Senin, 28 Mei 2012

Peri bersayap biru dibwah pohon mapel - cerpen


Aku berjalan di tepi danau yang indah ini, kembali ku pegang dadaku dan memejamkan mata merasakan hembusan angin yang menerpaku.
                Ku tatap temat teduh di bawah pohon mapel itu. Dengan samar ku lihat gadis manis yang tengah berkutat dengan buku diary nya. Dia yang merasakan kehadiranku lalu melihat ke arah ku dan tersenyum padaku.
                Perlahan ku mendekati pohon mapel itu. Dan ketika ku dekati, gadis manis itu tak ada disana. Dia tak nyata.
Aku pun duduk dibawah pohon mapel itu. Ku genggam erat buku diary berwarna biru muda yang tadi kubawa. Aku pun merasakannya, merasakan dia ada, ada disampingku walau tak nyata. Dengan perlahan, aku pun menelusuri lembar demi lembar buku diary itu.
*Belong To Arshatya Sevilla Utami, this is my privacy, i hope you all not to see my diary*
Tertera kata-kata itu di lembar pertama bersama foto gadis manis yang tertempel di pojok kanan bawah, gadis manis si pemilik diary ini.
Aku menghela sejenak nafasku sebelum aku kembali menelusuri lembar demi lembar diary ini.
22 juni
Pohon mapel ini menjadi tempat favorit ku, disini terasa teduh dan nyaman. Riak air danau pun seakan menjadi alunan musik yang menentramkan hati.
Tadi di toko buku aku melihat sebuah buku diary berwarna biru muda. Entah kenapa aku sangat menyukai buku diary itu dan ingin sekali rasanya mencurahkan rasaku di dalamnya. Padahal sebelumnya aku tidak suka menulis diary.
Mungkin ini hoby baruku J
24 juni
Aku tengah asyik berkutat dengan buku diary kesayangan ku saat 4 cowok iseng yang sedang bercanda di tepi danau tak jauh dari tempatku melemparkan batu kerikil ke danau hingga airnya bercipratan ke arahku.
Aku kesal dan dan memarahi mereka. Menyebalkan! Mereka malah berbalik marah sampai akhirnya kami bertengkar. Tapi salah satu dari mereka mencegah teman-teman nya yang tengah bertengkar denganku. Dia tampaknya baik. Tapi tetap saja, hari ini sungguh hari yang menyebalkan.
25 juni
::             cowok harajuku style yang calm. Menurutku dia gak sama seperti teman-temannya. Dia terlihat so-cool di balik kaca mata hitamnya. Suaranya agak serak. Dia yang melerai pertengkaran kami kemarin. Tai mungkin dia sama nyebelinnya kaya yang lain.
::             cowok yang berharajuku style juga dengan rambut yang di biarkan sedikit menutupi wajahnya. Sekilas mirip justin bieber sih, tapi dia nyalahin aku balik waktu aku marah kemarin
::             cowok bergaya hip-hop yang cool. Manis juga sih wajahnya, tapi dia berbalik marah waktu pertengkaran kemarin
::             cowok berambut gondrong dengan postur rubuh mungil. Gak terlalu jangkung seperti yang lain. Tapi nyalinya besar juga. Terbukti waktu bertengkar kemarin dialah yang terdepan.
Itulah deskripsi 4 cowok nyebelin yang bertemu aku kemarin. Semoga hari ini aku gak ketemu mereka lagi.
26 juni
Dia datang lagi, salah satu diantara 4 cowok myebelin itu datang lagi. Cowok dengan harajuku style yang calm itu. Dia menghampiriku dan meminta maaf atas kejdian kemarin. Bukannya aku gak mau buat maafin dia, tapi aku masih kesal dengan ulah teman-temannya. Jadi aku usir dia.....
27 juni
Ngapain sih dia datang lagi? Apa gak cukup kemarin dia aku usir? Dia mendekat ke arahku sambil memperkenalkan namanya. Jelas saja aku tak merespon. Aku masih jengkel.
28 juni
Dia gak pernah jera buat datang kesini. IZA, seingatku itulah nama yang ia perkenalkan kemarin. Saking kesalnya aku mendorongnya hingga tercebur ke danau.
Ya tuhan, ternyata dia gak bisa berenang. Dia hampir tenggelam. Langsung saja aku menolongnya dan menceburkan diri ke danau.
Untung saja dia selamat
29 juni
Kali ini dia duduk di tepi danau bersebrangan denganku. Dia tak menghampiriku seperti biasanya. Aku merasa bersalah atas kejadian kemarin.
Aku putuskan untuk menghampirinya dan meminta maaf. Dia begitu ramah. Namanya memang IZA. Syukurlah, dia telah memaafkanku.
1 juli
Dia tak datang lagi. Kemana dia? Mungkin dia sibuk atau apa. Yang pasti aku merindukannya. Ada yang berbeda saat aku bersama iza. Dia pribadi yang hangat dan baik. Aku begitu nyaman saat berada di dekatnya. Tuhan, kenapa dengan diriku?
3 juli
Aku terkejut saat mendapati bunga eidelweiss  di bawah maple tempat biasanya aku duduk. Aku pun mengambilnya. Ada memo disana.
*seabadi bunga eidelweiss, seabadi kecantikan hatimu, seabadi itu pula kekagumanku padamu. Kau bagai peri bersayap biru dengan warna-warni  yang menceriakan dunia. Tersenyumlah selalu periku. Tak akan ku biarkan apapun menghapus senyummu*
Begitulah  isi memo itu. Aku merasa tersanjung dengan isi memo itu. Namun aku penasaran, siapakah pengirim eidelweiss ini???
4 juli
Kembali ku temukan bunga eidelweiss di tempat biasa aku duduk. Kembali ku baca memo di dalamnya.
*Auramu tak pernah redup, ku terpenjara dalam buai keindahanmu, tak bias ku terlepas dari jeratmu, karena senyummu mampu membuat jantungku berhenti berdetak, kelap-kelip indahmu mampu membuat duniaku berwarna, jangan pernah menjauh dariku peri bersayap biruku*
Siapa kamu? Kenapa menerorku seperti ini. Aku harus mencari tahu siapa kamu. Bagaimanapun caranya, aku harus tahu siapa kamu?
7 juli
Lagi dan lagi, bunga eidelweiss itu selalu menyapaku setiap hari.
*Tak perlu kau mencariku, aku selalu ada bersamamu. Tak perlu mencariku, karena aku selalu tinggal dalam ragamu, kau tak pernah lepas dari pandanganku, aku akan selalu menemanimu tanpa kau tahu*
Tuhan, aku bias gila jika di terror terus-menerus seperti ini.
9 juli
Seorang cowok memberiku bunga eidelweiss dari arah belakang sambil berkata
“untukmu peri bersayap biruku”
Tahukah kau perasaanku saat mengetahui siapa cowok misterius itu? Tahukah kau betapa bahagianya aku saat mengethui bahwa cowok itu iza, iza yang mampu membuat hatiku tak karuan. Aku bahagia tuhan, apa aku menyukai iza?
12 juli
Iza selalu bersamaku, dia selalu menemaniku dan selalu ada saat ku membutuhkannya. Dia bagai malaikat bagiku.
“aku tak akan pernah seperti daun maple ini, yang berguguran meninggalkan dahannya. Tapi aku akan menjadi akar maple ini, yang selalu kuat mencengkeram tanah, dan selalu kokoh”
Itulah kata-kata iza yang mampu membuat hatiku tak karuan. Mungkin aku benar-benar menyukai iza.
16 juli
2 orang teman iza dating. Mereka meminta maaf atas pertengkaran kami waktu itu. Namanya ray dan Brandon. Tampaknya mereka anak yang baik. Apalagi Brandon, dia sering secara tiba-tiba menari hip-hop. Tak salah dugaan ku selama ini, dia memang dancer.
Tapi satu orang teman mereka tak ikut datang untuk meminta maaf bersama teman-temannya yang lain. Menyebalkan bukan? Padahal dialah yang waktu itu paling sering berdebat denganku. Rasanya ingin sekali aku memarahinya lagi, menyebalkan!
19 juli
Aku sekarang berteman baik dengan ray dan Brandon. Ternyata benar kata iza, mereka baik juga walau kadang nyebelin. Tapi aku masih kesel pada teman mereka yang tidak ikut datang meminta maaf. Kata iza, namanya cakka. Dia mungkin sibuk sehingga tidak ikut kemari. Begitulah kata iza. Biarlah, aku tak perduli terhadapnya. Yang penting aku bahagia bersama iza.
22 juli
Kurang lebih sudah 1 bulan aku mengenal iza. Aku nyaman saat berada di dekatnya. Aku benar-benar menyayanginya. Tapi aku bingung, darimana dia mengetahui semua hal tentangku? Rumahku, sekolahku dan semua dan semua hal tentangku. Tapi, aku tak tau sama sekali tentangnya.
Namun aku tak perduli itu. Karena yang ku tau, iza adalah orang yang paling berarti untukku.
28 juli
Tadi tiba-tiba saja iza memelukku erat sekali. Aku tak tau apa yang terjadi pada iza. Namun aku merasakan dia akan pergi dari sisiku.
Tidak…… aku mohon tuhan…… jangan kau biarkan perasaan buruk ini nyata.
5 agustus
1 minggu sudah iza tak datang kesini. Begitupun Brandon dan ray. Aku sangat merasa kehilangan iza. Aku merindukannya. Jika aku tahu diaman rumahnya, aku pasti langsung kesana.
Tuhan, kemana iza???
7 agustus
Seseorang memberikanku bunga eidelweiss dari arah belakang. Aku piker dia iza. Namun aku sangat terkejut saat tau dia dalah orang yang ku benci. Dia cakka, teman iza yang sangat menyebalkan.
Aku bingung tuhan, kenapa dia membawa bunga eidelweiss, bunga yang selalu iza bawakan untukku?
12 agustus
Cakka orang yang baik, dia tidak terlalu menyebalkan juga. Suda 5 hari ini dia selalu menemaniku. Dia seperti menggantikan posisi iza untuk menjagaku. Tapi tidak di hatiku, iza tak kan bias di gantikan oleh siapapun.
18 agustus
Iza, diamana kamu? Mengapa menghilang secara tiba-tiba seperti ini. Aku membutuhkan kamu za.
Walau ada cakka disampingku. Tapi tetap saja, yang kubutuhkan hanya kamu. Kenapa cakka tak mau memberiyahukan sedikitpun tentang keberadaanmu?
26 agustus
Cakka datang disaat aku tengah menangis. Dia berusaha menghiburku. Namun percuma saja, yang ku mau hanya iza.
“Cuma iza yang ku butuhkan kka!”
Teriakku pada cakka, dia mengusap air mataku dan berjanji bahwa dia akan menunjukkan sesuatu untukku lusa nanti.
Sebenarnya apa yang mau dia tunjukkan?
28 agustus
Cakka membawaku ke tempat yang kupikir tak masuk akal untuk memberikan sebuah kejutan. Kamar eidelweiss no 8, itulah nama yang tertempel di pintu kamar dimana aku dan cakka berhenti. Aku melihat sedikit kedalam kamar.
Tahukah kau siapa orang yang terbaring di dalam? Ya, dia malaikatku. Iza terbaring lemah disana dengan berbagai selang dan kabel yang terhubung ke tubuhnya.
Tahukah kau betapa hancurnya aku saat tau sakit yang diderita iza? Aku sangat hancur saat tau iza mengidap sirosis. Aku menangis, untunglah ada cakka di sampingku.
1 september
Iza belum bangun dari koma-nya. Aku tak akan pernah pergi darinya. Aku akan terus menemaninya disini.
Tuhan, apakah sirosis itu bisa sembuh? Apapun akan kulakukan agar iza sembuh. Za, bangun za.aku akan selalu ada untukmu. Ku mohon za, bangunlah!!!
3 september
Akhirnya, iza bangun dari koma-nya. Iza telah melewati masa kritisnya. Betapa bahagianya aku saat ia menyebut namaku waktu pertama kali membuka mata.
Aku bahagia melihatnya tersenyum lagi. Ku mohon tuhan, sembuhkan malaikatku.
5 september
Mata teduh itu kini tampak sayu. Wajah manis itu kini tampak pucat. Suara merdu itu kini terdengar parau. Tubuh energik itu kini terlihat lemah.
Tuhan, aku tak sanggup melihat malaikatku seperti ini!!!
Sembuhkanlah dia. Kirimkanlah seseorang yang mau mendonorkan hatinya untuk iza. Aku mohon!!!
8 september
Taukah kau apa yang tadi pagi dikatakan iza
“aku tak mungkin melawan takdir. Percuma saja menunggu seseorang yang mau mendonorkan hatinya untukku. Mungkin, kita di takdirkan untuk bersama di alam sana. Aku akan setia menunggumu disurga”
Aku menangis mendengar iza berkata seperti itu. Taukah kau bagaimana perasaanku? Aku sangat hancur, aku seperti tak berguna sama sekali untuk iza. Apa yang harus kulakukan tuhan?
12 september
Apapun kan ku lakukan untuk iza.
Tuhan, semoga yang kulakukan ini benar.
Lembar-lembar berikutnya kosong. Tangisku tak tertahan saat membaca buku diary ini. Kenapa kau melakukan ini peri bersayap biruku? Kenapa kau meninggalkan aku?
Aku kembali membuka lembar buku diary ini. Mungkin ada lagi tulisan utami yang belum aku baca. Dan aku menemukan tulisan di bagian tengah buku diary ini.
iza, setelah kamu membaca diary ini, aku harap jangan ada tangis lagi, jangan ada air mata. Karena aku, bahagia disini.
Iza, aku menyayangimu melebihi diriku sendiri. Taukah kau betapa hancurnya aku saat tau kamu sekarat?? Saat aku tau sirosis itu akan mengambilmu dariku!! Aku hancur za, aku sangat hancur.
Iza, maafkan aku. Karena aku pergi mendahuluimu. Karena aku tak menunggumu terlebih dahulu. Mungkin aku egois, tapi aku yakin inilah yang terbaik.
Iza, dengan hatiku yang ada di tubuhmu, dengan itu pulalah aku akan mencintaimu. Dengan hatiku yang menyatu dengan tubuhmu, dengan itulah aku akan selalu hidup ragamu. Karena hatiku adalah hatimu. Dan selamanya kita akan bersama.
Iza, aku akan setia menunggumu disini, di surge kita. Hapus air matamu, jangan ada tangis lagi.
Iza, hatiku hanya untukmu
*AKU SAYANG IZA*”
                Air mata ini semakin deras menetes. Kembali ku pegang dadaku. Disini, ya…… disinilah utami hidup. Di dalam hatiku. Dia tak akan pernah pergi dariku. Dia akan selalu bersamaku.
Samar, aku melihat utami duduk di sebelahku. Dia memakai gaun berwarna biru muda cerah, dan tersenyum ke arahku. Dia terlihat sangat manis.
“za, aku akan selalu bersamamu”
Bisik utami pelan di telingaku, aku pun tersenyum dan mengangguk.
“tunggu aku di surgamu, peri bersayap biruku”
Balasku, dia kembali tersenyum manis, lalu menghilang dari tatapan mataku.

Can't life without you - cerpen


Utami POV “my life”
A
ku memang bukan gadis yang cantik, bukan pula gadis pintar dan bukan pula berasal dari orang yang berada. Tapi aku merasa menjadi gadis yang paling beruntung di dunia ini. Karena aku memiliki iza, iza yang sempurna bagiku. Dan aku tau pasti, di dunia ini hanya ada satu orang seperti iza. Namaku Arshatya Sevilla Utami, aku duduk di kelas 10 di BINUS Serpong.
Hidupku indah teman. Ya, mungkin itu untuk sementara ini. Aku akan selalu merasa bahagia bila bersama iza.
Tapi itu tak berlangsung lama teman. Hidupku menjadi tak tenang semenjak orang tua ku sering bertengkar. Rumah yang dulu bagaikan istana kini lebih pantas disebut neraka. Yang bisa ku dengar setiap hari hanyalah teriakkan, bentakkan dan tangis.
Aku lelah dengan semuanya, ingin rasanya aku meninggalkan dunia ini dan terus menjauh dari dunia ini. Tapi disaat aku jatuh, iza yang selalu menjagaku, iza yang selalu membuat aku bangkit dari keterpurukan.
“ini bukan utami yang aku kenal, utami yang aku kenal itu orang yang kuat. Jangan pernah merasa bahwa kamu sendiri. Selalu ada aku disini, dan aku gak akan pernah tinggalin kamu”
Kata iza sambil menatap mataku lembut dan menyeka air mataku yang jatuh. Aku kembali merasa mempunyai kekuatan setiap iza berkata seperti itu padaku.
Puncaknya, mereka kini tlah bercerai. Mungkin itu lebih baik, dari pada mereka terus bersama tapi terus bertengkar. Tapi keributan itu tetap saja terjadi ketika papah mengunjungi rumah. Tak bisakah mereka sebentar saja tak bertengkar?
Aku mencoba tetap tegar untuk menghadapi semua ini. Malam itu aku pulang hampir jam 11 malam, aku masuk perlahan kedalam rumah. Suara teriakan dan bentakan langsung menghampiriku. Ku lihat mamah dan papah yang sedang bertengkar di ruang tamu. Ya, ini pemandangan yang sudah biasa bagiku. Aku pun berjalan perlahan meninggalkan mereka.
“darimana saja kamu, jam segini baru pulang?” tanya papah yang melihat kedatangan ku. Aku pun menghentikan langkahku
“dari rumah iza” kataku datar
“gak baik anak gadis main ke rumah laki-laki sampai selarut ini. Kamu ngerti etika gak sih?” kata mamah ikut membentak
“mamah ngerti apa tentang etika? Kalu mamah punya etika mamah ga akan mungkin selingkuh!” aku memberanikan diri melawan
“tuh pah liat anak kamu, dia sudah berani mencaci mamahnya sendiri!” mamah berbalik menyalahkan papah.
“yang ngurusin di rumahkan mamah, ini kesalahan mamah.” Bentak papah
“CUKUP!” kataku berteriak. Mereka pun akhirnya berhenti bertengkar dan melihat ke arahku.
“bisa gak sih rumah ini tenang sehari aja. Aku capek mah, pah. Aku malu liat mamah yang kerjaan nya selingkuh. Aku bosan liat papah yang selalu sibuk dengan urusan kantor dan tempramental. Aku malu punya orang tua seperti kalian!!”
Plaaaaakkk
Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku memegangi pipiku yang terasa perih. Ku usap ujung bibirku, ada sedikit darah yang menetes dari ujung bibirku. Aku pun menatap papah dingin, kemarahan itu memuncak begitu saja.
“tamparan ini akan selalu aku inget pah, dan aku gak akan biarin tangan kotor papah itu menyentuh pipi ku lagi!” kataku penuh kemarahan
“kamu.....” papah hendak menamparku lagi, namun mamah mencegahnya.
Aku pun berlari meninggalkan mereka, dan terisak.
Iza POV “ cahaya periku meredup “
I
’m Arnandi ihza mulyadi, 10 grader of BINUS Serpong. Hidupku begitu sempurna dan aku bahagia dengan hidupku. Terlebih karena aku mempunyai seorang gadis yang sangat aku sayangi, utami. Dimataku, dia sangat cantik, baik dan pintar. Dia gadis yang ceria dan humoris. Senyum dan tawanya selalu melekat di bibirnya setiap harinya.
Namun itu dulu, sebelum orang tuanya sering bertengkar dan bercerai. Senyuman yang dulu tampak indah itu kini sama sekali tak tampak di parasnya.
Kau tau apa yang ku rasakan? Hatiku menjerit, jiwaku menangis. Bagaimana tidak? Peri yang dulu selalu tersenyum riang itu kini selalu menangis. Tangisnya membuat hatiku teriris, dan aku bersumpah aku akan membuat senyuman itu tampak lagi. Aku yakin, utami adalah gadis yang kuat. Dia pasti bisa melewati ini semua, dan aku tak akan pernah meninggalkannya.
Aku duduk di gazeboo sekolah pagi ini. Tiba-tiba datang seorang gadis yang kemudian memelukku erat sambil menangis. Tuhan..... jangan biarkan tangisan ini terus menghiasinya.
Ku tatap lembut wajah sendunya, tampak luka memar di wajahnya. Kenapa lagi ini? Apa yang terjadi padanya? Belum cukupkah kau membuatnya tersiksa tuhan?
“kamu kenapa?” tanyaku sambil memeriksa ujung bibirnya
“auuuuw” katanya kesakitan karena aku menyentuh bagian lukanya
“kamu kenapa?” tanyaku lagi
“papah tampar aku za” katanya di iringi tangis.
Aku pun memeluknya erat sambil mengusap lembut kepalanya. Rasanya hatiku menjerit melihat lukanya.
“aku ga kuat tinggal di rumah za, aku mau tinggal sama kamu aja!” kata utami sambil terus menangis di pelukanku
“kita ga bisa tinggal bareng sayang, itu akan jadi masalah buat kita!”
“kalo gitu aku tinggal di kontrakan aja, aku gamau tinggal di rumah” rengeknya
“hey sayang, itu bahaya buat kamu. Aku gak akan biarin kamu lakuin sesuatu yang bahayain diri kamu sendiri.!!” aku pun berusaha menasehatinya
“aku ga kuat tinggal di rumah za... aku capek!!” tangisnya pecah
“kamu ga boleh kaya gitu, kamu ga boleh lari dari masalah. Suatu saat nanti semuanya pasti akan kembali seperti dulu lagi!!”
Utami hanya diam, sampai kapan dia akan seperti ini tuhan?
Hari berlalu, aku tak menemukan utami di sekolah. Menurut teman-temannya dia tidak masuk sekolah. Kemana dia? Tak seperti biasanya dia seperti ini.
Aku pun mencarinya hingga aku sampai di danau tak jauh dari kompleks utami tinggal. Aku melihatnya di sana, aku berdecak lega karena dia tak melakukan hal-hal yang aneh. Aku pun menghampirinya yang tengah duduk di bawah pohon.
Setelah dekat, aku melihat keanehan di wajahnya. Dia pucat dan tampak menggigil, dia sedikit pilek. Akupun duduk di sampingnya dan menatapnya lembut.
“kamu kok ga masuk sekolah?” tanyaku lembut. Tapi utami tak menjawabnya.
“kamu kenapa sayang, sakit? Ga biasanya kamu kaya gini?” tanyaku lagi sambil mengusap lembut kepalanya.
“aku ga apa-apa, jangan ganggu aku bisa gak sih? Aku capek kamu awasin terus!!” katanya membentak sambil menepis tanganku.
Utami lalu pergi meninggalkanku, jalan nya sedikit tak seimbang. Ada apa dengannya? Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Tingkahnya seperti orang yang sedang................. . ah tidak mungkin. Utami tidak mungkin memakai barang haram itu. Mungkin dia hanya sedang kalut.
2 hari berlalu sejak kejadian di danau itu. Utami tidak masuk sekolah. Aku mencarinya kemana-mana, namun tak ku jumpai dia bahkan di tempat favorite nya sekalipun. Kemana dia?
Akhirnya aku putuskan untuk ke rumahnya. Walaupun aku tahu, aku pasti akan di usir mamahnya bila ia mengetahui aku datang ke rumahnya. Tapi aku tak perduli, yang aku pikirkan hanyalah keadaan utami saat ini. Aku mengkhawatirkannya.
Aku ketuk perlahan pintu rumahnya. Dengan takut aku mengucapkan salam. Lama aku mengetuk, namun tak ada jawaban. Ku coba memutar handle pintu, tak terkunci. Aku pun memasuki rumah utami perlahan.
Lengang, rumah ini bagai tak berpenghuni. Entah mengapa, namun firasatku mengatakan sesuatu yang buruk. Tuhan, jangan biarkan firasat ini menjadi nyata.
Aku pun bergegas menuju kamar utami yang berada di lantai 2. Setelah sampai di depan pintu kamarnya aku terdiam sejenak. Firasat ini semakin kuat..... aku pun dengan segera membuka pintu kamarnya.
Ku cari dimana keberadaan nya, akhirnya aku menemukannya di sudut kamar.
Tuhan...... nafasku tersekat, mataku terbelalak tak percaya. Benarkah itu dia? Benarkah gadis yang terduduk di sudut kamar itu adalah periku? Tuhan, mengapa seperti ini.
Aku melihatnya tengah menghisap darahnya sendiri yang terus menetes karena ia menggoreskan pisau di nadinya. Ingin ku meyakinkan diriku bahwa itu bukan dia. Tapi, dia memang periku. Dia sakau.
Tanpa pikir panjang aku berlari menghampirinya dan mencegahnya menghisap darahnya sendiri. Kau tau bagaimana perasaanku melihat keadaannya. Ingin sekali rasanya aku menjerit dan menangis, kenapa dia jadi seperti ini.
Wajahnya pucat dan membiru, mungkin karena ia kehilangan banyak darah. Tubuhnya menggigil, matanya berair. Aku pun mendekapnya dan menangis.
“lepasin..... gue mau barang itu. Gue butuh sekarang..!” katanya meronta.
Tanpa pikir panjang aku segera membawanya ke rumah sakit. Darahnya bisa habis jika tak segera di hentikan.
Cemas, aku menunggunya di ruang ICU. Kemana para dokter yang menanganinya? Kenapa belum ada yang keluar juga? Tuhan... selamatkan dia.
Akhirnya dokter yang memeriksa utami pun keluar. Aku segera menghampiri nya dan menanyakan keadaan utami.
“Sedikit terlambat membawanya kesini mungkin dia akan kehilangan nyawanya. Obat-obatan terlarang itu sudah menyebar di dalam tubuhnya. Saya sarankan agar utami segera di rehabilitasi setelah keluar dari rumah sakit” ucap dokter
“baik dokter, saya akan melakukan segala hal demi kesembuhannya” aku berucap lega. Terima kasih tuhan, kau telah menyelamatkan nya.
Aku pun menghampiri utami dan menggenggam tangannya lembut. Dari mana kamu mengenal barang haram itu? Kenapa kamu melakukan hal sejauh ini?
Tak lama utami tersadar. Tatapan matanya lemah.
“kenapa kamu pakai obat-obatan itu?” tanyaku lembut. Namun utami hanya diam, matanya mulai berkaca-kaca.
”kamu mau buat aku jantungan? Kamu mau liat aku cemas? Kenapa kamu bahayain diri kamu sendiri? Dari mana kamu dapat barang haram itu?” nada suaraku mulai mengeras. Namun utami tetap diam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
“jawab pertanyaan aku! Kenapa sampai sejauh ini sayang? Apa kamu gak percaya lagi sama aku, apa aku udah ga berarti lagi buat kamu?” aku membentak. Air matanya mulai menetes
“maafin aku za, Cuma dengan itu aku bisa ngelupain semua masalahku!” akhirnya utami menjawab. Suaranya sangat lemah dan nyaris tak terdengar.
Aku pun memeluknya, dan menenangkannya. Dia menangis. Aku menyesal tlah membentaknya tadi.
“kamu harus janji sama aku, kamu harus lepas dari obat-obatan terlarang itu. Aku akan selalu ada buat kamu” ucapku. Utami hanya mengangguk sambil terus menangis. Aku bersumpah, aku akan membuatnya lepas dari barang haram itu!
Utami POV “aku tak bisa lepas dari obat itu”
S
etelah 3 hari aku dirawat di rumah sakit akhirnya aku di perbolehkan pulang. Aku tak ingin berlama-lama lagi di rumah sakit. Aku rindu udara di luar sana, walaupun sekarang hidungku tak peka lagi akibat obat-obatan terlarang itu.
Iza membawaku ke rumah saudaranya yang ada di puncak atas permintaan ku. Aku tak ingin kembali ke rumah, aku melarang iza agar ia tak memberitahukan keadaanku pada orang tuaku. Aku ingin lepas dari mereka.
Udara disini sangat sejuk, aku sangat merasa damai disini. Aku akan tinggal disin bersama bi minah, pembantu kelurga iza yang mengurusi rumah ini. Iza bilang aku akan di rehabilitasi disini. Sejujurnya aku ingin sekali bisa sembuh. Tapi entah, aku tak yakin bisa lepas dari obat jahanam itu. Bantu aku untuk lepas darinya tuhan....
“besok aku kesini lagi, aku mau ke Jakarta dulu buat ngurusin rehabilitasi buat kamu. Kamu baik-baik ya sayang, kalo udah selese aku cepet-cepet balik lagi”
Kata iza, aku hanya menganggup dan tersenyum kecil padanya.
Perlahan, mobil yang di tumpangi iza menghilang dari pandangan mataku. Cepat kembali ya za, aku takut akan terjadi lagi saat kamu tak ada disini.
Malam hari, aku membenamkan tubuhku dengan selimut. Udara malam hari disini memang dingin. Tiba-tiba saja rasa dingin ini semakin menjadi-jadi. Aku menggigil hebat. Aku tau, kekhawatiranku terjadi. Aku harus bisa menahannya, aku gak boleh buat iza kecewa lagi.
Ku coba pejamkan mataku, namun tak berhasil. Seluruh tubuhku terasa sakit, tulang-tulangku terasa nyeri. Sungguh, ini sangat menyakitkan. Tuhan, aku tak bisa bertahan!!!
Semua pertahanan yang ku bangun roboh, rasa sakit ini mengalahkan segala yang ku pertahankan, aku tak bisa terus begini, namun dimana aku bisa mencari obat-obatan itu?
Tanpa pikir panjang aku mencari pisau, gunting, ataupun sejenisnya. Dengan tubuh menggigil aku mengobrak-abrik seluruh isi kamar. Lemari, meja, laci, semuanya ku geledah. Akhirnya aku menemukan cutter di laci.
Hatiku terasa lega, namun ada tekanan yang seakan melarangku mengambil cutter itu, ingatan tentang iza. Ku coba kembali sadar, namun aku tak berdaya, rasa sakit ini semakin hebat, tulangku bagaikan di patahkan. Sakit!
Kemudian datang bi minah yang mendengar suara kegaduhan di kamarku, ia terbelalak kaget melihatku tengah memegang cutter. Dia mencoba menangkapku, namun aku mencoba menghindar. Tak ada satupun yang bisa menghalangi aku, aku harus menghentikan sakau ini. Jika tidak, aku bisa mati karena kesakitan.
Bi minah berhasil menangkapku, aku meronta dan berteriak. Dalam batinku, aku tak ingin seperti ini. Tapi obat-obatan yang telah mengalir dalam darahku itu memaksaku untuk melakukan semuanya.
Dia mengikat tangan dan kaki ku dengan kencang. Aku semakin meronta dan berteriak histeris. Namun bi minah diam saja, dia tak melepaskan ikatan nya.
“lepasin bi, lepaaas!! Aku harus dapetin barang itu, sakit bi!”
“maaf neng, ini semua perintah dari mas iza”
Dengan wajah tak tega, bi minah meninggalkanku di kamar dalam keadaan tangan dan kaki terikat. Ia mengunci pintu dan meninggalkanku sendiri, berteriak, merintih, kesakitan!
Tuhan…… aku tak bisa lepas dari obat itu………
Iza POV “jangan seperti ini”
T
elepon dari bi minah semalam membuat pikiranku kacau. Pagi-pagi buta, aku langsung memacu mobilku dengan kencang. Pikiranku kalut, seharusnya aku tak meninggalkannya.
Akhirnya aku pun sampai di puncak, aku segera masuk kedalam rumah.
“semaleman dia ga berhenti berteriak dan menangis mas” kata bi minah setelah aku sampai
Aku pun segera menuju kamar utami. Pintunya masih terkunci sejak semalam, aku pun memutar kuncinya dan membuka pintu dengan tergesa-gesa.
Jleb… bagaikan pisau yang tengah mengiris hatiku. Miris sekali melihat keadaan utami sekarang, sangat menyakitkan melihat dia, orang yang sangat ku cintai menggelepar di lantai dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat.
Aku segera mendekatinya, ia masih berusaha meronta dengan sisa-sisa tenaganya. Ia sangat lemah. Matanya berair dan mengantung, bibirnya pucat pasi. Tak tega, aku pun segera melepaskan ikatannya dan memeluknya.
“kamu tega za, aku sakit!” katanya dengan lemah dan parau
Hatiku menangis. Aku tak bermaksud setega itu padanya, aku hanya ingin dia tidak merasakan sakit yang lebih dari ini. Ku lihat pergelangan tangan dan kakinya, memar dan lecet. Mungkin karena ia selalu meronta hingga tangan dan kakinya luka-luka.
“maafin aku ut, ini semua buat kebaikan kamu” jawab ku. Tak ada niatan untuk membuatnya kesakitan.
Tanpa menunggu lebih lama lagi aku membawa utami ke tempat rehabilitasi. Aku menggendong tubuhnya yang lemah menuju mobil dan sesegera mungkin memacu mobilku.
Tak beberapa lama kami sampai di tempat rehabilitasi.
Para dokter yang ada disana langsung memasangkan jarum infuse dan memberikan obat. Mereka memang bukan dokter, mereka adalah orang-orang yang ahli dalam menangani para pengguna narkoba. Tapi aku bingung menyebut mereka apa.
Lalu seseorang dokter mengajakku menuju ke ruangannya, mungkin ada sesuatu yang akan ia bicarakan padaku entah apa itu. Yang pasti, aku mengharapkan berita baik darinya, bukan berita buruk.
“utami harus segera di detoks, kami akan segera menyiapkan ruangan untuk masa detoksifikasi”
“lalu apa yang harus saya lakukan?”
“untuk sekarang ini yang bisa anda lakukan hanya menemani dia dan mensupport dia saat detoks nanti, karena ia pasti akan merasa sangat kesakitan pada saat di detoks”
“baiklah, saya akan melakukan apapun agar dia sembuh”
Pembicaraan kami berakhir, aku pun keluar dari ruangan dokter itu dan menuju ruangan dimana utami terbaring lemah.
Aku duduk disampingnya, kutatap wajah sayu itu lalu ku genggam erat tangannya yang kini dipenuhi selang infuse.
“kamu pasti kuat, kamu pasti bisa! Ada aku disini yang gak akan pernah ninggalin kamu” ujarku lirih
Utami terbangun dan menatapku yang tengah mencium punggung tangan nya sambil menangis.
“kamu kenapa za?” tanyanya dengan lemah
“kamu harus janji sama aku, kamu harus kuat ya sayang. Sesakit apapun nanti, kamu harus kuat. Demi aku!” aku berkata lirih. Aku menangkap rasa pilu di ekspresi wajah utami.
“aku akan bertahan sekuat mungkin, untuk kamu!” katanya menegaskan. Air mataku kembali jatuh. Tuhan, akhiri semua pilu ini!
Saat detoksifikasi pun tiba, utami di bawa ke ruangan yang di khususkan untuk detoks. Semua benda yang ada didalamnya pun tak ada yang tajam dan berbahaya. Piring dan gelasnya pun dari plastik.
“kamu harus siap, masa ini sangat berat!”
Kata dokter memperingatkan aku, tubuhku langsung terasa lemas membayangkan utami nanti akan menangis kesakitan. Ku coba menyemangati diriku, aku pasti bisa, kamu pasti bisa kuat iza!!! Demi utami!!
Hari pertama detoks, semuanya berjalan lancer. Tak ada tanda-tanda bahwa utami akan merasakan reaksi sakit atau apapun. Untuk sementara aku dapat bernafas lega.
Hari kedua, semua kembali berjalan lancar. Tapi tidak untuk malam hari, utami mulai menggigil hebat dan mengeluarkan keringat dingin. Matanya mulai berair. Sanggupkah aku melihat dia kembali sakau?
Aku mendekapnya erat, aku seperti ikut merasakan sakit yang ia rasakan.
“dingin zaaaa, sakit!!!” teriak utami.
Aku menangis mendengar rintih nya, tapi aku bisa apa? Andai bisa, aku rela jika sakit itu aku yang merasakannya, bukan dia!
Semakin larut malam, utami semakin parah. Ia semakin memberontak dan berteriak histeris. Ia terus-terusan meminta obat terlarang itu. Aku berusaha menahannya sekuat tenaga, berusaha terus menjaganya dalam pelukanku. Aku tak ingin dia kembali melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Utami pasti merasa sangat kedinginan, ia pasti merasakan tulang-tulangnya nyeri dan seolah patah, ia pasti merasa kesakitan! Aku mohon…… jangan seperti ini sayang, aku tak bisa melihatmu seperti ini!!
Utami POV “ahiri saja bila memang seharusnya”
S
udah tiga hari aku di detoks. Tampaknya iza sangat kelelahan, ia tak pernah pergi dari sisiku. Ia terus menjagaku siang dan malam sehingga dia kurang tidur dan ku rasa dia sangat kelelahan. Aku khawatir dia akan terjatuh sakit bila terus seperti ini.
Detoks, pengeluaran racun dari dalam tubuh. Semua proses ini melelahkan dan sangat menyakitkan. Aku ingin menyerah saja rasanya, aku lelah!
Namun aku selalu berusaha bertahan, hanya demi iza! Tapi, aku hanya menyusahkannya saja. Dia sampai kelelahan seperti ini karena aku.
Lalu untuk apa aku bertahan dan sekuat tenaga melawan rasa sakit ini bila akhirnya aku hanya membuat iza sakit? Untuk apa aku hidup jika selalu membuat iza susah? Bukankah alasan ku untuk sembuh adalah untuk membahagiakan iza? Tapi nyatanya aku hanya membuatnya sakit!!
Hari ini aku memaksa iza untuk bed rest. Awalnya ia menolak, tapi aku tak akan membiarkan ia terjatuh sakit.
“aku mau jagain kamu ut”
“aku mohon za, aku pasti akan baik-baik saja. Istirahatlah, aku tak ingin melihat kamu sakit karena itu akan membuat aku semakin lemah!” bujukku.
Akhirnya iza pun menurut. Ia lalu pergi ke kamar tamu dan tak lama terlelap. Aku mendekati iza yang sedang tertidur lelap, aku tatap wajahnya yang kelelahan.
“aku sayang kamu za, biarkan aku mengakhiri jika memang seharusnya begitu”
Ucapku lirih, aku lalu mencium kening iza, air mataku jatuh. Lalu aku pergi dari kamar iza.
Akhirnya malam tiba, malam adalah waktu yang paling berat untukku. Aku pasti akan kembali merasakan sakit. Tak berlangsung lama, aku mulai merasakan nyeri di persendian tulangku. Aku mencoba menahan sakitnya.
Ku lihat secarik kertas berwarna biru di atas meja, aku menganmbilnya dan mulai menggoreskan pena.
Semakin lama rasa sakit ini seakin menjadi-jadi. Aku tak sanggup menahannya tuhan!!
Aku mulai gelisah dan kedinginan. Otakku mulai buntu, aku tak bisa memikirkan pertahanan yang telah ku buat selama ini untuk sembuh. Otakku kacau. Yang ada dalam pikiranku saat ini hanya bagaimana cara menghentikan rasa sakit ini. Dan satu-satunya cara hanyalah dengan obat itu.
Aku  tak bisa mendapatkan obat itu……………… aku kalut……………
Aku berusaha memecahkan kaca dengan apa saja yang ada di sekitarku. Dan akhirnya, aku berhasil memecahkannya. Aku mengambil sebongkah……………………
Pikiran gila ini tak terkendali lagi, aku langsung menggoreskan nya ke nadi ku dan menghisap darah yang keluar darinya. Setidaknya, aku sedikit merasa tertolong. Rasa sakit ini sedikit banyak mulai menghilang. Namun pandanganku mulai tak beraturan, penglihatanku kabur. Aku merasakan pusing yang teramat sangat.
“memang seharusnya ini berakhir za, aku sayang kamu”
Ucapku lirih dengan sisa-sisa tenaga yang ku miliki.
Dan akhirnya, semuanya gelap…………………………
Iza POV “bukan seperti ini akhir yang ku inginkan”
A
ku terbangun saat tiba-tiba seorang perawat membangunkanku dengan tergesa-gesa. Dengan setengah kesadaran aku mendengar ia berkata.
“mas iza, utami sakau lagi. Dia………dilarikan kerumah sakit karena menghisap darah lagi”
Aku terkejut dan terbelalak kaget. Semua lelah yang kurasakan hilang, yang aku pikirkan saat ini hanya keadaan utami saat ini. Aku sesegera mungkin menuju rumah sakit.
Cemas… aku segera memasuki ruang IGD.
“Dia kritis dan kehilangan banyak darah… “ ucap dokter yang telah selesai memeriksa utami
Aku pun langsung menghampiri utami yang terbaring lemah sementara dokter dan yang lainnya keluar dari ruangan.
Aku pun duduk disampingnya dan menggenggam tangannya. Dingin…… tangannya terasa begitu dingin. Ia kehilangan banyak darah…
“maafin aku sayang, harusnya aku gak ninggalin kamu. Harusnya aku tetap jagain kamu, ini semua salahku!” tuturku. Namun apakah utami bisa mendengarnya?
“kamu harus kuat… demi aku! Kamu harus bertahan, ingat janji kamu! Kamu harus sembuh!”
Aku terus berkata-kata. Namun apakah di alam bawah sadar ia dapat mendengar suara-suara ku? Apakah dia bisa mendengar kata hatiku?
“aku mohon… bangun sayang!! Aku ga bisa hidup tanpa kamu, kamu nyawa hidupku!!” rintihku.
Aku melihat air mata yang menetes dari ujung mata utami. Dia mendengarku… ya, dia bisa mendengarkan apa yang aku utarakan.
Tiba-tiba saja nafas utami tersengal, detak jantungnya memacu cepat lalu melemah. Aku panik, tak tau lagi apa yang harus ku lakukan..
Aku langsung menekan tombol darurat. Dokter memasuki ruangan dan segera memeriksa keadaan utami. Dokter langsung mengambil alat pacu jantung… dan sesaat kemudian…….
Tuhaaaan…........ alat pendeteksi jantung itu berdengung. Dokter mulai menghentikan segala aktivitasnya. Jantungku langsung berpacu cepat. Tuhan… tolong aku!!
Dokter lalu menghadap kearahku yang tengah panik lalu ia menggeleng lemah.
“maaf, dia tak bisa lagi di selamatkan…” ucap dokter itu pelan
Tangisku pecah, sekujur tubuhku terasa lemah. Rasanya aliran darahku berhenti mengalir. Aku langsung memeluk tubuh utami yang mulai dingin.
“kenapa kamu pergi sayang……!!”
Aku berteriak histeris, bukan ini akhir yang ku inginkan. Kenapa harus seperti ini? Kenapa kau mengambilnya tuhan??
Dan semua terasa pudar di mataku, gelap………… dan aku terjatuh.
<skip>
@pemakaman
K
u tabur bunga di atas pusaran tanah yang masih merah itu. Kini ia tlah terbaring disana, dengan sangat tenang. Ia tak akan lagi merasakan sakit, ia tak akan lagi tersiksa!
Ini bukan akhir yang seharusnya sayang…! Setelah perjuangan kamu selama ini, kenapa kamu harus menyerah? Kenapa kamu tega ninggalin aku?
Ku bersimpuh dengan tangis di samping batu nisan yang kini tertuliskan namanya, nama orang yang sangat ku sayangi. UTAMI!!!
Tiba-tiba seorang perawat di rumah rehabilitasi itu menghampiriku dan memberikan selembar kertas berwarna biru.
“ini saya temukan di meja kamar utami mas…” katanya. Ia pun lalu pergi
Perlahan ku buka lipatan kertas itu. Tangisku pecah melihat banyak bercak darah di kertas itu. Aku mulai membacanya
            Hey sayang… maaf aku sekarang ga bisa hapus air matamu. Jangan menangis seperti itu sayang…… aku tau, pasti saat ini air mata itu tengah mengotori pipimu. Tersenyumlah sayang, untukku!
Saat ku tuliskan ini, aku tau, aku pasti akan sakau nanti malam. Aku tak ingin mengganggu tidurmu yang sangat tenang itu. Aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika nanti kamu jatuh sakit karena terus menerus menjagaku.
Bukankan alasan kenapa aku harus sembuh adalah kamu? Bukankah semua usaha yang ku lakukan hanya untuk kebahagiaan kita? Tapi nyatanya!!! Semua usaha itu membuat kamu kelelahan dan membuatmu hampir jatuh sakit.
Za, aku tak akan menghendaki dan merelakan kamu sakit walaupun itu untuk kesembuhanku. Biarkan aku berada di jalan yang seharusnya aku lewati. Biarkan aku mengakhiri semua ini jika ini memang seharusnya. Biarkan aku mengakhiri semua sakit yang aku rasakan. Relakan aku za!
Percayalah za, aku akan bahagia disana nanti. Aku akan tenang disana. Dan yang pasti, aku tak akan menyusahkanmu lagi. Aku tak akan membuatmu cemas dan khawatir lagi. Aku tak akan membuat air matamu itu menetes terus menerus.
Sayang, setelah kamu baca ini. Jangn pernah teteskan air matamu lagi. Jangan nyanyikan lagu-lagu yang sedih untukku. Jangan biarkan ingatanmu tentangku membuatmu sedih. Kenanglah semua impian kita… tanamlah mawar di dekat batu nisanku. Mawar putih kesukaan ku, mawar putih yang selalu kau berikan untukku.
Untuk semua hal yang kita lalui bersama, untuk semua kenangan dan tawa, untuk cinta yang tak pernah aku biarkan mati. Hapus air matamu dan Tersenyumlah untuk semua itu.
Aku menunggumu di alam yang baru……
Ku tutup lembaran kertas berwarna biru itu. Air mataku semakin mengalir. Aku memang harus merelakan nya, aku tak boleh egois. Dia akan merasa bahagia disana, tidak kesakitan seperti disini.
Ku ambil buket mawar putih yang ku bawa lalu ku letakkan di atas nisannya.
“jika memang waktuku cukup, akan ku penuhi pemakaman mu ini dengan mawar putih sebelum aku menyusulmu.” Ucapku berbisik ke dekat batu nisannya.
Perlahan aku berdiri, ku tatap sejenak nisan itu. Aku akan kembali sayang… kita akan selalu bersama.
Ak pun mulai beranjak dan menaiki mobil ku. Ku hidupkan mesin mobil itu, lalu ku pacu dengan tak beraturan
Aku berusaha untuk mengikhlaskannya, tapi nyatanya! Aku hanya membohongi diriku sendiri. Sampai kapanpun aku tak bisa merelakannya pergi.
Pikiranku kacau, tatapan mataku tak beraturan, setir yang ku pegang pun tak terkendali. Tanpa kusadari sebuah mobil truk melaju cepat di depanku.
Mendekat…. Dan akhirnya……
Aku menunggumu di alam yang baru…… kata utami di akhir suratnya
“aku akan segera menyusulmu sayang, aku akan segera datang. Tunggu aku!”
Ucapku lirih dengan sisa-sisa tenaga yang ku miliki. Dengan darah yang mengotori sebagian wajahku, aku dapat tersenyum lega.
“ku kira lama akan menyusulmu, tapi aku bahagia… aku akan segera datang”
Pandangan mataku memudar, dengan tenang aku menghabiskan sisa nafasku dengan tersenyum. Dan gelap………………………………….
Aku merasa sesosok malaikat membawaku ke suatu tempat. Tempat yang sangat indah dan terang benderang. Semua benda di sekelilingku berwarna putih. Lalu aku melihatnya… dia memakai gaun indah berwarna putih bersih… lalu ia menghampiriku.
“tak ku kira secepat ini kau menyusulku. Aku sayang kamu iza!”
“dan aku bahagia secepat ini bertemu lagi denganmu sayang….!”
Lalu aku memeluknya erat. Tak akan pernah ku lepaskan ia lagi, karena kini… kita tlah berada di keabadian…
END