Utami POV “my life”
ku memang bukan gadis yang cantik, bukan pula gadis pintar
dan bukan pula berasal dari orang yang berada. Tapi aku merasa menjadi gadis
yang paling beruntung di dunia ini. Karena aku memiliki iza, iza yang sempurna
bagiku. Dan aku tau pasti, di dunia ini hanya ada satu orang seperti iza.
Namaku Arshatya Sevilla Utami, aku duduk di kelas 10 di BINUS Serpong.
Hidupku indah teman. Ya, mungkin itu untuk sementara ini. Aku
akan selalu merasa bahagia bila bersama iza.
Tapi itu tak berlangsung lama teman. Hidupku menjadi tak
tenang semenjak orang tua ku sering bertengkar. Rumah yang dulu bagaikan istana
kini lebih pantas disebut neraka. Yang bisa ku dengar setiap hari hanyalah teriakkan,
bentakkan dan tangis.
Aku lelah dengan semuanya, ingin rasanya aku meninggalkan
dunia ini dan terus menjauh dari dunia ini. Tapi disaat aku jatuh, iza yang
selalu menjagaku, iza yang selalu membuat aku bangkit dari keterpurukan.
“ini bukan utami yang aku kenal, utami yang aku kenal itu
orang yang kuat. Jangan pernah merasa bahwa kamu sendiri. Selalu ada aku
disini, dan aku gak akan pernah tinggalin kamu”
Kata iza sambil menatap mataku lembut dan menyeka air mataku
yang jatuh. Aku kembali merasa mempunyai kekuatan setiap iza berkata seperti
itu padaku.
Puncaknya, mereka kini tlah bercerai. Mungkin itu lebih baik,
dari pada mereka terus bersama tapi terus bertengkar. Tapi keributan itu tetap
saja terjadi ketika papah mengunjungi rumah. Tak bisakah mereka sebentar saja
tak bertengkar?
Aku mencoba tetap tegar untuk menghadapi semua ini. Malam itu
aku pulang hampir jam 11 malam, aku masuk perlahan kedalam rumah. Suara
teriakan dan bentakan langsung menghampiriku. Ku lihat mamah dan papah yang
sedang bertengkar di ruang tamu. Ya, ini pemandangan yang sudah biasa bagiku.
Aku pun berjalan perlahan meninggalkan mereka.
“darimana saja kamu, jam segini baru pulang?” tanya papah
yang melihat kedatangan ku. Aku pun menghentikan langkahku
“dari rumah iza” kataku datar
“gak baik anak gadis main ke rumah laki-laki sampai selarut
ini. Kamu ngerti etika gak sih?” kata mamah ikut membentak
“mamah ngerti apa tentang etika? Kalu mamah punya etika mamah
ga akan mungkin selingkuh!” aku memberanikan diri melawan
“tuh pah liat anak kamu, dia sudah berani mencaci mamahnya
sendiri!” mamah berbalik menyalahkan papah.
“yang ngurusin di rumahkan mamah, ini kesalahan mamah.”
Bentak papah
“CUKUP!” kataku berteriak. Mereka pun akhirnya berhenti
bertengkar dan melihat ke arahku.
“bisa gak sih rumah ini tenang sehari aja. Aku capek mah,
pah. Aku malu liat mamah yang kerjaan nya selingkuh. Aku bosan liat papah yang
selalu sibuk dengan urusan kantor dan tempramental. Aku malu punya orang tua
seperti kalian!!”
Plaaaaakkk
Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku memegangi pipiku yang
terasa perih. Ku usap ujung bibirku, ada sedikit darah yang menetes dari ujung
bibirku. Aku pun menatap papah dingin, kemarahan itu memuncak begitu saja.
“tamparan ini akan selalu aku inget pah, dan aku gak akan biarin
tangan kotor papah itu menyentuh pipi ku lagi!” kataku penuh kemarahan
“kamu.....” papah hendak menamparku lagi, namun mamah
mencegahnya.
Aku pun berlari meninggalkan mereka, dan terisak.
Iza POV “ cahaya periku meredup “
’m Arnandi ihza mulyadi, 10 grader of BINUS Serpong. Hidupku
begitu sempurna dan aku bahagia dengan hidupku. Terlebih karena aku mempunyai
seorang gadis yang sangat aku sayangi, utami. Dimataku, dia sangat cantik, baik
dan pintar. Dia gadis yang ceria dan humoris. Senyum dan tawanya selalu melekat
di bibirnya setiap harinya.
Namun itu dulu, sebelum orang tuanya sering bertengkar dan
bercerai. Senyuman yang dulu tampak indah itu kini sama sekali tak tampak di
parasnya.
Kau tau apa yang ku rasakan? Hatiku menjerit, jiwaku
menangis. Bagaimana tidak? Peri yang dulu selalu tersenyum riang itu kini
selalu menangis. Tangisnya membuat hatiku teriris, dan aku bersumpah aku akan
membuat senyuman itu tampak lagi. Aku yakin, utami adalah gadis yang kuat. Dia
pasti bisa melewati ini semua, dan aku tak akan pernah meninggalkannya.
Aku duduk di gazeboo sekolah pagi ini. Tiba-tiba datang
seorang gadis yang kemudian memelukku erat sambil menangis. Tuhan..... jangan
biarkan tangisan ini terus menghiasinya.
Ku tatap lembut wajah sendunya, tampak luka memar di
wajahnya. Kenapa lagi ini? Apa yang terjadi padanya? Belum cukupkah kau
membuatnya tersiksa tuhan?
“kamu kenapa?” tanyaku sambil memeriksa ujung bibirnya
“auuuuw” katanya kesakitan karena aku menyentuh bagian
lukanya
“kamu kenapa?” tanyaku lagi
“papah tampar aku za” katanya di iringi tangis.
Aku pun memeluknya erat sambil mengusap lembut kepalanya.
Rasanya hatiku menjerit melihat lukanya.
“aku ga kuat tinggal di rumah za, aku mau tinggal sama kamu
aja!” kata utami sambil terus menangis di pelukanku
“kita ga bisa tinggal bareng sayang, itu akan jadi masalah
buat kita!”
“kalo gitu aku tinggal di kontrakan aja, aku gamau tinggal di
rumah” rengeknya
“hey sayang, itu bahaya buat kamu. Aku gak akan biarin kamu
lakuin sesuatu yang bahayain diri kamu
sendiri.!!” aku pun berusaha menasehatinya
“aku ga kuat tinggal di rumah za... aku capek!!” tangisnya
pecah
“kamu ga boleh kaya gitu, kamu ga boleh lari dari masalah.
Suatu saat nanti semuanya pasti akan kembali seperti dulu lagi!!”
Utami hanya diam, sampai kapan dia akan seperti ini tuhan?
Hari berlalu, aku tak menemukan utami di sekolah. Menurut
teman-temannya dia tidak masuk sekolah. Kemana dia? Tak seperti biasanya dia
seperti ini.
Aku pun mencarinya hingga aku sampai di danau tak jauh dari
kompleks utami tinggal. Aku melihatnya di sana, aku berdecak lega karena dia
tak melakukan hal-hal yang aneh. Aku pun menghampirinya yang tengah duduk di
bawah pohon.
Setelah dekat, aku melihat keanehan di wajahnya. Dia pucat
dan tampak menggigil, dia sedikit pilek. Akupun duduk di sampingnya dan
menatapnya lembut.
“kamu kok ga masuk sekolah?” tanyaku lembut. Tapi utami tak
menjawabnya.
“kamu kenapa sayang, sakit? Ga biasanya kamu kaya gini?”
tanyaku lagi sambil mengusap lembut kepalanya.
“aku ga apa-apa, jangan ganggu aku bisa gak sih? Aku capek
kamu awasin terus!!” katanya membentak sambil menepis tanganku.
Utami lalu pergi meninggalkanku, jalan nya sedikit tak
seimbang. Ada apa dengannya? Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Tingkahnya
seperti orang yang sedang................. . ah tidak mungkin. Utami tidak
mungkin memakai barang haram itu. Mungkin dia hanya sedang kalut.
2 hari berlalu sejak kejadian di danau itu. Utami tidak masuk
sekolah. Aku mencarinya kemana-mana, namun tak ku jumpai dia bahkan di tempat
favorite nya sekalipun. Kemana dia?
Akhirnya aku putuskan untuk ke rumahnya. Walaupun aku tahu,
aku pasti akan di usir mamahnya bila ia mengetahui aku datang ke rumahnya. Tapi
aku tak perduli, yang aku pikirkan hanyalah keadaan utami saat ini. Aku mengkhawatirkannya.
Aku ketuk perlahan pintu rumahnya. Dengan takut aku
mengucapkan salam. Lama aku mengetuk, namun tak ada jawaban. Ku coba memutar
handle pintu, tak terkunci. Aku pun memasuki rumah utami perlahan.
Lengang, rumah ini bagai tak berpenghuni. Entah mengapa,
namun firasatku mengatakan sesuatu yang buruk. Tuhan, jangan biarkan firasat
ini menjadi nyata.
Aku pun bergegas menuju kamar utami yang berada di lantai 2.
Setelah sampai di depan pintu kamarnya aku terdiam sejenak. Firasat ini semakin
kuat..... aku pun dengan segera membuka pintu kamarnya.
Ku cari dimana keberadaan nya, akhirnya aku menemukannya di
sudut kamar.
Tuhan...... nafasku tersekat, mataku terbelalak tak percaya.
Benarkah itu dia? Benarkah gadis yang terduduk di sudut kamar itu adalah
periku? Tuhan, mengapa seperti ini.
Aku melihatnya tengah menghisap darahnya sendiri yang terus
menetes karena ia menggoreskan pisau di nadinya. Ingin ku meyakinkan diriku
bahwa itu bukan dia. Tapi, dia memang periku. Dia sakau.
Tanpa pikir panjang aku berlari menghampirinya dan
mencegahnya menghisap darahnya sendiri. Kau tau bagaimana perasaanku melihat
keadaannya. Ingin sekali rasanya aku menjerit dan menangis, kenapa dia jadi
seperti ini.
Wajahnya pucat dan membiru, mungkin karena ia kehilangan
banyak darah. Tubuhnya menggigil, matanya berair. Aku pun mendekapnya dan
menangis.
“lepasin..... gue mau barang itu. Gue butuh sekarang..!”
katanya meronta.
Tanpa pikir panjang aku segera membawanya ke rumah sakit.
Darahnya bisa habis jika tak segera di hentikan.
Cemas, aku menunggunya di ruang ICU. Kemana para dokter yang
menanganinya? Kenapa belum ada yang keluar juga? Tuhan... selamatkan dia.
Akhirnya dokter yang memeriksa utami pun keluar. Aku segera
menghampiri nya dan menanyakan keadaan utami.
“Sedikit terlambat membawanya kesini mungkin dia akan
kehilangan nyawanya. Obat-obatan terlarang itu sudah menyebar di dalam
tubuhnya. Saya sarankan agar utami segera di rehabilitasi setelah keluar dari
rumah sakit” ucap dokter
“baik dokter, saya akan melakukan segala hal demi
kesembuhannya” aku berucap lega. Terima kasih tuhan, kau telah menyelamatkan
nya.
Aku pun menghampiri utami dan menggenggam tangannya lembut.
Dari mana kamu mengenal barang haram itu? Kenapa kamu melakukan hal sejauh ini?
Tak lama utami tersadar. Tatapan matanya lemah.
“kenapa kamu pakai obat-obatan itu?” tanyaku lembut. Namun
utami hanya diam, matanya mulai berkaca-kaca.
”kamu mau buat aku jantungan? Kamu mau liat aku cemas? Kenapa
kamu bahayain diri kamu sendiri? Dari mana kamu dapat barang haram itu?” nada
suaraku mulai mengeras. Namun utami tetap diam, tak ada sepatah kata pun yang
keluar dari mulutnya.
“jawab pertanyaan aku! Kenapa sampai sejauh ini sayang? Apa
kamu gak percaya lagi sama aku, apa aku udah ga berarti lagi buat kamu?” aku
membentak. Air matanya mulai menetes
“maafin aku za, Cuma dengan itu aku bisa ngelupain semua
masalahku!” akhirnya utami menjawab. Suaranya sangat lemah dan nyaris tak
terdengar.
Aku pun memeluknya, dan menenangkannya. Dia menangis. Aku
menyesal tlah membentaknya tadi.
“kamu harus janji sama aku, kamu harus lepas dari obat-obatan
terlarang itu. Aku akan selalu ada buat kamu” ucapku. Utami hanya mengangguk
sambil terus menangis. Aku bersumpah, aku akan membuatnya lepas dari barang
haram itu!
Utami POV “aku tak bisa lepas dari obat itu”
etelah 3 hari aku dirawat di rumah sakit akhirnya aku di
perbolehkan pulang. Aku tak ingin berlama-lama lagi di rumah sakit. Aku rindu
udara di luar sana, walaupun sekarang hidungku tak peka lagi akibat obat-obatan
terlarang itu.
Iza membawaku ke rumah saudaranya yang ada di puncak atas
permintaan ku. Aku tak ingin kembali ke rumah, aku melarang iza agar ia tak
memberitahukan keadaanku pada orang tuaku. Aku ingin lepas dari mereka.
Udara disini sangat sejuk, aku sangat merasa damai disini. Aku akan tinggal
disin bersama bi minah, pembantu kelurga iza yang mengurusi rumah ini. Iza bilang aku akan di rehabilitasi
disini. Sejujurnya aku ingin sekali bisa sembuh. Tapi entah, aku tak yakin bisa
lepas dari obat jahanam itu. Bantu aku untuk lepas darinya tuhan....
“besok aku kesini lagi, aku mau ke Jakarta dulu buat
ngurusin rehabilitasi buat kamu. Kamu baik-baik ya sayang, kalo udah selese aku
cepet-cepet balik lagi”
Kata iza, aku hanya menganggup dan tersenyum kecil
padanya.
Perlahan, mobil yang di tumpangi iza menghilang dari
pandangan mataku. Cepat kembali ya za, aku takut akan terjadi lagi saat kamu
tak ada disini.
Malam hari, aku membenamkan tubuhku dengan selimut.
Udara malam hari disini memang dingin. Tiba-tiba saja rasa dingin ini semakin
menjadi-jadi. Aku menggigil hebat. Aku tau, kekhawatiranku terjadi. Aku harus
bisa menahannya, aku gak boleh buat iza kecewa lagi.
Ku coba pejamkan mataku, namun tak berhasil. Seluruh
tubuhku terasa sakit, tulang-tulangku terasa nyeri. Sungguh, ini sangat
menyakitkan. Tuhan, aku tak bisa bertahan!!!
Semua pertahanan yang ku bangun roboh, rasa sakit ini
mengalahkan segala yang ku pertahankan, aku tak bisa terus begini, namun dimana
aku bisa mencari obat-obatan itu?
Tanpa pikir panjang aku mencari pisau, gunting,
ataupun sejenisnya. Dengan tubuh menggigil aku mengobrak-abrik seluruh isi
kamar. Lemari, meja, laci, semuanya ku geledah. Akhirnya aku menemukan cutter
di laci.
Hatiku terasa lega, namun ada tekanan yang seakan
melarangku mengambil cutter itu, ingatan tentang iza. Ku coba kembali sadar,
namun aku tak berdaya, rasa sakit ini semakin hebat, tulangku bagaikan di
patahkan. Sakit!
Kemudian datang bi minah yang mendengar suara
kegaduhan di kamarku, ia terbelalak kaget melihatku tengah memegang cutter. Dia
mencoba menangkapku, namun aku mencoba menghindar. Tak ada satupun yang bisa
menghalangi aku, aku harus menghentikan sakau ini. Jika tidak, aku bisa mati
karena kesakitan.
Bi minah berhasil menangkapku, aku meronta dan
berteriak. Dalam batinku, aku tak ingin seperti ini. Tapi obat-obatan yang
telah mengalir dalam darahku itu memaksaku untuk melakukan semuanya.
Dia mengikat tangan dan kaki ku dengan kencang. Aku
semakin meronta dan berteriak histeris. Namun bi minah diam saja, dia tak
melepaskan ikatan nya.
“lepasin bi, lepaaas!! Aku harus dapetin barang itu,
sakit bi!”
“maaf neng, ini semua perintah dari mas iza”
Dengan wajah tak tega, bi minah meninggalkanku di
kamar dalam keadaan tangan dan kaki terikat. Ia mengunci pintu dan
meninggalkanku sendiri, berteriak, merintih, kesakitan!
Tuhan…… aku tak bisa lepas dari obat itu………
Iza POV “jangan seperti ini”
elepon dari bi minah semalam membuat pikiranku kacau.
Pagi-pagi buta, aku langsung memacu mobilku dengan kencang. Pikiranku kalut,
seharusnya aku tak meninggalkannya.
Akhirnya aku pun sampai di puncak, aku segera masuk
kedalam rumah.
“semaleman dia ga berhenti berteriak dan menangis mas”
kata bi minah setelah aku sampai
Aku pun segera menuju kamar utami. Pintunya masih
terkunci sejak semalam, aku pun memutar kuncinya dan membuka pintu dengan
tergesa-gesa.
Jleb… bagaikan pisau yang tengah mengiris hatiku.
Miris sekali melihat keadaan utami sekarang, sangat menyakitkan melihat dia,
orang yang sangat ku cintai menggelepar di lantai dengan keadaan tangan dan
kaki yang terikat.
Aku segera mendekatinya, ia masih berusaha meronta
dengan sisa-sisa tenaganya. Ia sangat lemah. Matanya berair dan mengantung,
bibirnya pucat pasi. Tak tega, aku pun segera melepaskan ikatannya dan
memeluknya.
“kamu tega za, aku sakit!” katanya dengan lemah dan
parau
Hatiku menangis. Aku tak bermaksud setega itu padanya,
aku hanya ingin dia tidak merasakan sakit yang lebih dari ini. Ku lihat
pergelangan tangan dan kakinya, memar dan lecet. Mungkin karena ia selalu
meronta hingga tangan dan kakinya luka-luka.
“maafin aku ut, ini semua buat kebaikan kamu” jawab
ku. Tak ada niatan untuk membuatnya kesakitan.
Tanpa menunggu lebih lama lagi aku membawa utami ke
tempat rehabilitasi. Aku menggendong tubuhnya yang lemah menuju mobil dan sesegera
mungkin memacu mobilku.
Tak beberapa lama kami sampai di tempat rehabilitasi.
Para dokter yang ada disana langsung memasangkan jarum
infuse dan memberikan obat. Mereka memang bukan dokter, mereka adalah
orang-orang yang ahli dalam menangani para pengguna narkoba. Tapi aku bingung
menyebut mereka apa.
Lalu seseorang dokter mengajakku menuju ke ruangannya,
mungkin ada sesuatu yang akan ia bicarakan padaku entah apa itu. Yang pasti,
aku mengharapkan berita baik darinya, bukan berita buruk.
“utami harus segera di detoks, kami akan segera
menyiapkan ruangan untuk masa detoksifikasi”
“lalu apa yang harus saya lakukan?”
“untuk sekarang ini yang bisa anda lakukan hanya
menemani dia dan mensupport dia saat detoks nanti, karena ia pasti akan merasa
sangat kesakitan pada saat di detoks”
“baiklah, saya akan melakukan apapun agar dia sembuh”
Pembicaraan kami berakhir, aku pun keluar dari ruangan
dokter itu dan menuju ruangan dimana utami terbaring lemah.
Aku duduk disampingnya, kutatap wajah sayu itu lalu ku
genggam erat tangannya yang kini dipenuhi selang infuse.
“kamu pasti kuat, kamu pasti bisa! Ada aku disini yang
gak akan pernah ninggalin kamu” ujarku lirih
Utami terbangun dan menatapku yang tengah mencium
punggung tangan nya sambil menangis.
“kamu kenapa za?” tanyanya dengan lemah
“kamu harus janji sama aku, kamu harus kuat ya sayang.
Sesakit apapun nanti, kamu harus kuat. Demi aku!” aku berkata lirih. Aku
menangkap rasa pilu di ekspresi wajah utami.
“aku akan bertahan sekuat mungkin, untuk kamu!”
katanya menegaskan. Air mataku kembali jatuh. Tuhan, akhiri semua pilu ini!
Saat detoksifikasi pun tiba, utami di bawa ke ruangan
yang di khususkan untuk detoks. Semua benda yang ada didalamnya pun tak ada
yang tajam dan berbahaya. Piring dan gelasnya pun dari plastik.
“kamu harus siap, masa ini sangat berat!”
Kata dokter memperingatkan aku, tubuhku langsung
terasa lemas membayangkan utami nanti akan menangis kesakitan. Ku coba
menyemangati diriku, aku pasti bisa, kamu pasti bisa kuat iza!!! Demi utami!!
Hari pertama detoks, semuanya berjalan lancer. Tak ada
tanda-tanda bahwa utami akan merasakan reaksi sakit atau apapun. Untuk
sementara aku dapat bernafas lega.
Hari kedua, semua kembali berjalan lancar. Tapi tidak
untuk malam hari, utami mulai menggigil hebat dan mengeluarkan keringat dingin.
Matanya mulai berair. Sanggupkah aku melihat dia kembali sakau?
Aku mendekapnya erat, aku seperti ikut merasakan sakit
yang ia rasakan.
“dingin zaaaa, sakit!!!” teriak utami.
Aku menangis mendengar rintih nya, tapi aku bisa apa?
Andai bisa, aku rela jika sakit itu aku yang merasakannya, bukan dia!
Semakin larut malam, utami semakin parah. Ia semakin
memberontak dan berteriak histeris. Ia terus-terusan meminta obat terlarang
itu. Aku berusaha menahannya sekuat tenaga, berusaha terus menjaganya dalam
pelukanku. Aku tak ingin dia kembali melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Utami pasti merasa sangat kedinginan, ia pasti
merasakan tulang-tulangnya nyeri dan seolah patah, ia pasti merasa kesakitan!
Aku mohon…… jangan seperti ini sayang, aku tak bisa melihatmu seperti ini!!
Utami POV “ahiri saja bila memang seharusnya”
udah tiga hari aku di detoks. Tampaknya iza sangat
kelelahan, ia tak pernah pergi dari sisiku. Ia terus menjagaku siang dan malam
sehingga dia kurang tidur dan ku rasa dia sangat kelelahan. Aku khawatir dia
akan terjatuh sakit bila terus seperti ini.
Detoks, pengeluaran racun dari dalam tubuh. Semua
proses ini melelahkan dan sangat menyakitkan. Aku ingin menyerah saja rasanya,
aku lelah!
Namun aku selalu berusaha bertahan, hanya demi iza!
Tapi, aku hanya menyusahkannya saja. Dia sampai kelelahan seperti ini karena
aku.
Lalu untuk apa aku bertahan dan sekuat tenaga melawan
rasa sakit ini bila akhirnya aku hanya membuat iza sakit? Untuk apa aku hidup
jika selalu membuat iza susah? Bukankah alasan ku untuk sembuh adalah untuk
membahagiakan iza? Tapi nyatanya aku hanya membuatnya sakit!!
Hari ini aku memaksa iza untuk bed rest. Awalnya ia
menolak, tapi aku tak akan membiarkan ia terjatuh sakit.
“aku mau jagain kamu ut”
“aku mohon za, aku pasti akan baik-baik saja.
Istirahatlah, aku tak ingin melihat kamu sakit karena itu akan membuat aku
semakin lemah!” bujukku.
Akhirnya iza pun menurut. Ia lalu pergi ke kamar tamu
dan tak lama terlelap. Aku mendekati iza yang sedang tertidur lelap, aku tatap
wajahnya yang kelelahan.
“aku sayang kamu za, biarkan aku mengakhiri jika
memang seharusnya begitu”
Ucapku lirih, aku lalu mencium kening iza, air mataku
jatuh. Lalu aku pergi dari kamar iza.
Akhirnya malam tiba, malam adalah waktu yang paling
berat untukku. Aku pasti akan kembali merasakan sakit. Tak berlangsung lama,
aku mulai merasakan nyeri di persendian tulangku. Aku mencoba menahan sakitnya.
Ku lihat secarik kertas berwarna biru di atas meja,
aku menganmbilnya dan mulai menggoreskan pena.
Semakin lama rasa sakit ini seakin menjadi-jadi. Aku
tak sanggup menahannya tuhan!!
Aku mulai gelisah dan kedinginan. Otakku mulai buntu,
aku tak bisa memikirkan pertahanan yang telah ku buat selama ini untuk sembuh.
Otakku kacau. Yang ada dalam pikiranku saat ini hanya bagaimana cara
menghentikan rasa sakit ini. Dan satu-satunya cara hanyalah dengan obat itu.
Aku tak bisa
mendapatkan obat itu……………… aku kalut……………
Aku berusaha memecahkan kaca dengan apa saja yang ada
di sekitarku. Dan akhirnya, aku berhasil memecahkannya. Aku mengambil
sebongkah……………………
Pikiran gila ini tak terkendali lagi, aku langsung
menggoreskan nya ke nadi ku dan menghisap darah yang keluar darinya.
Setidaknya, aku sedikit merasa tertolong. Rasa sakit ini sedikit banyak mulai menghilang.
Namun pandanganku mulai tak beraturan, penglihatanku kabur. Aku merasakan
pusing yang teramat sangat.
“memang seharusnya ini berakhir za, aku sayang kamu”
Ucapku lirih dengan sisa-sisa tenaga yang ku miliki.
Dan akhirnya, semuanya gelap…………………………
Iza POV “bukan seperti ini akhir yang ku inginkan”
ku terbangun saat tiba-tiba seorang perawat
membangunkanku dengan tergesa-gesa. Dengan setengah kesadaran aku mendengar ia
berkata.
“mas iza, utami sakau lagi. Dia………dilarikan kerumah
sakit karena menghisap darah lagi”
Aku terkejut dan terbelalak kaget. Semua lelah yang
kurasakan hilang, yang aku pikirkan saat ini hanya keadaan utami saat ini. Aku
sesegera mungkin menuju rumah sakit.
Cemas… aku segera memasuki ruang IGD.
“Dia kritis dan kehilangan banyak darah… “ ucap dokter
yang telah selesai memeriksa utami
Aku pun langsung menghampiri utami yang terbaring
lemah sementara dokter dan yang lainnya keluar dari ruangan.
Aku pun duduk disampingnya dan menggenggam tangannya.
Dingin…… tangannya terasa begitu dingin. Ia kehilangan banyak darah…
“maafin aku sayang, harusnya aku gak ninggalin kamu.
Harusnya aku tetap jagain kamu, ini semua salahku!” tuturku. Namun apakah utami
bisa mendengarnya?
“kamu harus kuat… demi aku! Kamu harus bertahan, ingat
janji kamu! Kamu harus sembuh!”
Aku terus berkata-kata. Namun apakah di alam bawah
sadar ia dapat mendengar suara-suara ku? Apakah dia bisa mendengar kata hatiku?
“aku mohon… bangun sayang!! Aku ga bisa hidup tanpa
kamu, kamu nyawa hidupku!!” rintihku.
Aku melihat air mata yang menetes dari ujung mata
utami. Dia mendengarku… ya, dia bisa mendengarkan apa yang aku utarakan.
Tiba-tiba saja nafas utami tersengal, detak jantungnya
memacu cepat lalu melemah. Aku panik, tak tau lagi apa yang harus ku lakukan..
Aku langsung menekan tombol darurat. Dokter memasuki
ruangan dan segera memeriksa keadaan utami. Dokter langsung mengambil alat pacu
jantung… dan sesaat kemudian…….
Tuhaaaan…........ alat pendeteksi jantung itu
berdengung. Dokter mulai menghentikan segala aktivitasnya. Jantungku langsung
berpacu cepat. Tuhan… tolong aku!!
Dokter lalu menghadap kearahku yang tengah panik lalu
ia menggeleng lemah.
“maaf, dia tak bisa lagi di selamatkan…” ucap dokter
itu pelan
Tangisku pecah, sekujur tubuhku terasa lemah. Rasanya
aliran darahku berhenti mengalir. Aku langsung memeluk tubuh utami yang mulai
dingin.
“kenapa kamu pergi sayang……!!”
Aku berteriak histeris, bukan ini akhir yang ku
inginkan. Kenapa harus seperti ini? Kenapa kau mengambilnya tuhan??
Dan semua terasa pudar di mataku, gelap………… dan aku
terjatuh.
<skip>
@pemakaman
u tabur bunga di atas pusaran tanah yang masih merah
itu. Kini ia tlah terbaring disana, dengan sangat tenang. Ia tak akan lagi
merasakan sakit, ia tak akan lagi tersiksa!
Ini bukan akhir yang seharusnya sayang…! Setelah
perjuangan kamu selama ini, kenapa kamu harus menyerah? Kenapa kamu tega
ninggalin aku?
Ku bersimpuh dengan tangis di samping batu nisan yang
kini tertuliskan namanya, nama orang yang sangat ku sayangi. UTAMI!!!
Tiba-tiba seorang perawat di rumah rehabilitasi itu
menghampiriku dan memberikan selembar kertas berwarna biru.
“ini saya temukan di meja kamar utami mas…” katanya.
Ia pun lalu pergi
Perlahan ku buka lipatan kertas itu. Tangisku pecah
melihat banyak bercak darah di kertas itu. Aku mulai membacanya
Hey sayang… maaf aku sekarang ga bisa hapus air matamu. Jangan menangis
seperti itu sayang…… aku tau, pasti saat ini air mata itu tengah mengotori
pipimu. Tersenyumlah sayang, untukku!
Saat ku tuliskan
ini, aku tau, aku pasti akan sakau nanti malam. Aku tak ingin mengganggu
tidurmu yang sangat tenang itu. Aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri
jika nanti kamu jatuh sakit karena terus menerus menjagaku.
Bukankan alasan
kenapa aku harus sembuh adalah kamu? Bukankah semua usaha yang ku lakukan hanya
untuk kebahagiaan kita? Tapi nyatanya!!! Semua usaha itu membuat kamu kelelahan
dan membuatmu hampir jatuh sakit.
Za, aku tak akan
menghendaki dan merelakan kamu sakit walaupun itu untuk kesembuhanku. Biarkan
aku berada di jalan yang seharusnya aku lewati. Biarkan aku mengakhiri semua
ini jika ini memang seharusnya. Biarkan aku mengakhiri semua sakit yang aku
rasakan. Relakan aku za!
Percayalah za, aku
akan bahagia disana nanti. Aku akan tenang disana. Dan yang pasti, aku tak akan
menyusahkanmu lagi. Aku tak akan membuatmu cemas dan khawatir lagi. Aku tak
akan membuat air matamu itu menetes terus menerus.
Sayang, setelah
kamu baca ini. Jangn pernah teteskan air matamu lagi. Jangan nyanyikan
lagu-lagu yang sedih untukku. Jangan biarkan ingatanmu tentangku membuatmu
sedih. Kenanglah semua impian kita… tanamlah mawar di dekat batu nisanku. Mawar
putih kesukaan ku, mawar putih yang selalu kau berikan untukku.
Untuk semua hal
yang kita lalui bersama, untuk semua kenangan dan tawa, untuk cinta yang tak
pernah aku biarkan mati. Hapus air matamu dan Tersenyumlah untuk semua itu.
Aku menunggumu di
alam yang baru……
Ku tutup lembaran kertas berwarna biru itu. Air mataku
semakin mengalir. Aku memang harus merelakan nya, aku tak boleh egois. Dia akan
merasa bahagia disana, tidak kesakitan seperti disini.
Ku ambil buket mawar putih yang ku bawa lalu ku
letakkan di atas nisannya.
“jika memang waktuku cukup, akan ku penuhi pemakaman
mu ini dengan mawar putih sebelum aku menyusulmu.” Ucapku berbisik ke dekat
batu nisannya.
Perlahan aku berdiri, ku tatap sejenak nisan itu. Aku
akan kembali sayang… kita akan selalu bersama.
Ak pun mulai beranjak dan menaiki mobil ku. Ku
hidupkan mesin mobil itu, lalu ku pacu dengan tak beraturan
Aku berusaha untuk mengikhlaskannya, tapi nyatanya!
Aku hanya membohongi diriku sendiri. Sampai kapanpun aku tak bisa merelakannya
pergi.
Pikiranku kacau, tatapan mataku tak beraturan, setir
yang ku pegang pun tak terkendali. Tanpa kusadari sebuah mobil truk melaju
cepat di depanku.
Mendekat…. Dan akhirnya……
Aku
menunggumu di alam yang baru…… kata utami di akhir suratnya
“aku akan segera menyusulmu sayang, aku akan segera
datang. Tunggu aku!”
Ucapku lirih dengan sisa-sisa tenaga yang ku miliki.
Dengan darah yang mengotori sebagian wajahku, aku dapat tersenyum lega.
“ku kira lama akan menyusulmu, tapi aku bahagia… aku
akan segera datang”
Pandangan mataku memudar, dengan tenang aku
menghabiskan sisa nafasku dengan tersenyum. Dan gelap………………………………….
Aku merasa sesosok malaikat membawaku ke suatu tempat.
Tempat yang sangat indah dan terang benderang. Semua benda di sekelilingku
berwarna putih. Lalu aku melihatnya… dia memakai gaun indah berwarna putih
bersih… lalu ia menghampiriku.
“tak ku kira secepat ini kau menyusulku. Aku sayang
kamu iza!”
“dan aku bahagia secepat ini bertemu lagi denganmu
sayang….!”
Lalu aku memeluknya erat. Tak akan pernah ku lepaskan
ia lagi, karena kini… kita tlah berada di keabadian…
END