan dari mata lazu.
Tes, cairan pekat menetes di tangan ku. Uhh, aku benci hal ini. Aku segera meraba hidungku, dan benar saja, cairan pekat itu sudah mengotori hidungku dan sebagian kecil wajahku. Lazu yang melihat aku kembali mimisan langsung terlihat panic dan mengambil tissue.
“kita pulang yah!!” katanya panic
Aku menggeleng pelan sementara lazu mencoba menghentikan darah yang terus menetes dari hidungku. “Cuma mimisan kok!!” kata ku berusaha membuatnya tenang. Aku tak apa-apa lazu!
Tapi semuanya gak seperti yang ku harapkan, keadaan tubuhku semakin parah, nafasku tiba-tiba terasa sesak. Dengan susah payah aku berusaha mengatur nafasku. Namun gagal!
Kepalaku tiba-tiba terasa sangat berat, aku menggapai lengan lazu dan berusaha menyeimbangkan diri agar tak terjatuh. Tuhan, kenapa ini terjadi lagi??
“kita pulang ya, please!!” lazu mulai terlihat panic karena keadaan ku.
Aku menggeleng pelan, “aku mau tetep nunggu panca!” kata ku tegas.
“tapi keadaan kamu gak memungkinkan. Please, kita pulang!” lazu kembali membujukku. Namun aku menggeleng pasti, aku tak akan beranjak dari danau ini.
Namun tiba-tiba perutku terasa begitu sakit, dan menanmbah penderitaan ku saat ini. Tuhan, aku rela jika kau mengambilku saat ini. Tapi aku mohon, sebelum itu terjadi pertemukan aku terlebih dahulu dengan panca!!
“kita harus pulang!!” lazu hendak membopong tubuhku, tapi aku segera memberontak.
“ENGGA!!!” kataku setengah berteriak, lalu lazu menatapku dengan tatapan kemarahan.
“percuma kamu nungguin panca ut, dia gak akan pernah datang. Dia gak akan pernah tepatin janjinya ke kamu!!!” kata lazu dengan luapan emosi
Aku terhenyak, dari mana lazu mendapatkan argument itu? Tak tahukah dia, aku sangat membenci argument itu!
“panca akan datang! Dia akan menepati janjinya! Kamu jangan sok tahu! Tahu apa kamu tentang panca?” emosi ku pun ikut meluap
“aku tahu segalanya. Aku tahu segala sesuatu yang bahkan kamu gak tahu! Please, kita pulang!!” nada suaranya merendah, aku tau, dia hanya ingin menjaga kembali emosiku.
“aku akan tetap disini!!” aku kembali menegaskan. Namun rupanya perkataan ku membuat emosinya kembali meluap.
“Panca gak akan dateng ut, dia gak akan pernah dateng, karena dia udah meninggal!”
Emosi ku memuncak, tanpa sadar aku menampar lazu dan menatapnya penuh kemarahan. “apa maksud kamu?”
“ya, aku tak berbohong ut. Percuma kamu menunggunya, karena… karena dia sudah meninggal..!” kata lzu terbata
“kamu bohong. Bagaimana kamu bisa mengatakan panca sudah meninggal sementara kamu tidak mengenalnya!” aku masih mencoba menyangkal. Tidak… ini tidak benar!!
“aku mengenalnya ut, jauh sebelum kamu mengenalnya. Karena aku, adik panca”
“apa lagi ini? Kebohongan apa lagi yang akan kamu katakana?” aku terus mencoba menyangkal. Aku tak mengerti apa maksud dari semua perkataan lazu.
“aku tak berbohong, sungguh. Dialah yang memintaku untuk menjagamu, menemanimu, dan mencintaimu sebelum dia meninggal. Dia telah pergi…”
“tolong jelaskan semua ini, aku tak mengerti!”
“panca sakit ut, kanker otak. Dia divonis dokter tidak bisa hidup lama. Dan itu benar. 5 bulan setelah vonis dokter, dia pergi. Dan satu-satunya yang dia khawatirkan sebelum pergi adalah, kamu. Dia takut, tak ada yang menjagamu setelah dia pergi. Untuk itu, dia mengirim aku, untukmu. Percayalah, dia ingin kamu bahagia, walau tanpanya…”
Air mataku tumpah. Tuhan, mengapa ini semua terjadi padaku.!
Panca, mengapa tak kau tepati janjimu? Mengapa kau tega meninggalkan aku? Mengapa kau tega membuat aku menunggu terlalu lama untuk ke sia-siaan? Mengapa? Mengapa kau membiarkan aku sendiri dengan penyakit ini? Aku hanya ingin bersamamu, sebelum lupus ini membuatku pergi. Tapi nyatanya, kau telah pergi mendahului aku.
Tiba-tiba saja kepalaku terasa begitu berat, pandangan mataku memudar, rasa sakit langsung menjalari seluruh tubuhku, nafasku sesak dan berat. Tuhan, inikah akhir dari penantianku.
“ut, kamu kenapa? Bertahanlah.”
Dengan pendengaranku yang mulai tak tajam aku mendengar suara lazu dan tangisannya, dan akhirnya, semuanya gelap.
Aku terjaga dari tidur panjangku, rasanya begitu lama aku tertidur. Aku melihat sekelilingku, dan aku terkejut. Ku lihat panca telah duduk disampingku dengan baju putih bersihnya dan menatapku dengan mata teduh nya. Aku langsung menghambur kedalam pelukkannya.
“aku kangen banget sama kamu!” ucapku
“aku juga” kata panca seraya membalas memelukku
“kita pergi ya, ini bukan tempat kita lagi” lanjut panca
Aku melepas pelukkannya dan menatapnya bingung, “pergi??”
“iya..!” panca mengangguk. Lalu ia menunjuk sebuah ranjang rumah sakit yang di atasnya terbaring tubuh perempuan.
Aku pun mengikuti telunjuknya dan memperhatikan tubuh itu. Aku tersentak, itu aku. Jadi sebenarnya, aku telah meninggal? Aku telah menyusul panca? Aku melihat lazu dan kedua orang tuaku menangis tersedu di samping jasadku. Lalu aku menatap panca sedih.
“lalu mereka bagaimana?” tanyaku sambil kembali menatap lazu dan kedua orang tuaku.
Panca tersenyum, “mereka akan selalu bahagia, mereka akan bahagia hidup bersamamu dalam ingatan mereka. Dunia kita telah berbeda, mereka akan bahagia di dunianya.”
“ayo, kita pergi” lanjut panca. Aku tersenyum, lalu mengangguk.
Panca menggandeng tangan ku dan mengajakku pergi. Lalu muncul sebuah cahaya putih yang terang, dan kami menghilang di dalamnya.
~True love is not be happy ending, but true love is doesn,t have an ending”
~END